Cannabis Sativa: Mengenal dan Menilik

Baca Ganja – Artikel berjudul Cannabis sativa ini merupakan sebuah karya tulis dari pengamat sejarah dan budaya, P Wilson Silaen, dari forum Sisingamangaraja XII Medan, Sumatera Utara. Semoga literasi edukasi ini dapat membuka wawasan.

Cannabis Sativa

Ganja yang istilah farmakologinya Cannabis sativa, adalah jenis tumbuhan yang hidup di semua iklim di muka bumi. Jika di wilayah tropis digolongkan tumbuhan semak, karena yang dimanfaatkan adalah zat inti dari unsur ekstraknya, yang terdiri dari 10 zat inti, yang disebut Cannabigerol (CBG), Cannabichromene (CBC), Cannabidiol (CBD), A-9- Tetrahydrocannabinol (A-9-THC), A-8-Tetrahydrocannabinol (A-8-THC), Cannabicyclol (CBL), Cannabielcoin (CBE), Cannabinol (CBN), Cannabinodiol (CBND), dan Cannabitriol (CBO).

Sedangkan di wilayah sub-tropis ia digolongkan tumbuhan pohon, karena yang dimanfaatkan adalah unsur seratnya. Sementara kelompok canabinoid yang memiliki zat, molekul psikoaktif, yang mengakibatkan si pengkonsumsi bisa terbius adalah A-9-Tetrahydrocannabinol (A-9-THC).

Ganja sebagai Bahan Pengobatan di Dunia

Di berbagai budaya dan peradaban manusia purba masih terdapat jejak-jejak peninggalan sejarah yang mengisahkan manfaat ganja sebagai bahan medica — untuk mendukung kesehatan manusia.

Di Wilayah Asia Timur

Sementara seratnya dijadikan bahan baku pembuatan kertas, kain, dan layar kapal, termasuk tali. Kitab “Pen T’sao Cing” Tiongkok kuno — salah satu kitab pengobatan tertua di dunia — yang adalah kumpulan catatan Kaisar Shen Nung 2900 SM, menyebutkan kegunaan Cannabis sativa sebagai tanaman pengobatan yang dapat menghilangkan penyakit datang bulan pada wanita, gangguan kehamilan, malaria, rematik, penyakit lupa, dan gangguan pencernaan.

Sekitar 500 tahun SM, Bangsa Tibet telah memanfaatkan Cannabis sativa sebagai obat penyakit kulit, bisul, luka luar, flu, sakit pada telinga, reumatik, cacingan, hingga TBC.

Di Wilayah Asia Barat

Selama 50 tahun Reginald Campbell Thompson (1876 – 1941) menghabiskan masa hidupnya di Mesopotamia dan Timur Tengah dalam upaya melakukan penelitian tentang Cannabis sativa. Dari 660 macam bentuk tablet-tablet dari tanah liat yang ditemukannya, di Kouyunjik (Irak).

Ia menginformasikan adanya pemanfaaatan ganja sebagai bahan pengobatan — mulai dari batang, biji, daun, hingga bunganya — yang diresepkan untuk keperluan penyakit; insektisida, impoten, mensturasi, neuralgia, penyakit ginjal, penyumbatan paru-paru, epilepsi, kecemasan, depresi, obat luka dan memar, termasuk tonik — penyegar.

Pada zaman Persia kuno (abad ke-6 SM), biji ganja juga dikenal sebagai makanan sajian yang disebut sahdanak (shahdaneh). Sahdanak biasanya disajikan dalam bentuk kue, yang menurut ilmuwan Jerman, Immanuel Low, 1926, orang-orang Persia kuno telah mengenal biji ganja sebagai makanan yang dapat memberikan kesehatan maupun vitalitas.

