Cannabinoid Adalah Esensi Dasar Homeostatis dalam Kehidupan

Baca Ganja – Cannabinoid adalah esensi dasar homeostatis (penstabil) dalam kehidupan yang bukan hanya ditemukan dalam tumbuhan ganja, tetapi juga dalam sistem tubuh manusia dan hewan. Ganja umumnya dikenal sebagai ‘tumbuhan ajaib’ yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu, dan bukti penggunaannya untuk pengobatan dapat ditemukan pertama kali dalam catatan teks kuno pengobatan tradisional Cina yang ditulis sejak sekitar 2.700 SM. Penggunaan ganja untuk pengobatan juga terdapat di belahan dunia lainnya yang tertulis dalam kitab Mesir Kuno. Selain itu, di zaman Yunani Kuno keberadaan ganja telah dicatat oleh ‘Bapak Sejarah Dunia‘ semasa hidupnya sejak sekitar 430 SM. Namun catatan penggunaan ganja medis baru ditulis sekitar tahun 50-70 M oleh seorang dokter farmakolog dan botani asal Yunani Kuno bernama Dioscorides dalam sebuah bukunya berjudul De Materia Medica, dimana buku tersebut menjadi landasan pengetahuan penting dalam dunia pengobatan untuk generasi peradaban dunia selanjutnya. Walaupun ganja telah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu oleh peradaban manusia sebagai ‘tumbuhan ajaib’ untuk mengobati berbagai penyakit, namun ‘keajaiban’ dari tumbuhan ganja baru terjawab oleh dunia sains pada tahun 1940-an di mana pertama kalinya peneliti menemukan senyawa pada ganja yang disebut cannabinoid. Temuan Cannabinoid dimulai dari Penelitian Ganja Dengan seiring berkembangnya teknologi dalam dunia ilmu pengetahuan, akhirnya peneliti pertama kalinya dapat mengidentifikasi satu jenis cannabinoid di tahun 1940 yang disebut cannabinol (CBN), lewat proses isolasi ekstrak tumbuhan ganja segar yang telah disimpan sejak tahun 1850-an. Kemudian di tahun yang sama, peneliti juga menemukan senyawa cannabidiol (CBD) beserta dengan senyawa asam cannabidiol pada tanaman ganja segar. Sedangkan senyawa tetrahydrocannabinol (THC) yang memiliki potensi kuat neuroaktif, pertama kali diesktrak dari tumbuhan ganja pada tahun 1942. Identifikasi Awal Karakter Cannabinoid Dari ketiga jenis cannabinoid yang ditemukan pada ganja saat itu; cannabinol (CBN), tetrahydrocannabinol (THC), dan cannabidiol (CBD), masing-masing kemudian diberikan kepada hewan mamalia pengerat (kelinci dan tikus) untuk dilakukan pengujian ilmiah terhadap efek dari ketiga jenis senyawa tersebut. Hasil riset menunjukkan hewan yang diberikan THC menunjukkan efek katalepsi (gangguan kesadaran dan motorik) yang tinggi, sedangkan CBN menunjukkan efek katalepsi sedikit, dan pemberian CBD tidak menunjukkan gejala katalepsi pada hewan uji coba. Pada tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, penelitian cannabinoid dalam dunia farmasi meningkat secara pesat; di mana ratusan senyawa cannabinoid lainnya dapat di identifikasi. Hal ini terutama lebih disebabkan karena meluasnya penggunaan ganja rekreasional saat itu (era hippies) daripada minat terhadap ekstrak ganja yang berlisensi. Para peneliti mencoba mengidentifikasi karakter masing-masing cannabinoid; baik efek medis, psikoaktif, serta membandingkan tingkat keamanan dengan penggunaan obat rekreasional lainnya. Selain potensi efek medis yang dimiliki cannabinoid, peneliti juga tidak menemukan satupun kematian overdosis akibat dari mengkonsumsi senyawa ganja tersebut. Walaupun di saat itu peneliti sudah mampu mengidentifikasi senyawa cannabinoid, dan bahkan menghasilkan obat farmasi dari ekstrak ganja yang diberi hak paten farmasi; seperti dronabinol (Marinol®) dan nabilone (Cesamet®). Namun peneliti tidak banyak menjelaskan bagaimana cara kerja atau mekanismenya untuk menghasilkan suatu efek bagi tubuh dan