Suara Legalisasi Seorang Anak untuk Ibunya

“Dengan ilmu kita menuju kemuliaan” – Ki Hajar Dewantara

Suara legalisasi. Roda peradaban terus berputar, napas kehidupan terus berhembus, begitu pun dengan ilmu yang tidak berujung. Ganja yang pernah menjadi korban propaganda dan distorsi, perlahan dijawab oleh ilmu pengetahuan.

suara legalisasi

Disaat rakyat menyuarakan dorongan untuk mencari tau manfaat ganja, itu sama artinya rakyat sedang mencari ilmu menuju kemuliaan. Seperti kutipan kalimat di awal pembuka dari Ki Hajar Dewantara, seorang tokoh nasional dan Bapak Pendidikan Indonesia.

Bulan Mei 2020, tepatnya di tanggal 22. Relawan LGN (Lingkar Ganja Nusantara) Bali melalukan percakapan tanya-jawab kepada seseorang bernama Wirya, yang tinggal di Pulau Bali.

Wirya berbagi cerita mengenai penyakit yang di idap ibunya, yaitu penyakit kista ovarium. Bukan hanya itu, ia juga membagikan opini nya mengenai tanaman ganja yang seharusnya didengar oleh pemimpin bangsa ini.

Dialog

Relawan: Boleh silahkan memperkenalkan diri anda?

Wirya: Rahayu. Salam kenal semua, perkenalkan saya Wirya, 33 tahun. Saya karyawan swasta di bidang pariwisata di Bali.


Relawan: Boleh diceritakan tentang kondisi ibu anda?

Wirya: Baik, saya ingin bercerita tentang beberapa penyakit yg di idap ibu saya. Sekarang ibu saya berumur 52 tahun, ibu saya kali ke-3 mengidap kista ovarium, maag dan asam lambung.


Relawan: Sejak kapan sakitnya?

Wirya: Kista pertama pada tahun 2013 sudah dilakukan operasi dengan pengangkatan kista berukuran 9cm. Kista kedua sekitar 7 bulan lalu sudah dilakukan operasi dengan pengangkatan ovarium kiri dengan ukuran kista 10cm. Dan sekarang kembali tumbuh kista pada ovarium kanan yg belum diangkat oleh dokter. Sebut saja dokter S, ovarium kanan tidak di angkat karena alasan osteoporosis dini dan kemandulan.

Relawan: Apakah sejak operasi pertama sudah terdaftar BPJS?

Wirya: Pada operasi pertama 2013 dan yang kedua 7 bulan lalu, ibu saya berstatus pasien umum dengan biaya yg sangat lumayan karena pada waktu itu ibu saya dirawat di rumah sakit swasta bergengsi di Bali dan ditangani oleh dokter S. Dan berharap ibu saya sembuh total.

Relawan: Lalu bagaimana pada operasi ketiga?

Wirya: Kali ke-3 kista ovarium, kami sudah tidak mampu membiayai lagi untuk dirawat di rumah sakit swasta tersebut. Dan singkatnya ibu saya berstatus pasien BPJS dan diperiksa di Rumah Sakit Umum negeri di Bali.

Relawan: Bisa diceritakan prosesnya lebih detail di operasi ketiga ini?

Wirya: Selanjutnya penanganan BPJS dimulai dari pengecekan awal yang sangat ribet dan antrean yang panjang, dari tanggal 24 April hingga sekarang (tanggal 22 Mei) ibu saya belum juga dapat jadwal untuk di operasi, karena menunggu jadwal periksa kembali pada tanggal 26 Mei setelah poli BPJS libur.

Relawan: Bagaimana dengan kondisi ibu saat ini?

Wirya: Ibu saya sampai saat ini harus tetap menahan nyeri dengan ginjal yang bengkak karena tertekan besarnya kista ovariumnya.

Relawan: Lalu apa yang anda lakukan saat ini?
Wirya: Saya terinspirasi oleh kisah mas Fidelis yg mengobati Alm. istrinya dengan Ganja. Pada saat itu saya mulai mendalami dengan membaca, sebagian besar dari media daring, LGN dan beberapa artikel tentang pengobatan dengan Cannabidiol Oil atau CBD oil yang mampu membunuh sel kanker, dan sebagai peningkat daya imun tubuh, sebagai obat anti depresan dan analgesik.

Relawan: Lalu bagaimana setelah anda mencari tahu lebih dalam tentang Ganja?

Wirya: Dalam penyakit ibu saya, kista termasuk dalam golongan tumor, asam lambung (karena stres) dan nyeri. Dalam pikiran saya, semua kandungan CBD oil saja mampu mengobati semua penyakit ibu saya, namun dikategorikan ilegalnya CBD oil, saya belum dapat mencoba kepada ibu saya. Menurut saya kenapa Ganja tidak di legalkan dan tidak ada penelitian kembali oleh pemerintah tentang manfaat ganja di Indonesia. Karena adanya kartel obat-obatan yg menguasai Indonesia, dimana bagi kartel tersebut “orang sakit” adalah lahan kekayaan mereka. Kenapa kartel tersebut tidak melegalkan Ganja? Karena Ganja mampu mengobati segala penyakit dan mudah di budidayakan. Jangankan obat-obatan, bahan pokok seperti telur, beras dan lain-lain pun ada kartelnya yang mengatur harga demi keuntungan mereka. Semoga Ganja segera di legalkan di Indonesia, agar tidak ada lagi orang-orang seperti ibu saya yang harus menahan nyeri dan sakit akibat menunggu jadwal operasi yg sangat lama. Salam Rahayu.

Ikhtisar Suara Legalisasi

Pengalaman adalah guru terbaik, itu bunyi pepatah. Mengapa bangsa ini tidak melihat kembali apa yang pernah dialami oleh Fidelis Ari? Catatan kelam Fidelis Ari merupakan dosa yang harus ditanggung oleh bangsa ini.

Mungkin kita masih bisa menghela napas karena keberuntungan masih berpihak kepada kita, tapi bagaimana dengan anak-anak Fidelis Ari yang kehilangan sosok ibu? sosok malaikat di dunia bagi anak-anaknya? Apakah harus ada lagi nyawa yang pergi karena ‘kemalasan’ negeri ini untuk mencari ilmu menuju kemuliaan?

Suara legalisasi rakyat yang mendorong penelitian ganja bukanlah tanpa sebab, atau karena keinginan rakyat untuk ‘mabuk-mabukkan’ karena ganja. Tapi suara rakyat, adalah bukti bahwa bangsa ini masih terus mencari ilmu yang tak berujung demi kehidupan yang lebih baik.

Semoga suara legalisasi dari Wirya dapat menyadarkan kita untuk lebih membuka mata dan telinga terhadap ilmu yang tak berujung, sebagai pondasi untuk menuju kemuliaan. Semoga Wirya dan Orangtuanya diberikan kesehatan, tak banyak yang bisa relawan LGN berikan, hanya napas perjuangan untuk membenarkan manfaat ganja demi Wirya, Ibunya, dan demi bangsa Indonesia.

Editor Dialog: Relawan LGN Bali (Dipta)

Suara legalisasi.

Share this not copy
Scroll Up