Di India

Selain salah satu dari lima tanaman suci — dalam Kitab “Atharva Veda” Hindu — bangsa India telah menggunakan ganja sebagai obat insomsia, migrain, gangguan pencernaan, hilangnya nafsu makan, kesulitan berbicara, hingga kesedihan. (Baca selengkapnya sejarah ganja di India disini)

Di Wilayah Arabia

Ibn Masawayh, 857 M, dokter Arabia pertama yang menyatakan kegunaan medis ganja dalam Literature Pengobatan Arabia. Ia menyebutkan minyak biji ganja — bila diteteskan — dapat menyembuhkan sakit di telinga yang disebabkan oleh kelembaban (rutuba).

Di abad ke-9, “Al-Dima,” adalah penulis Arab pertama yang menyebutkan fungsi Cannabis sativa sebagai obat cacing, karena tanaman ganja memiliki sifat “vermisidal dan vermifugal” yang punya kemampuan membunuh cacing (al-didan), cacing kremi atau habba-qar (ascaris) maupun parasit.

Dalam catatan ilmu pengobatan yang bernama “Al-Aqrabadhin Al-Saghir,” yang merupakan dokumen farmakologi pertamadi dunia Arab, menegaskan manfaat Cannabis sativa untuk mengobati sakit kepala, migrain, mengurangi sakit pada rahim, mencegah keguguran, dan menjaga janin tetap berada dalam abdomen ibunya.

Sedangkan ekstrak dari bijinya dapat menambah produksi “Air Susu Ibu” sekaligus menyembuhkan sakit amenorrhea, (Dr. Indalesio Luzano, Universidad de Granada, Spanyol). Dan salah satu catatan medis bangsa Arab — mengenai kegunaan ganja yang belum pernah muncul sebelumnya pada pengetahuan kedokteran bangsa-bangsa lain — ialah, ganja terbukti punya kemampuan ajaib dalam membunuh sel-sel tumor, (Ibn Buklari & Ibn-al-Baytar, abad 11 M).

Baca juga: Sejarah penggunaan ganja di Zaman Kejayaan Islam

Di Mesir

Papirus Ebers — dokumen tertua Mesir, 1550 SM — yang ditemukan George Ebers menyebutkan, di zaman Mesir kuno keberadaan tanaman Cannabis sativa sebagai sumber serat dan obat-obatan telah dimanfaatkan bangsa Mesir. Papirus merupakan kumpulan dari dokumen-dokumen ilmu pengetahuan pengobatan terlengkap Mesir kuno yang masih bertahan hinga kini.

Sementara itu, hasil penelitian para ilmuwan lainnya, seperti Mannische (1989), Ghalioungui (1987), Charpentier (1981), Von Daines & Grapow (1959), Faulkner (1962) dan Dowson (1934), juga menyebutkan bahwa di zaman Mesir kuno ganja telah populer dipergunakan sebagai obat-obatan.

Termasuk catatan-catatan cara pemakaiannya, yang terdiri dari berbagai macam, seperti dimakan, dimasukkan melalui dubur maupun kemaluan wanita — untuk pengobatan vagina — serta dibakar dan dihisap. Catatan-catatan tersebut tertera pada beberapa piramida yang berasal dari masa 3000 tahun SM, yaitu pada makam Akhenaten (Amenophis IV) yang berumur 1350 SM, serta makam Ramses II yang meninggal 1224 SM.

Di Yunani

Kemudian perdagangan ganja — sebagai sumber serat — di masa Yunani kuno, bukan hanya untuk kebutuhan bahan kain atau pakaian saja, akan tetapi untuk keperluan Armada Laut. Dimana sejarah telah membuktikan, bahwa serat ganja memiliki peran penting dalam perkembangan Armada Laut Yunani masa lalu, di Eropa (tertera dalam catatan sejarah, Raja Hiero II, 270-15 SM). Dan pertama kalinya ganja disebutkan dalam sebuah “Pharmacopoeia” — buku pengobatan Yunani — ialah pada tahun 1837.