pikiran. Cannabinoid Alami dalam Tubuh Manusia dan Hewan (Endocannabinoid System) Hingga akhirnya di tahun 1988 penelitian menerapkan metode baru dalam pengujian terhadap tikus laboratorium yang dinamakan teknik radiolabeling. Teknik ini mempermudah akses untuk pelabelan bahan aktif farmasi, dan dari sini pertama kalinya peneliti menemukan dua reseptor di bagian membran otak tikus dengan afinitasi (daya ikat) tinggi terhadap cannabinoid THC. Kedua reseptor ini dinamakan sebagai reseptor cannabinoid CB1 dan CB2 yang banyak terdapat di bagian sistem saraf, sistem pencernaan, dan sistem imun tubuh. Reseptor CB1 dan CB2 dimiliki oleh seluruh organisme hidup kecuali serangga. Selain reseptor cannabinoid, di awal tahun 1990-an penelitian menemukan mekanisme atau sistem biologis yang lebih kompleks, dengan sebutan sistem endocannabinoid. Endocannabinoid berasal dari kata ‘endo’ yang artinya ‘dari dalam’, dan ‘cannabinoid’ yang diambil dari nama senyawa pada tumbuhan ganja. Sistem biologis ini berperan penting menjaga keadaan homeostatis agar kondisi tubuh tetap dalam keadaan stabil; seperti saat suhu ruangan cukup panas maka tubuh akan mengeluarkan keringat untuk menstabilkan suhu dalam tubuh, sebaliknya jika suhu ruangan cukup dingin maka tubuh akan menggigil karena tubuh meningkatkan produksi metabolitnya untuk menghasilkan energi panas tambahan. Dalam temuan sistem endocannabinoid penelitian juga menemukan senyawa alami yang dihasilkan oleh tubuh yang mirip dengan cannabinoid THC; yaitu senyawa anandamide dan 2-AG (2-Arachidonoylglycerol). Senyawa Anandamide dan 2-AG yang merupakan Endocannabinoid Kedua senyawa endocannabinoid yang dihasilkan dari sistem biologis manusia dan hewan ini kemudian di uji coba kepada tikus laboratorium, dan penelitian menunjukkan kedua senyawa endocannabinoid; anandamide dan 2-AG, berperan penting sebagai regulator utama dalam proses penyembuhan, mengatur tingkat nafsu makan, memori, suasana hati, kualitas tidur, sistem imun tubuh, hingga sistem reproduksi. Penelitian menemukan bahwa senyawa endocannabinoid bekerja dengan mengatur pelepasan hormon dopamin, serotonin, dan neurotransmitter lainnya. Endocannabinoid juga membantu tubuh menahan segala jenis kerusakan biologis, di mana dalam penelitian menunjukkan tingkat pemulihan klinis yang lebih baik pada mamalia yang mengalami cedera otak. Alasan mengapa senyawa endocannabinoid; anandamide dan 2-AG, berperan sangat penting dalam meregulasi kerja tubuh organisme makhluk hidup karena senyawa ini bekerja dengan mengikat jaringan reseptor cannabinoid CB1 dan CB2 yang terdapat pada bagian hampir di seluruh tubuh. Ada juga jenis senyawa cannabinoid dari tumbuhan lain selain ganja yang memiliki potensi pengobatan yang hampir mirip dengan cannabinoid ganja, dan senyawa tersebut digolongkan sebagai phytocannabinoid. Cannabinoid dari Tumbuhan Lain selain Ganja (Phytocannabinoid) Ada beberapa jenis tumbuhan yang hingga saat ini diteliti memiliki kandungan senyawa yang mirip dengan cannabinoid karena juga mengikat target reseptor cannabinoid. Senyawa-senyawa ini digolongkan sebagai phytocannabinoid, yang berasal dari kata ‘phyto’ artinya ‘berkaitan dengan tumbuhan’ dan ‘cannabinoid’ yang diambil dari nama senyawa cannabinoid pada ganja. Contoh phytocannabinoid adalah senyawa beta-caryophyllene yang banyak terdapat pada brokoli, dan senyawa alkylamides yang ditemukan pada jenis bunga Echinacea (purple-coneflower). Senyawa phytocannabinoid juga memiliki efek medis sama dengan cannabinoid pada ganja; seperti mengatasi epileptik, anti-viral, antioksidan, anti-inflamasi, analgesik, anti-kanker, anti-diabetik, dan mengurangi rasa nyeri hingga kecemasan. Phytocannabinoid ini bekerja pada tubuh organisme manusia atau hewan dengan mengikat salah satu reseptor cannabinoid, yaitu CB2 yang banyak terdapat di bagian sistem saraf tepi (perifer) dan sistem imun tubuh. Walaupun jenis phytocannabinoid lain juga menargetkan reseptor cannabinoid, tetapi terdapat cara kerja modulasi kimiawi yang berbeda saat menerima atau memberi sinyal neuron antara cannabinoid pada ganja dan phytocannabinoid pada … Baca Selengkapnya

