Sifat Entheogen Ganja Dibalik Penggunaan Rekreasional

Baca Ganja – Tanaman ganja memiliki nilai sejarah yang sangat kuat, tercatat sudah digunakan sejak sepuluh ribu tahun lalu, sekitar >8.000 SM. Bahkan, sifat entheogen ganja juga digunakan untuk mendorong pengalaman spiritual.

sifat entheogen ganja
Sadhu menggiling ganja.

Dilansir dari Wikipedia, enteogen adalah sebuah substansi psikoaktif yang menimbulkan pengalaman spiritual yang ditujukan untuk pengembangan atau pemakaian sakral.

Dewasa ini, penggunaan ganja di seluruh belahan dunia yang telah melegalkannya adalah untuk tujuan medis, dan ada juga sebagian negara yang melegalkan ganja untuk tujuan rekreasional seperti Kanada, Uruguay, Georgia, dan Afrika Selatan.

Etimologi

Entheogen berasal dari bahasa Yunani antara “en” yang artinya “di dalam” (in), “theo” yang artinya “tuhan” (god), dan “genes” yang artinya “menghasilkan” (produces). Jika disambung, entheogen artinya adalah menghasilkan efek spiritualitas atau masuknya sesuatu yang transendental (kerohanian).

Dalam ilmu pengetahuan dan medis, ganja telah dibuktikan memiliki efek sedatif (menenangkan) yang dapat menghilangkan penat, membuat perasaan lebih enjoy dan rileks bagi penggunanya. Diluar dari perilaku pengguna yang berkaitan dengan moral yang menjadi tanggung jawab pribadi.

Kembali lagi pada sejarah penggunaan ganja, maka kita menemukan hal yang kontras antara stigma ganja saat ini dengan zaman peradaban kuno, dimana dulunya ganja itu dimanfaatkan di setiap sendi-sendi kehidupan manusia, entah itu dijadikan obat, bahan tekstil, bahan makanan, atau untuk kebutuhan spiritualitas.

Sejarah Singkat Sifat Entheogen Ganja

Jika melihat penggunaan ganja dalam dimensi spiritualitas, tercatat dalam sejarah bahwa keagamaan jaman dulunya menggunakan ganja untuk meningkatkan atau mendorong pengalaman spiritual.

Laporan paling awal mengenai kesakralan ganja di Anak Benua India berasal dari Atharva Veda (ditulis tahun 1.500 SM – 1.000 SM) yang menyebutkan bhang — merupakan bahan olahan ganja dari India — sebagai salah satu dari lima tanaman suci.

Kitab Veda juga menyebutkan ganja sebagai ‘sumber kebahagiaan, pemberi kesenangan, dan pembebas’. Ganja sering digunakan dalam acara pernikahan atau festival keagamaan untuk memuliakan dewa Siwa, salah satu dewa tertinggi di agama Hindu.

Di jaman Tiongkok kuno, Teks pengobatan tradisional Tiongkok tertua yang ditulis oleh Kaisar Shennong, mencatat ganja sebagai salah satu obat diantara 365 obat herbal lainnya. Selain itu, ia menyebutkan jika dikonsumsi dalam dosis tepat, memungkinkan seseorang berkomunikasi dengan roh.

Seorang pendeta Taoisme di abad ke-5 Masehi menulis dalam Ming-I Pieh Lu, bahwa: “Ganja digunakan oleh ahli nujum atau peramal dalam kombinasi dengan ginseng untuk mengatur waktu guna mengungkapkan peristiwa di masa depan.”

Sedangkan di Timur Tengah, ganja disebutkan dalam Kitab Torah Nabi Musa untuk membuat minyak urapan kudus. Dan dalam agama Islam aliran Sufisme, Syekh Haydar, menggunakan ganja sebagai alat keagamaan yang mendorong ibadah menjadi lebih khusyuk.

Baca selengkapnya sejarah penggunaan ganja dalam keagamaan disini.

Premis

Terdapat hal yang saling bertolak belakang jika melihat sifat entheogen ganja dan penggunaan ganja rekreasional saat ini. Dengan dipengaruhi banyak musisi dan artis luar negeri, penggunaan ganja saat ini seolah-olah hanya untuk kesenangan semata tanpa melihat sifat entheogen ganja.

Akibat pengaruh komersil dari para artis dan musisi luar negeri tanpa mengetahui nilai sejarah yang dimiliki oleh tanaman ‘sakral’ ini, maka terjadilah error dalam pandangan norma sosial.

Tidak salah jika saat ini masih banyak yang menolak legalisasi ganja, terutama untuk kalangan orangtua, yang mungkin disebabkan oleh sudut pandang error karena melihat ganja dari pengaruh artis dan musisi luar negeri yang mungkin mengkhawatirkan sebagian orangtua.

Faktor ketidaktahuan akan nilai sejarah ganja juga berdampak atas informasi yang salah. Hal ini termasuk juga dengan masuknya ganja kedalam narkotika, bahkan dalam golongan I. Jika negara tidak mendukung, bangsa ini sulit menerima kebenaran sejarah ganja.

Tapi tampaknya banyak masyarakat yang sudah mulai mengetahui kebenaran ganja melalui bukti ilmu pengetahuan dan sejarah. Bahkan, mungkin ada yang mengetahui apa yang terdapat di dalam ganja lewat bukti empiris, seperti ‘nilai keilahian’ tanaman kanabis ini.

Tidak berlebihan jika menyebutkan kanabis memiliki ‘nilai keilahian’, lihat saja para tokoh agama juga memiliki nasib yang sama seperti tanaman ganja, yaitu sama-sama dibenci dan dimusuhi. Sama-sama memiliki perjalanan sejarah yang penuh rintangan.

Dalam Kristen, Yesus dibenci oleh kaum bangsa-Nya sendiri, disiksa, dan dianiaya. Dalam Islam, Nabi Muhammad SAW dimusuhi dan diperangi kaum musyrikin Quraisy. Dalam Buddha, ajaran-Nya dibenci karena dianggap berlawanan dengan ajaran keagamaan saat itu.

Kesimpulan

Secara etimologi, ganja yang bersifat entheogen dapat diartikan sebagai sarana spiritual atau “to come into being“. Ganja hanyalah salah satu ciptaan-Nya. Sama seperti kita manusia, walaupun manusia diberi derajat yang lebih tinggi, bukan berarti manusia harus menjadi tinggi hati.

Pada akhirnya, raga manusia hanya akan kembali ke tanah yang akan menyuburkan tanaman-tanaman Sang Pencipta lainnya. Jadi sampai kapan sikap diskriminatif manusia terhadap tanaman ganja terus dilakukan?

Share this not copy
Scroll Up