Sementara ahli pengobatan abad 1 SM, bernama Pedacius Dioscorides di Imperium kerajaan Romawi kuno, yang berdiri 753 SM, menyatakan ganja termasuk dari 600 kumpulan tanaman herbal yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Catatan-catatan Dioscorides diterbitkan pada tahun 70 M, dengan judul De Materia Medica. (Baca juga pengetahuan ganja medis Yunani Kuno disini)

Materia Medica menjadi buku terkenal hingga diterjemahkan ke berbagai bahasa. Selama 15 abad Materia Medica menjadi referensi penting bagi para ahli pengobatan, dan tidak ada perpustakaan besar di dunia yang dianggap lengkap tanpa satu salinan Materia Medica.

Dioscorides pun menyebutkan ganja sebagai tanaman yang serat batangnya benar-benar sempurna dan kuat untuk dibuat tali. Sedangkan bijinya bermanfaat untuk mengobati sakit telinga dan hilangnya gairah seksual, (Dioscorides, 1968-3.165-hlm.390).

Pengetahuan Ganja Medis Yunani Menyebar ke Romawi

Claudius Aelius Galenus yang dikenal sebagai ahli pengobatan Yunani kuno bekerja pada kekaisaran Romawi (128-201 M), yang disebut juga sebagai bapak fisiologi dan pengobatan dalam, mengatakan bahwa ganja berfungsi baik menghilangkan gas pada saluran pencernaan dan rasa sakit di tubuh.

Gaius Plinius Secundus yang juga dikenal sebagai Pliny Si Tua (23-79 M), dalam karya besarnya “Naturalis Historia” menyebutkan kegunaan ganja dalam pengobatan. Menurut Pliny, yang juga berasal dari Yunani, jus ganja dapat mengeluarkan cacing dan binatang-binatang kecil yang masuk ke telinga, menghilangkan rasa sakit di perut, dan rebusan akarnya dapat mengobati persendian yang kaku, rematik maupun luka pada kulit.

Ternyata dalam berbagai bentuk, ganja ditemukan juga di berbagai wilayah bekas jajahan Romawi masa lalu, seperti tali dari serat ganja, di Dunbartonshire, Inggris, di Skeldergate, Medieval Pits, dan Watercourse di Sewer Lane, New York, (140-180 M).

Di Wilayah Eropa

Di seluruh penjuru Eropa, mulai dari situs-situs di Jerman, Swiss, hingga Rumania, para arkeolog menemukan jejak-jejak adanya tanaman ganja. Jejak-jejak tersebut tertera pada benda-benda yang bentuknya seperti Piala, dimana biji-biji ganja terbakar di dalamnya, serta mangkok Polypod yang diperkirakan berusia 3000 tahun SM, yang memiliki dekorasi tempelan tali tambang dari serat ganja. Dan motif-motif Polypod tersebut juga ditemukan para arkeolog, di Pulau Taiwan.

Bahkan hingga kini biji ganja masih dijadikan santapan umum orang-orang Polandia maupun Lithuania, dalam bentuk sup yang diberi nama Siemieniotka. Sementara di Latvia dan Ukraina, makanan olahan dari biji ganja selalu disajikan pada saat peringatan Three King’s Day.

Di Eropa Timur, berbagai kegunaan ganja dijadikan bahan pengobatan tradisional, sehingga dokter menyarankan para pasien menghirup asap ganja untuk mengusir cacing-cacing di gigi yang terinfeksi, memperlancar proses kelahiran anak, sekaligus mengurangi rasa sakit dan inflamasi, menurunkan demam, dan menyembuhkan ikterus.

Sementara proses percetakan Injil pertama sekali di atas kertas serat ganja dilakukan pada tanggal 23 Februari 1455, di Mainz, Jerman, yang berakhir 3 tahun kemudian. Ini menjadi awal mula perkembangan percetakan buku secara massal di Dunia Barat, yang kemudian menjadi basis berkembangnya ilmu pengetahuan Filsafat, Seni, dan Teknologi.