Terpena Ganja Bersinergi dengan THC Meningkatkan Aktivasi Reseptor Endocannabinoid

Baca Ganja – Penelitian terbaru dari Open University of Israel menemukan kandungan terpena ganja bersinergi dengan THC untuk meningkatkan aktivasi reseptor CB1 — bagian dari sistem endocannabinoid (ECS). Terpena merupakan senyawa kimia yang terdiri dari unsur karbon (C) dan hidrogen (H), yang banyak dihasilkan dan terkandung terutama pada getah tumbuhan. Fungsinya bagi tumbuhan adalah sebagai sistem pertahanan dari serangga atau predatornya, serta melindungi tumbuhan dari suhu temperatur yang tinggi. Sedangkan bagi manusia, kandungannya dapat dimanfaatkan sebagai minyak atsiri (aromatik); baik sebagai bumbu, wewangian, bahan pengobatan (terapeutik), kesehatan, dan penyerta upacara-upacara ritual. Termasuk tumbuhan ganja juga memiliki terpena, atau disebut terpenoid sebagai metabolit sekunder disamping cannabinoid, flavonoid, sterol, dan triterpenoid. Penelitian menemukan kandungan terpenoid dalam ganja memiliki sifat ansiolitik (anti-cemas), dan bekerja secara sinergis dengan cannabinoid dan memungkinkan menghasilkan efek medis yang lebih luas, yang disebut ‘efek rombongan’ (entourage effect), sehingga banyak penelitian ganja medis saat ini meneliti keseluruhan kandungan bahan aktif farmasi yang terkandung pada tanaman ganja (whole plant atau full spectrum). Terpena Ganja Memodulasi Interaksi THC dan Reseptor Endocannabinoid Data riset yang diterbitkan dalam jurnal Biochemical Pharmacology menunjukkan terpena dalam tanaman ganja meningkatkan kemampuan senyawa THC (Tetrahydrocannabinol) untuk berinteraksi dengan reseptor CB1 — bagian dari sistem endocannabinoid (ECS) — dan berpotensi meningkatkan efeknya. Peneliti juga menilai sejauh mana terpena mengaktifkan reseptor dengan berikatan dengan reseptor CB1 dan sebagai modulator agonis THC. Peneliti melaporkan terpena tertentu — termasuk borneol, geraniol, myrcene, limonene, linalool, ocimene, sabinene, dan terpineol — memperkuat aktivitas THC pada reseptor CB1 yang banyak terdapat pada bagian sistem saraf, bahkan dalam jumlah terpene yang rendah. Hasilnya menunjukkan bahwa semua terpen ketika diuji secara individual, mengaktifkan reseptor CB1 yang diikat oleh THC dengan peningkatan aktivasi sekitar 10-50%. Kombinasi beberapa terpena dengan THC secara signifikan meningkatkan aktivitas reseptor CB1 dibandingkan hanya dengan THC saja. Peneliti menyimpulkan penggunaan terpene yang dipilih dapat memungkinkan untuk mengurangi dosis THC dalam beberapa perawatan, dan sebagai hasilnya berpotensi meminimalkan efek samping terkait THC. Ini juga akan membantu dalam menyesuaikan pengobatan untuk populasi yang lebih sensitif seperti anak-anak dan orang tua. Temuan ini sekaligus memperluas studi bahwa terpene tertentu mengaktifkan reseptor endocannabinoid dalam tubuh, dan pemberian gabungan cannabinoid (THC / CBD) dan terpena (myrcene / limonene) menghasilkan efek tambahan (aditif). Peneliti juga menyarankan bahwa terpena dapat digunakan untuk meningkatkan sifat analgesik pada terapi pengobatan cannabinoid, tanpa memperburuk efek samping dari cannabinoid (seperti THC). Referensi: -https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0006295223001399?via%3Dihub

