CBD untuk Pengobatan Hepatitis C yang Belum Ada Vaksinnya

Baca Ganja – Virus Hepatitis terbagi dalam lima jenis (A, B, C, D, dan E), dan diketahui melekat pada hati atau liver. Diantara kelima jenis virus, virus Hepatitis C (HCV) sampai saat ini belum ada vaksinnya. Namun, peneliti menemukan potensi CBD untuk pengobatan Hepatitis C.

CBD untuk pengobatan hepatitis C

Virus hepatitis B (HBV) dan virus hepatitis C (HCV) adalah yang paling berbahaya dan lazim dari kelima jenis virus hepatitis. Kasus HBV dan HCV kronis merupakan penyebab utama sirosis (pengerasan) hati dan karsinoma hepatoseluler (kanker hati) di dunia.

Infeksi virus hepatitis B dan C juga terlibat dalam perkembangan penyakit lain termasuk limfoma (kelenjar getah bening), diabetes (kencing manis), dan aterosklerosis (radang pembuluh darah). Maka dari itu peneliti terus mencari molekul baru dengan aktivitas melawan virus hepatitis.

Dalam penelitian yang diterbitkan jurnal NIH (Institut Kesehatan Nasional Amerika) oleh Dr. Henry Lowe, menunjukkan bahwa senyawa cannabidiol (CBD) pada ganja dapat menghambat replikasi virus hepatitis C (HCV) sebesar 86,4% pada konsentrasi tunggal 10 mikrometer (µM).

Potensi CBD untuk Pengobatan Hepatitis C

Dalam uji virus hepatitis C (HCV), CBD menghambat virus dengan toksisitas (tingkat rusak) minimal terhadap sel yang digunakan untuk membiakkan virus. CBD menunjukkan penghambatan virus yang tergantung pada dosis virus HCV dalam uji dosis-respon.

Aktivitas anti-virus CBD terhadap HCV menunjukkan bahwa CBD memiliki efek terhadap hepatitis yang diakibatkan virus maupun non-virus (hepatitis auto-imun). Hepatitis auto-imun adalah kondisi peradangan hati yang diakibatkan oleh sel-T dan makrofag yang teraktivasi.

Penelitian menunjukkan bahwa interaksi CBD dengan reseptor CB-2 menginduksi apoptosis (kematian sel sistematis) dalam timosit dan splenosit, menghambat proliferasi sel-T dan makrofag yang bertanggung jawab untuk menyerang sel-sel hati atau menginduksi pelepasan sitokin pro-inflamasi penyebab hepatitis auto-imun di hati.

Reseptor CB-2 terdapat dalam sistem imun dan sel turunan imun. Aktivasi reseptor ini memengaruhi infeksi virus dengan mengubah respon imun inang, terutama pada peradangan. Sehingga menekan peradangan dan memodulasi respon imun terhadap infeksi virus.

Peradangan pada inang bersifat patogen — yang dapat menimbulkan penyakit — sehingga berpotensi mendorong perkembangan virus. Aktivasi reseptor CB-2 berguna dalam pengendalian infeksi virus karena menghasilkan efek anti-inflamasi.

Penelitian menemukan bahwa CBD terbukti menginduksi apoptosis (kematian sel terprogram) pada sel stelata hepatik (HSC) teraktivasi melalui interaksi dengan retikulum endoplasma. Aktivasi sel stelata hepatik (HSC) merupakan penyebab berkembangnya fibrosis hati.

Kesimpulan terakhir penelitian menunjukkan aktivitas anti-virus CBD terhadap HCV terbukti memiliki aktivitas melawan HCV. Berdasarkan temuan ini, CBD berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai pengobatan untuk hepatitis virus, terutama sebagai terapi kombinasi dengan terapi yang ada saat ini.


Referensi:
-Dr. Henry Lowe, Potential of Cannabidiol for the Treatment of Viral Hepatitis,PMC5330095
Share this not copy
Scroll Up