Sumber-sumber catatan pengobatan yang menggunakan ekstrak ganja di benua Eropa, salah satunya adalah naskah “Österreichische Nationalbibliothek” di Vienna Austria. Naskah tersebut merujuk kepada manuskripnya Codex Vindobonensis 93, yang disebut sebagai sumber catatan pengobatan abad 13, yang berasal dari masa kejayaan Romawi, (Zotter, 1996).

Di Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, selain bahan baku utama industri tali, layar kapal, kain dan bio-diesel, ganja pun dimanfaatkan oleh dunia farmasi sebagai bahan baku utama pengobatan. Laporan WB. O’Shaugnessy dari Royal Academy of Science, tahun 1939, menjelaskan pendalaman fungsi medis ganja justru menjadi pemicu berkembangnya ilmu medis di Eropa.

Adapun nilai keajaiban medis ganja, yang lebih dahulu ditemukan bangsa Eropa, terdengar jauh hingga benua Amerika — yang merupakan pasar potensial obat-obatan berbasis herbal, meski bertentangan dengan FDA di masa itu, yang sekarang disebut WHO.

Dan fakta sejarah itu terang-terangan mencatat bahwa US Pharmacopeia — merupakan sumber referensi medis terpopuler di Amerika — pernah mencantumkan ganja sebagai obat utama lebih dari 100 jenis penyakit maupun gangguan kesehatan. Cantuman US Pharmacopeia tersebut tertera dalam terbitan-terbitan yang diedarkan selama 87 tahun (1850-1937). Dan salah satu fungsi ganja yang sangat menonjol dalam ilmu Kedokteran Amerika pada masa itu sebagai penghilang rasa sakit.

Adapun fakta lain yang paling menakjubkan ialah, berbagai olahan produk farmasi berbahan ekstrak ganja menduduki peringkat pertama, kedua dan ketiga dari seluruh jenis obat-obatan, dan yang paling banyak resepnya dikeluarkan oleh dokter (antara tahun 1842 hingga 1890).

Bahkan hingga tahun 1900 penjualan obat-obatan olahan dari ekstrak ganja mencapai 50% dari total penjualan obat-obatan di Amerika Serikat (Herer, 2007). Di sisi-sisi lain, perusahaan-perusahaan farmasi terkenal pada masa itu banyak sekali beralih produksi ke obat-obatan berbahan ganja — berupa ekstrak — di antaranya Abbott Laboratories, Eli Lily, Parke Davis, Tildens, Brothers Smith dan Squibb.

Studi Ganja di Amerika Serikat

Catatan-catatan penting lainnya yang harus digaris bawahi adalah, selama beberapa dekade obat-obatan berbahan ganja dijual bebas di Amerika Serikat, namun tidak satu laporan pun kasus kematian yang diakibatkan penyalahgunaan maupun overdosis ganja, dibandingkan tingkat kematian akibat overdosis yang disebabkan obat-obatan farmasi legal yang beredar hingga saat ini.

Pada studi kesehatan tentara-tentara Amerika yang ditempatkan di Kanal Panama, banyak sekali tentara-tentara Amerika yang mengkonsumsi ganja, hingga memicu lembaga kemiliteran melakukan studi tentang sifat alami maupun efek dari pemakaian ganja, pada tahun 1916 hingga 1929, yang diberi nama “The Panama Canal Military Study”.

Dimana hasil penelitian menyimpulkan; Tidak ada langkah yang perlu diambil oleh otoritas zona Kanal untuk mencegah atau melarang penjualan dan pemakaian ganja. Riset tersebut dengan tegas menyimpulkan bahwa, tidak ada bukti pemakaian mariyuana dapat menjadi kebiasaan — ketergantungan.

Kemudian beberapa komisi diminta melakukan penelitian mengenai ganja, dan komisi tersebut mengeluarkan kesimpulan bahwa hukuman kriminal terhadap pengguna ganja tidak diperlukan. Adapun komisi yang diminta mengambil kesimpulan tersebut ialah, LaGuardia Report (1944), Shafer Commission (1972), Canadian Government Study (1972), Alaska State Commission (1989), dan California Research Advisory Panel (1989). Dan salah satu komisi yang melakukan penelitian pada tahun 1971 — Shafer Commission — menyimpulkan bahwa, tidak ada alasan untuk mengkategorikan ganja sebagai narkotika (National Commission on Drug Abuse, 1973).