Meretas Sel Tanaman Ganja untuk Menghasilkan Cannabinoid dengan Bioteknologi

Baca Ganja – Peneliti dan ahli biologi tanaman telah mengidentifikasi cara ‘meretas’ sel tanaman ganja dengan tingkat efisiensi yang tinggi untuk menghasilkan cannabinoid (THC/CBD) menggunakan bioteknologi. Namun apakah penerapan biologi sintetik ini lebih baik daripada memanfaatkan cannabinoid alami langsung dalam tanaman ganja? Dilansir dari jurnal ScienceDaily (2/8/22), peneliti biologi tanaman dan botanis dari University of British Columbia telah mengidentifikasi cara ‘meretas’ sel dalam tanaman ganja. Penelitian ini diharapkan dapat membantu ilmuwan menemukan cara paling efisien menghasilkan produk akhir yang dapat digunakan dari bahan mentah ganja tanpa menghasilkan racun. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pembekuan cepat (rapid freezing) pada trikoma kelenjar ganja untuk melumpuhkan struktur seluler tanaman dan metabolitnya. Hal ini memungkinkan peneliti untuk menyelidiki trikoma kelenjar pada bagian bunga ganja menggunakan mikroskop elektron yang menjelaskan struktur sel pada tingkat nano, yang menunjukkan bahwa sel berkerja aktif secara metabolik dalam membentuk ‘super sel’ yang bertindak sebagai pabrik biologis metabolisme. Penelitian ini juga membantu para peneliti memahami bagaimana sel-sel dalam kelenjar trikoma ganja menghasilkan senyawa THC dan terpene dalam jumlah besar tanpa meracuni dirinya sendiri, sebagaimana senyawa ini memiliki potensi kadar racun tinggi terhadap berbagai model organisme seperti serangga. Peneliti berpendapat bahwa model baru ini dapat menginformasikan pendekatan biologi sintetik untuk memproduksi cannabinoid dalam busa (atau diluar fisik tanaman) yang umumnya digunakan dalam bioteknologi. “Tanpa ‘trik’ ini, mereka tidak akan pernah mendapatkan produksi yang efisien,” imbuh peneliti. Biologi Sintesis dan Alami Penelitian ini menjelaskan ‘rute pengiriman’ antar subseluler dalam lingkungan mikro dalam tanaman ganja, seperti di mana THC diproduksi dan diangkut dalam trikoma ganja dan menjelaskan beberapa titik kritis dalam jalur pembuatan senyawa THC atau CBD di dalam sel. Pendekatan ini dianggap dapat menggantikan penerapan biologis sintesis yang hingga kini berfokus dalam mengoptimalkan enzim yang bertanggung jawab dalam menghasilkan senyawa THC/CBD, yang belum mengembangkan cara efisien untuk memindahkan zat antar enzim ke enzim lainnya. Walaupun saat ini telah banyak perusahaan farmasi dan industri bioteknologi mencoba merekayasa cannabinoid (THC/CBD) di luar fisik tanaman atau sel dalam ganja, yang umumnya disebut cannabinoid sintesis. Namun produk farmasi hasil senyawa sintesis THC/CBD (seperti Marinol, Cesamet, Sativex) memiliki efek samping yang lebih berat daripada senyawa alami THC/CBD dalam tanaman ganja. Bahkan penelitian sains lainnya menunjukkan bahwa menggunakan seluruh senyawa dalam tanaman ganja (efek rombongan) memiliki manfaat yang lebih baik daripada hanya menggunakan senyawa ganja yang sudah di isolasi, salah satunya manfaatnya mengobati gangguan mood dan kecemasan. Senyawa THC/CBD yang dihasilkan melalui proses biologis alami dalam tanaman ganja lebih memiliki manfaat kesehatan. Dengan adanya kemajuan teknologi, tanaman ganja pun tidak luput dari arogansi teknologi yang menganggap komponen organisme alami tidak dapat bekerja lebih baik sehingga memerlukan teknologi untuk menghasilkan produk akhir yang dapat dikonsumsi. Padahal, untuk memanfaatkan senyawa alami ganja sebagai produk akhir untuk dikonsumsi, hanya memerlukan teknologi sederhana untuk mengekstrak kandungan senyawa dalam tanaman.

