Mengenal Kehidupan melalui Ganja

Baca Ganja — Mengenal kehidupan melalui ganja yang menyimpan pengetahuan bagaimana dunia bekerja, meskipun ia tumbuh sebagai tanaman yang mendapat stigma.

tanaman yang membawa kesadaran bagi peradaban manusia
Cannabis hybrid (sativa-dominant)

Pengantar

Di era kemajuan teknologi yang semakin canggih dan keterbukaan informasi saat ini, kehidupan manusia tampaknya tidak mengarah ke peradaban yang lebih baik. Justru sebaliknya, semakin banyak manusia menjadi sentimental, yang sikapnya mudah dipengaruhi oleh emosi dan perasaan semata tanpa logika. Fenomena ini banyak dan mudah ditemui dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Buktinya, bisa Anda lihat sendiri di sosial media. Di mana lebih dari separoh cuitan, komentar, maupun konten yang diproduksi manusia Indonesia kebanyakan (tidak semua) isinya adalah pujian, hujatan atau jokes recehan untuk hiburan semata tanpa adanya dasar analisis yang jelas. Semua opini yang dihasilkan hanya murni untuk memainkan perasaan, mendapatkan sensasi tanpa esensi yang menempel di otak.

Akibatnya tanpa disadari, kumpulan manusia ini hanya hidup menjalani kesehariannya karena didorong oleh kebiasaan saja: seperti makan, tidur, dan beraktivitas (kerja). Seperti hewan yang dikerangkeng dalam kebun binatang, tanpa menyadari bahwa selama ini ia hanya hidup dalam “kurungan”. Namun “kurungan” yang akan dijelaskan ini, bukanlah sebuah benda yang dapat diraba. Melainkan sebuah sistem, yang mana kita semua hidup di dalamnya.

Sistem ini bukan hanya berupa hukum yang mengatur norma kehidupan manusia di dalamnya, tetapi juga kebijakan yang memengaruhi keadaan sosial-ekonomi-ekologi. Sebagai manusia, sistem inilah yang seharusnya dicermati dan diperhatikan secara analitis. Bukan justru mengomentari buah dari hasil produk sistem yang dirasakan. Karena selama sistem tersebut tetap berlaku dan “mengikat” kita, selama itu pula lah buahnya akan terus ada. Dan kita bagaikan hewan dalam kurungan, akan terus mencicipi buah tersebut—tak ada habisnya.

Contoh buah yang dihasilkan oleh sistem yang buruk ini adalah, “Buahlil” (Bahlil) si Menteri tanpa otak, para penjilat kekuasaan, ataupun orang-orang yang memilih menjadi ternak dan peliharaan politik. Mereka ini hanyalah hasil buah dari produk suatu sistem, yang tampaknya sengaja disodorkan untuk tetap eksis agar masyarakat terus-terusan mengomentari rasa dan sensasinya, hingga mereka lupa bahwa ada sistem yang menjadi mastermind (dalang atau otak) dibalik keadaan ini semua.

Bahkan pada akhirnya, lingkungan kampus yang ditempati para mahasiswa hanya menjadi ruang gema (echo chamber), yang membuat mereka mengkritik tanpa arah. Bagaikan orang pikun, mereka lebih mudah untuk menyamaratakan semua segala persoalan. Yang bisa saja, penyamarataan itu muncul disebabkan oleh ketidakmampuan mereka menganalisis secara tajam.

Sebelum menjelaskan lebih jauh, saya ingin mengajak Anda untuk melihat bagaimana tumbuhan ganja bekerja dalam tubuh makhluk hidup. Karena dari pengamatan tentang ganja, ada sebagian ilmu pengetahuan alam yang terkandung di dalamnya.

Mengenal Kehidupan melalui Ganja

Dalam esai sebelumnya berjudul “Pengetahuan Ganja”, telah dijelaskan bahwa tanaman ganja (Cannabis) sebagai makhluk yang lebih dulu hidup di bumi, telah melewati proses bertahan hidup (survive) lebih lama daripada peradaban manusia. Dengan pengetahuannya (wisdom), ia menghasilkan senyawa metabolit yang dibutuhkan untuk survive dan memiliki kecerdasan untuk beradaptasi, serta berperan sebagai penyeimbang alam.

mengenal kehidupan melalui ganja | fosil ganja berusia 56 juta tahun
Fosil daun ganja tertua yang ditemukan di Saxony-Anhalt, Jerman, berusia 56 juta tahun lalu (sumber: Ludwig Luthardt/Museum fur Naturkunde)

Bukti ini ditemukan dalam jejak fosil daun ganja pada lumpur prasejarah yang diperkirakan berusia sekitar 56 juta tahun yang lalu, di wilayah Saxony-Anhalt, Jerman. Fosil ini awalnya dideskripsikan oleh Paul Friedrich pada tahun 1883, namun belum pernah dianalisis secara mendetail hingga saat ini.