Yang Patut Dipertanyakan

Dari sekian banyaknya kemungkinan-kemungkinan pengembangan Ilmu Pengetahuan medis dan kedokteran, mulai dari Asia, Afrika, Eropa dan Amerika, yang secara intens mamanfaatkan “Molekul dan Reseptor Endocannabinoid,” namun yang sangat mengherankan mengapa hingga saat ini Indonesia masih tetap bersikukuh mempertahankan pendapatnya bahwa, ganja tidak memiliki fungsi medis sama sekali..?

Sebaliknya, materi narasi yang disetir dari berbagai literatur ilmiah maupun akademis ini, dengan tegas dan gamblang memaparkan manfaat dan fungsi tanaman ganja sebagai bahan baku utama farmasi, disamping bahan baku utama pembuatan kertas, kain (pakaian), layar kapal, tali-temali, dan lain sebagainya. Apakah Indonesia pernah mempertimbangkan hal tersebut..?

Sementara berita CNN terkini meliput pernyataan resmi Perdana Menteri Malaysia, Mahatir Muhammad, dimana menghimbau Parlemen Malaysia untuk melakukan revisi atas Undang-undang Narkotika, mengenai fungsi dan manfaat ganja sebagai bahan baku utama farmasi.

Jika upaya tersebut berhasil – terjadi – maka Malaysia adalah negara Asia pertama yang begitu cerdas – mengikuti puluhan negara-negara cerdas lainnya di muka bumi — yang melegalkan ganja sebagai bahan baku utama farmasi, untuk mendukung kesehatan bangsanya. Ee.., ternyata negara Thailand-lah yang lebih cerdas, dimana mendahului Malaysia melegalkan ganja.

Apabila dalam Sejarah Peradaban manusia — diperkirakan 3000 tahun SM — dipaparkan bahwa tanaman ganja telah dikenal dan dimanfaatkan nenek moyang peradaban manusia sebagai bahan baku utama media ritual, sesuai kepercayaan masyarakat purba, termasuk manfaatnya untuk mendukung kesehatan manusia.

Bukankah hal tersebut patut dijadikan pertimbangan demi terciptanya pola pikir objektif generasi millennial ke depan..? Yang artinya, sejak dahulu kala ganja memang telah dikenal, dan akrab dengan peradaban manusia.

Kapan Indonesia Membuka Mata?

Maka dari itu, yang lebih mencengangkan ialah, mengapa hingga saat ini Pemerintahan Republik Indonesia masih tetap ngotot mempertahankan Undang-undang no. 9 tahun 1976, dimana menetapkan GANJA sebagai NARKOTIKA golongan 1..?

Jika hal tersebut sebuah harga mati, pertanyaan utamanya ialah; Apa sesungguhnya yang menjadi landasan utama — dasar utama atau alasan — DPR RI mengetuk dan menetapkan ganja sebagai Narkotika Golongan 1, pada tahun 1976?

Sementara riset dan penelitian lebih konfrehensif tentang itu — mengenai efek maupun bahaya tanaman ganja terhadap kesehatan manusia, termasuk manfaatnya — “baru akan dilakukan kemudian,” tegas aparat BNN serta DEPARTEMEN KESEHATAN beberapa waktu lalu.

Bukankah hal tersebut patut dipertanyakan..!? Atau…, apakah “KACAMATA KUDA” yang disematkan WHO terhadap Aparatur Negara Bangsa ini harus dipertahankan sepanjang masa..!? Bukankah hal tersebut sesuatu yang LUAR BIASA…!?

Maka, Salam Budaya Pintarlah” bagi Bangsa ini..!!

 

Ditulis oleh: P Wilson Silaen
Pengamat Sejarah dan Budaya

Share this not copy
Scroll Up