Air Rebusan Ganja Menangkal Covid-19 dan Varian Baru

Baca Ganja – Temuan penelitian menemukan bahwa asam cannabinoid (CBDA dab CBGA) yang di ekstrak dari air rebusan ganja dapat memblokir proses infeksi Covid-19 pada manusia. Akademi Oregon State University mempublikasikan hasil penelitian ilmuwan Richard van Breemen dan kolaboratornya yang menemukan bahwa asam cannabinoid (CBDA dan CBGA) dapat memblokir proses infeksi Covid-19 dengan mengikat protein virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Protein virus ini (spike protein) juga merupakan target utama dalam pengembangan vaksin dan antivirus terhadap  SARS-CoV-2, karena protein inilah yang mengakibatkan penyebaran infeksi dan mutasi virus dalam tubuh manusia. Dalam artikel sebelumnya sudah dijelaskan bagaimana virus SARS-CoV-2 menginfeksi manusia, yaitu ketika protein virus (spike protein) yang berbentuk seperti mahkota (corona) mengikat reseptor di permukaan sel yang disebut Angiotensin Converting Enzyme 2 (reseptor ACE2) yang banyak terdapat pada permukaan luar sel-sel organ seperti pada paru-paru, jantung, ginjal, dan usus. Meskipun asam cannabinoid juga merupakan senyawa ganja, namun cara kerjanya berbeda dengan cannabinoid (seperti THC dan CBD) dalam memblokir infeksi Covid-19 pada manusia. Sebelumnya penelitian menemukan bahwa CBD menangkal Covid-19 dengan menenangkan respon imun tubuh agar tidak terjadi badai sitokin, dan dengan mengurangi produksi aktivitas reseptor ACE2 dalam tubuh manusia yang menjadi tempat virus SARS-CoV-2 mengikat proteinnya dan bermutasi. Asam Cannabinoid Memblokir Infeksi Protein Virus SARS-CoV-2 dan Varian Baru Peneliti Richard van Breemen dan kolaboratornya menemukan bahwa asam cannabinoid; seperti asam CBD (CBDA) dan asam CBG (CBGA) yang banyak terdapat pada tanaman hemp, berperan untuk memblokir infeksi dan mempersingkat infeksi dengan mencegah partikel virus SARS-CoV-2 mengikat sel manusia (Reseptor ACE2). Asam cannabinoid bekerja langsung terhadap virus dengan mengikat spike protein, sehingga menghalangi protein virus agar tidak dapat mengikat enzim reseptor ACE2 pada tubuh dan bermutasi. Penelitian menemukan bahwa dua jenis asam cannabinoid ini; CBDA dan CBGA, adalah dua senyawa asam cannabinoid dengan daya ikat (afinitas) tertinggi terhadap spike protein virus SARS-CoV-2 diantara banyak senyawa asam lainnya. Bahkan peneliti menemukan CBDA dan CBGA juga bekerja sama efektifnya terhadap varian virus SARS-CoV-2 yang baru; seperti varian B.1.1.7 yang pertama kali terdeteksi di Inggris dan varian B.1.351 yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan, atau juga dikenal sebagai varian alpha dan beta. Varian baru alpha dan beta terkenal akan kemampuannya untuk menghindari antibodi terhadap garis keturunan awal SARS-CoV-2. Peneliti berpendapat bahwa ini jelas sangat mengkhawatirkan, mengingat bahwa strategi vaksinasi saat ini bergantung pada spike protein garis keturunan awal virus sebagai antigen. Peneliti berharap hasil riset yang menunjukkan CBDA dan CBGA yang efektif terhadap varian alpha dan beta, juga bekerja efektif dan meluas terhadap varian lain yang sudah ada dan yang akan datang. Selain dapat memblokir spike protein virus corona masuk ke dalam sel, riset lanjutan menemukan CBDA dan CBGA juga dapat mencegah infeksi sel epitel manusia yang diakibatkan oleh Covid-19. Peneliti berpendapat bahwa menggunakan senyawa yang menghalangi