Meskipun memiliki kemiripan dengan tanaman ganja saat ini (C. sativa dan C. indica), para peneliti meyakini bahwa fosil ini merupakan kerabat dari jenis ganja yang telah punah. Masih belum jelas apakah tanaman ganja purba ini mengandung senyawa cannabinoid seperti pada varietas modern, yang terdapat di dalam struktur mikroskopis menyerupai rambut yang disebut trikoma. Ini karena struktur tersebut tidak terlihat pada jejak fosilnya.

Namun seiring berjalannya waktu, ganja berevolusi menghasilkan senyawa metabolit paling khas dari ganja, yaitu cannabinoid. Ada ratusan jenis cannabinoid dalam ganja. Namun, pada umumnya terdapat dua jenis cannabinoid utama dengan kadar paling tinggi di antara jenis cannabinoid lainnya: yaitu tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidiol (CBD). Kedua jenis cannabinoid ini (THC dan CBD) paling banyak menarik perhatian peneliti karena efek medisnya.

Peneliti akhirnya pun mengetahui bahwa efek senyawa cannabinoid ganja dalam tubuh makhluk hidup (manusia dan hewan) tidak hanya disebabkan oleh cannabinoid semata. Efek cannabinoid hanya dapat bekerja dan aktif, jika dalam tubuh organisme hidup terdapat sebuah mekanisme sistem biologis sebagai “jalur komunikasi”. Sistem biologis ini juga disebut sebagai sistem endocannabinoid.

Sistem Endocannabinoid, Mekanisme Alami Tubuh yang Berfungsi sebagai Penyeimbang

sistem endocannabinoid
Sea squirt, hewan laut yang telah berevolusi sejak 600 juta tahun lalu memiliki sistem endocannabinoid.

Keunikan senyawa khas cannabinoid tidak hanya terdapat dalam tanaman ganja. Meskipun memang, ganja merupakan tanaman khas yang menghasilkan senyawa cannabinoid. Namun, “cannabinoid” yang pertama kali tercipta di muka bumi bukan berasal dari ganja. Sebelum pertama kali ganja tumbuh di muka bumi, alam terlebih dahulu menciptakan sebuah SISTEM sebagai mekanisme penyeimbang proses biologis—disebut dengan SISTEM ENDOCANNABINOID.

Peneliti menemukan bahwa sistem endocannabinoid telah dimiliki oleh hewan laut yang hidup dan berevolusi sejak 600 juta tahun yang lalu, yaitu sea squirt (Ciona intestinalis). Fungsi sistem endocannabinoid pada sea squirt adalah untuk mengatur pensinyalan saraf. Bahkan manusia dan hewan (kecuali serangga) yang hidup hari ini, juga mewarisi sistem endocannabinoid dalam mekanisme tubuhnya.

Fungsi sistem endocannabinoid pada manusia dan jenis hewan lain pun sama, yaitu sebagai regulator penyeimbang alami biologis tubuh agar tetap berjalan secara homeostatis: baik dalam mengatur respons stres, suasana hati (mood), kualitas tidur, rasa lapar, maupun respons kekebalan (imun) tubuh. Semua proses fisiologis ini diatur oleh SISTEM ENDOCANNABINOID dalam tubuh kita.

Selain berfungsi sebagai mekanisme alami penyeimbang internal tubuh, sistem endocannabinoid juga berfungsi sebagai “jalur komunikasi” antara ganja (senyawa cannabinoid) dengan makhluk hidup. Oleh karena itu, senyawa cannabinoid yang masuk ke dalam tubuh organisme (manusia dan hewan) dengan kadar dosis yang cukup, akan berinteraksi dengan sistem endocannabinoid sehingga menghasilkan efek keseimbangan fisiologis.

Baca juga: Sistem endocannabinoid: Penyatu makhluk hidup dan ganja

Semua Proses Kehidupan Dijalankan melalui Sistem

Jika Anda menyimak bagaimana ganja bekerja dalam tubuh makhluk hidup, maka Anda akan menemukan bahwa SEGALA PROSES KEHIDUPAN DI MUKA BUMI DIJALANKAN MELALUI SISTEM. Bahkan, sejak awal mula kehidupan tercipta ratusan juta tahun yang lalu, alam telah merancang mekanisme biologis seperti sistem endocannabinoid. Dan kemudian baru disusul oleh terciptanya tumbuhan ganja yang menghasilkan senyawa cannabinoid (THC dan CBD). Semua sistem ini disediakan oleh alam sebelum manusia hidup di bumi.