interaksi virus-reseptor (seperti pada CBDA dan CBGA) telah membantu pasien dengan infeksi virus lain, termasuk HIV-1 dan hepatitis. Ekstrak Asam Cannabinoid dari Air Rebusan Ganja Peneliti berpendapat bahwa senyawa asam cannabinoid (CBDA dan CBGA) dapat dikonsumsi secara oral dan tercatat sepanjang sejarah penggunaannya memiliki tingkat keamanan yang baik. Perlu diketahui bahwa asam cannabinoid merupakan kandungan senyawa yang terdapat pada tanaman ganja mentah (raw material) yang berbeda dengan cannabinoid (umumnya dikenal dengan THC dan CBD), dimana cannabinoid sebenarnya dihasilkan oleh prekursor asam cannabinoid (THCA, CBDA, dan CBGA) lewat pembakaran atau dekarboksilasi. Dalam artikel yang sudah dipublikasi berjudul ‘Senyawa Baik Air rebusan Ganja’, telah dijelaskan bahwa air rebusan ganja mengandung senyawa asam cannabinoid (seperti THCA, CBDA, atau CBGA) yang berbeda dengan cannabinoid (seperti THC, CBD, atau CBG). Ini dikarenakan proses ekstraksi yang tidak mengubah asam cannabinoid – yang dasarnya terdapat pada tanaman ganja mentah – menjadi senyawa cannabinoid. Sifat senyawa asam cannabinoid pun berbeda dengan cannabinoid; di mana asam cannabinoid memiliki sifat yang larut dalam air (water soluble) sedangkan cannabinoid memiliki sifat kuat yang larut dengan lemak (fat soluble) — seperti susu, mentega dan minyak, sehingga air rebusan ganja bebas dari senyawa cannabinoid, terutama senyawa THC yang umumnya dianggap berbahaya karena sifat psikoaktifnya. Selain asam cannabinoid diteliti dapat memblokir spike protein dari virus SARS-CoV-2, beberapa asam cannabinoid seperti asam THC (THCA) memiliki sifat neuro-protektif, mengurangi penyakit radang usus, dan mengurangi penambahan berat badan dan radang yang berkaitan dengan obesitas dan diabetes. Asam CBD (CBDA) juga dapat menekan sel kanker payudara, mencegah mual dan muntah, serta dapat menghasikan efek anti-inflamasi. Berikut ini beberapa senyawa lain yang terdapat pada ganja. Semoga penelitian ini dapat membuka mata dan merubah sudut pandang masyarakat, peneliti, serta pemerintah Indonesia bagaimana tanaman ganja dapat digunakan dan dimanfaatkan secara optimal dengan beragam cara untuk menangani masalah yang berkaitan dengan kesehatan di tanah air. Bukan hanya bertengkar dalam masalah penyalahgunaan atau pembenargunaan ganja, sekaligus untuk mendewasakan diri dalam mengelola ganja. Referensi: -https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35007072/ -https://ecolink.com/info/cbda-water-extraction/  

Bagian Tanaman Ganja dan Senyawa Metabolitnya: Manfaat Medis dan Pengolahan

Baca Ganja – Penelitian ilmiah secara historis hanya berfokus pada bagian bunga cannabis, padahal dalam setiap bagian tanaman ganja memiliki senyawa metabolit berbeda yang juga memiliki manfaat medis dan kesehatan. !!! Artikel ini tidak bertujuan mengajak melakukan tindakan yang melanggar hukum, dan dimaksudkan untuk memberi kesadaran akan ilmu pengetahuan !!! Sama seperti tumbuhan lainnya, tanaman ganja memiliki bagian tubuh yang terdiri dari akar, batang, daun, bunga, dan biji. Di dalam setiap bagian tanaman ganja terdapat senyawa metabolit sekunder yang berbeda, dan dengan spektrum senyawa yang luas ini memungkinkan untuk menghasilkan manfaat medis yang lebih luas dan potensial. Senyawa metabolit tertentu yang diproduksi tanaman berfungsi sebagai pertahanan diri dan cara bertahan hidup. Dalam studi ilmiah berjudul, Secondary Metabolites Profiled in Cannabis Inflorescences, Leaves, Stem Barks, and Roots for Medicinal Purposes, melaporkan kandungan senyawa metabolit pada tiap bagian tanaman ganja. Senyawa Metabolit dalam Bagian Tanaman Ganja dan Manfaat Medisnya Senyawa metabolit sekunder pada seluruh bagian tanaman ganja terdiri dari cannabinoid, terpenoid (mono- dan sesquiterpenoid), flavonoid, sterol, dan triterpenoid. Dalam dunia farmasi, senyawa metabolit yang dianggap paling penting karena manfaat medisnya adalah cannabinoid — umumnya THC dan CBD — yang banyak terdapat pada bunga ganja. Padahal, senyawa metabolit sekunder lainnya yang terkandung di setiap bagian tanaman ganja yang berbeda, juga memiliki manfaat medis dan kesehatan. Cannabinoid (THCA, CBDA, THC, CBD)   Cannabinoid adalah senyawa aktif tanaman ganja yang banyak terdapat di bagian bunga dan sedikit di bagian daun. Bunga dan daun ganja segar yang belum melalui proses pembakaran (dekarboksilasi) mengandung cannabinoid THCA dan CBDA, fungsinya bagi tanaman ganja adalah untuk melindungi dari sinar radiasi ultraviolet (UV) yang dapat merusak DNA-nya dan memiliki sifat insektisida. THCA (Tetrahydrocannabinolic acid) dan CBDA (Cannabidiolic acid) THCA merupakan bentuk asam dari senyawa psikoaktif THC, dan CBDA merupakan bentuk asam dari CBD. Apabila bunga dan daun ganja segar dikonsumsi langsung tanpa melalui proses pembakaran (dekarboksilasi), maka tidak akan menghasilkan efek trans-kesadaran — karena senyawa pada bunga dan daun ganja segar masih berbentuk asam (THCA dan CBDA), bukan THC. THCA memiliki manfaat medis untuk melindungi saraf (neuro-protektif), mengurangi radang akibat penyakit radang usus, dan mengurangi penambahan berat badan dan radang terkait obesitas serta diabetes. Sedangkan CBDA mampu menekan sel kanker payudara, mencegah mual dan muntah, serta bersifat anti-inflamasi. THC (Tetrahydrocannabinol) dan CBD (Cannabidiol) THC dan CBD adalah senyawa yang paling populer dalam dunia farmasi karena manfaat medisnya. Senyawa ini dihasilkan melalui proses pembakaran/pemanasan dari senyawa THCA dan CBDA hingga mencapai suhu tertentu untuk melepaskan asam menjadi karbon (dekarboksilasi), ataupun melalui proses ekstraksi pada tanaman ganja segar. THC memiliki manfaat medis seperti meredakan rasa nyeri, meningkatkan nafsu makan, anti-mual, melenturkan otot, mengatasi glukoma, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan kualitas tidur. CBD memiliki sifat anti-kejang, anti-inflamasi, mengatasi gangguan mental (psikosis), mengatasi depresi, migrain, rasa cemas, dan mual. Kedua senyawa ini juga memiliki sifat neuro-protektif, anti-virus, anti-bakteri, anti-kanker, dan anti-tumor. Baca juga: – Cara kerja THC dalam tubuh manusia – Cara kerja CBD dalam tubuh dan efek medisnya – CBD membantu melawan virus, bakteri, dan kanker Terpenoid (Mono- dan Sesquiterpenoid) Terpenoid merupakan senyawa hidrokarbon yang banyak diproduksi oleh tumbuhan, terutama terkandung pada getah dan merupakan hasil sekresi dari kelenjar trikoma yang menutupi bagian bunga dan menutupi sebagian daun pada tanaman ganja. Fungsinya bagi tanaman ialah sebagai sistem pertahanan dari serangga atau predator tanaman dan melindungi tanaman dari suhu temperatur yang tinggi. Terpenoid pada tanaman ganja terdiri dari monoterpenoid β-myrcene, α-Pinene, β-Pinene, Limonene, Linalool; dan sesquiterpenoid