Oleh karenanya, sudah sepatutnya MANUSIA yang memiliki RASIO OTAK yang BESAR dapat memahami fenomena ini. Bukan justru sebaliknya, bersikap layaknya hewan dalam kurungan kebun binatang yang hanya dapat merasakan, tanpa mampu mengetahui SISTEM yang “mengikat” dirinya. Sehingga pada akhirnya, mereka hanya dapat memuji, menghujat, ataupun menghibur diri dalam kerangkeng.

Kembali pada SISTEM. Sekarang, saya ingin mengajak Anda untuk memahami SISTEM seperti apa yang berlangsung di Indonesia saat ini.

Fenomena di Indonesia dan Sistem yang Berjalan

Dalam esai sebelumnya berjudul “Tubuh Republik yang Sakit akibat Sel Kanker” yang ditulis pasca HUT Kemerdekaan RI ke-80, saya menganalogikan keadaan republik layaknya orang pesakitan yang kambuhan. Dengan sengaja, saya menulis dengan abstraksi tanpa menyebut pelaku atau subjek yang menjadi penyebab sel kanker itu.

Tujuannya adalah untuk memancing pembaca untuk membentuk imajinasinya sendiri, siapakah subjek yang menjadi sel kanker itu. Tapi tampaknya, upaya ini tidak berhasil. Terlebih lagi, lingkungan kampus yang menjadi ruang akademik untuk berpikir kritis, pada akhirnya hanya menjadi ruang gema belaka tanpa pikiran yang terarah.

Semua sistem dan kebijakan dianggap buruk. Entah mungkin karena kemalasan para mahasiswa untuk menganalisis lebih dalam, atau memang ruang kampus telah kehilangan kemampuan analisisnya. Dan bisa jadi, sebagian memilih menjadi ternak dan peliharaan politik kekuasaan—seperti sebagian para pengkhianat reformasi 1998 seperti Budiman Sudjatmiko, yang kini mengakui dirinya sebagai makhluk (binatang) politik.

Padahal, jika mahasiswa sebagai agen perubahan dapat menganalisa fenomena politik secara lebih mendalam, saya yakin mereka mampu mengenal kehidupan politik yang terjadi di Indonesia: seperti penyebab kerusuhan dan demonstrasi pasca HUT kemerdekaan RI ke-80. Namun mirisnya, kebanyakan dari mereka hanya mengetahui penyebab kerusuhan tersebut karena anggota DPR berjoget kegirangan saat tukin (tunjangan kinerja) mereka dinaikkan.

Hingga akhirnya, mahasiswa hanya menjadi ruang gema tanpa pikiran yang bereaksi terlalu cepat, dan berujung demonstrasi yang pecah di jalanan. Seolah seperti manusia pikun, mereka hanya dapat mengamuk melihat anggota DPR berjoget ria, tapi tidak menganalisa siapakah yang menaikkan tukin para anggota DPR itu.

Padahal yang MENAIKKAN TUKIN anggota DPR adalah Joko Widodo, bekas Presiden ke-7 tanpa Ijazah, yang ia sahkan pada 18 Oktober 2024 atau 3 hari jelang akhir jabatannya sebagai Presiden. Namun mirisnya, masyarakat dan mahasiswa terlalu cepat bereaksi, sehingga terjadilah segala kekacauan yang terjadi pasca HUT kemerdekaan RI ke-80 itu.

Sel Kanker dalam Sistem yang sedang Berjalan

Belum sampai disitu saja. Presiden yang hari ini menjabat, Prabowo Subianto, juga merupakan tawanan politik Joko Widodo yang disandera saat Pencalonan Presiden 2024-2029. Bukti ini dapat dilihat sejak sebelum kontestasi Capres 2024, bahwa ada sekelompok masyarakat sipil yang mengajukan gugatan BATAS MAKSIMAL CAPRES ke Mahkamah Konstitusi yang saat itu diketuai oleh Adik Ipar Jokowi, Anwar Usman.