β-Caryophyllene, α-Humulene, β-Eudesmol. Terpenoid yang dihasilkan tanaman ganja memiliki sifat ansiolitik (anti-cemas), dan bekerja secara sinergis dengan cannabinoid dan memungkinkan menghasilkan efek medis yang lebih luas, yang disebut ‘efek rombongan’ (entourage effect). Flavonoid   Flavonoid pada tanaman ganja banyak terdapat di bagian daun dan sedikit di bagian bunga. Sama seperti flavonoid pada tanaman lain, fungsinya adalah untuk menyediakan warna pigmen pada tanaman dan bunga. Selain itu, juga membantu melindungi tanaman dari radiasi sinar UV, hama, dan penyakit. Flavonoid utama yang paling banyak ditemukan adalah cannaflavins dan hanya terdapat pada tanaman cannabis. Senyawa ini juga memberikan karakter pada strain ganja yang berbeda, seperti pada strain Purple Kush dengan karakter bunga berwarna ungu. Flavonoid berkontribusi sebagai efek terapeutik dalam tubuh dan memiliki beberapa manfaat kesehatan, seperti anti-kanker, anti-jamur, anti-inflamasi, kesehatan jantung (kardiovaskular), dan pelindung saraf. Sterol Bagian tanaman ganja yang paling banyak mengandung sterol adalah akar, batang, dan daun. Sterol adalah prekursor dari sekelompok hormon tanaman yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan tanaman, serta memiliki peran yang sama dengan kolestrol dalam sel hewan. Sterol dalam tanaman ganja terdiri dari campesterol, stigmasterol, dan β-sitosterol. Mengkonsumsi makanan yang mengandung sterol dapat menahan penyerapan kolestrol pada saluran pencernaan manusia sehingga mampu mengurangi kadar kolestrol. Selain itu sterol membantu mencegah penyakit jantung dan serangan jantung, serta memiliki sifat anti-inflamasi. Triterpenoid Bagian tanaman cannabis yang mengandung banyak triterpenoid adalah akar, batang, dan sedikit di daun. Fungsinya bagi tumbuhan adalah untuk melindungi dari jamur, serangga predator, bakteri, dan virus. Kandungan triterpenoid dalam akar ganja terdiri dari β-amyrin, epifriedelanol, dan friedelin. Senyawa friedelin dalam akar ganja memiliki manfaat sebagai antioksidan, serta bersifat anti-inflamasi dan anti-kanker. Friedelin juga memiliki aktivitas estrogenik — yang berkaitan dengan hormon estrogen pada sel wanita. Selain dapat ditemukan dalam akar ganja, friedelin juga terdapat dalam tanaman Cikal tulang yang tercatat dalam teks Ayurveda sebagai obat asam urat, penyakit kelamin, dan sebagai afrodisiak (peningkat gairah seksual). Baca juga: Manfaat akar ganja: sejarah, penelitian, dan testimoni Bagian Tanaman Ganja dan Cara Pengolahannya untuk Medis Dalam sejarah studi ilmiah, penelitian manfaat medis pada tanaman ganja hanya berfokus pada bagian bunga. Padahal, setiap senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh bagian-bagian tanaman, memiliki potensi medis yang baik — bahkan dapat mengoptimalkan kerja senyawa cannabinoid dalam tubuh dengan memberi stimulasi atau mengurangi efek samping suatu jenis cannabinoid, umumnya THC. Mengoptimalkan pemanfaatan ganja dengan menggunakan seluruh bagian tanaman ganja (whole plant), artinya kita menyadari bahwa ganja sebagai makhluk hidup yang lebih dulu ada di bumi daripada peradaban manusia, telah melalui proses evolusi yang panjang untuk bertahan hidup — tentu juga dengan dukungan senyawa metabolit sekunder pada tanaman cannabis. Dengan memahami pengetahuan atau nilai (wisdom) yang dimiliki tanaman ganja, artinya kita memanfaatkan ganja … Baca Selengkapnya

Sharing is caring