Apabila saat itu gugatan batas maksimal calon Presiden disahkan oleh Ketua MK atau adik ipar Jokowi, maka Prabowo tidak akan dapat mencalonkan diri sebagai Presiden 2024-2029. Oleh karena itu, Prabowo dengan “terpaksa” harus menggandeng anak Jokowi yang berotak kosong, Gibran Rakabuming, sebagai wakilnya. Sehingga akhirnya, Gibran yang juga dibantu Pamannya lolos sebagai cawapres mengatakan kepada Prabowo, “TENANG PAK PRABOWO, SAYA SUDAH DISINI.”

Seharusnya, lingkungan kampus sebagai ruang akademik dapat menganalisa fenomena politik ini. Tapi sebaliknya, ruang akademik telah berubah menjadi ruang gema yang kehilangan daya kritiknya. Sehingga mereka lebih mudah menyamaratakan segala persoalan, yang menganggap Prabowo dan Joko Widodo memiliki karakteristik dan kebijakan yang sama. Padahal jelas berbeda.

Kritik Sistem dan Kebijakan Presiden Hari Ini: Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa, hingga Danantara

Jika masyarakat dan mahasiswa mampu melihat kebijakan Presiden hari ini dengan bersih dan jernih (clean and clear), Anda akan melihat perbedaan yang bertolak belakang dengan Bekas Presiden, Joko Widodo. Yang mana kebijakan Presiden hari ini setidaknya lebih memiliki nilai sosialistis: memberi makan dan membangun koperasi. Namun tidak semua gagasan Presiden bagus, seperti pada Danantara yang dapat menjadi tempat pencucian uang yang dilindungi oleh negara.

Adapun penyebab program sosialis Presiden ini tidak berjalan dengan baik karena Prabowo masih menggunakan bekas anak buah Jokowi yang mentalnya koruptif, maupun dari hasil perjanjian transaksi politik. Sehingga segala hasil produk turunannya berakhir buruk: makanan bergizi menjadi makanan beracun, dan koperasi desa menjadi perusahaan mini-market pemodal.

Ketidakmampuan para menteri bekas peliharaan Jokowi maupun hasil transaksi politik untuk meneruskan ide sosialis Presiden, akhirnya membuat kebijakannya menjadi berantakan. Namun yang dikritik kebanyakan masyarakat dan mahasiswa justru kebijakan sosialis Presiden, dan ingin membatalkannya.

Padahal, yang harus dikritik dari Presiden adalah untuk kembali mengevaluasi kebijakan sosialisnya, serta menyadarkan Prabowo agar segera melepas ikatan sandera politik Joko Widodo. Tapi apa daya, mahasiswa saat ini hanya sebagai ruang gema yang kosong ide dan lebih mudah menyamaratakan segala persoalan politik.

Ditambah lagi, setiap membahas Prabowo Subianto, selalu ada narasi bahwa dia adalah pelaku pelanggaran HAM tahun 1998. Padahal di masa itu, Prabowo hanyalah bawahan. Lagi pula, bukan dia seorang yang terlibat. Masih ada Wiranto, yang di akhir panggung politiknya ditutup dengan tragedi penusukan dengan “pisau Naruto”.

Narasi dangkal seperti ini mirisnya banyak dipegang oleh mahasiswa. Sehingga akhirnya menyamaratakan segala persoalan, hanya karena tak mampu mendalaminya. Jika narasi seperti ini terus digemakan, maka yang beruntung adalah oligarki yang tak kasat mata, yang sudah siap untuk menampung Indonesia dan menjerumuskannya ke dalam kebodohan yang semakin dalam.

Lagi pula, perjalanan Prabowo Subianto sebagai Presiden baru setengah jalan. Ia belum menutup bab akhir bagian bukunya, yang bisa jadi segala plot twist ketidakadilan yang terjadi di Indonesia akan ia bongkar di bagian akhir (last chapter) biografinya.

Namun sebelum tiba ke bagian akhir, seluruh elemen masyarakat harus memberi kesadaran kepada Presiden Prabowo untuk segera melepaskan diri dari sandera politik Jokowi sebelum semuanya terlambat—sebelum Indonesia kembali masuk ke dalam jurang kebodohan dan dieksploitasi oleh oligarki yang berdiri dibelakang Jokowi.

— Mengenal kehidupan melalui ganja


Referensi tambahan:
-Jelang Lengser Jokowi Getol Naikkan Tukin Pegawai Kementerian hingga DPR. KUMPARAN (23 Oktober 2024)
-Tok! MK Tolak Gugatan Batas Maksimal Usia Capres/Cawapres. DETIK (23 Oktober 2023)
-Sambil Tersenyum ke Prabowo, Gibran: "Tenang, Pak, Saya Sudah di Sini." KOMPAS (25 Oktober 2023)

Tinggalkan komentar

Sharing is caring