Baca Ganja – Penjelasan dosis penggunaan ganja yang aman (microdosis) hingga dosis tinggi, beserta masing-masing efeknya.

Pengantar
Stigma negatif terhadap tumbuhan ganja di masyarakat Indonesia cukup kuat. Berkembang selama puluhan tahun karena faktor hukum yang tertuang dalam UU Narkotika Nomor 35 Tahun 2009. Dalam undang-undang yang masih berlaku hingga saat ini, tumbuhan ganja dikategorikan sebagai jenis narkotika Golongan I.
Narkotika Golongan I adalah jenis narkotika yang dinilai tidak memiliki manfaat kesehatan (medis) dan memiliki potensi sangat tinggi menyebabkan ketergantungan. Undang-undang juga melarang penggunaan ganja untuk kepentingan pelayanan kesehatan umum. Para ahli medis dan dokter tidak dapat secara terbuka memberikan informasi riset ilmiah ganja karena terikat dengan kode etik. Yang melarang dokter melakukan promosi obat atau zat yang bertentangan dengan regulasi kesehatan; termasuk senyawa ganja yang dikenal psikoaktif, tetrahydrocannabinol (THC).
Di sisi lain, ada indikasi kuat keberadaan pasar gelap ganja di Indonesia. Buktinya, ada data tahun 2020 Indonesia melakukan ekspor-impor ganja; dan yang terbaru adalah temuan viral ladang ganja di Taman Nasional Bromo, Lumajang, pada bulan September 2024.
Keberadaan pasar gelap dan terbatasnya edukasi ilmiah tentang ganja karena stigma negatif. Hanya akan mengorbankan masyarakat yang menjadi pengguna. Misalnya kelebihan dosis senyawa THC ganja sehingga menyebabkan kecemasan, atau sudut pandang yang salah melihat ganja untuk sensasi efek ‘high‘-nya saja. Sehingga mereka akhirnya pergi pada jenis narkotika sintetis, seperti ‘tembakau sinte’, untuk mencari efek yang lebih kuat tapi berdampak buruk.
Bahkan di negara yang melegalkan ganja seperti di Thailand, walaupun setiap produknya menyertakan masing-masing kadar kandungan THC-nya. Namun informasi kadar tersebut tidak dapat dijadikan ukuran yang tepat untuk menakar jumlah senyawa THC yang masuk ke tubuh. Bagaimana cara mengukurnya? Artikel ini sudah merangkum beberapa penelitian terhadap kadar dosis THC ganja, mulai dari dosis rendah (microdosis) hingga dosis tinggi, serta masing-masing efeknya.
!!! Artikel ini bertujuan mengedukasi berdasarkan hasil riset ilmiah dan tidak bermaksud untuk mengajak, menggunakan, atau memiliki barang yang melanggar hukum !!!
Penelitian Efek dari Kadar Dosis THC Ganja
Penelitian di tahun 2017 yang dipublikasi jurnal Drug and Alcohol Dependence, menemukan efek dari berbagai kadar THC terhadap stres. Para peneliti di University of Illinois dan University of Chicago melaporkan; bahwa kadar rendah tetrahydrocannabinol, atau THC, senyawa psikoaktif utama dalam ganja, dapat mengurangi stres, tetapi dengan cara yang sangat bergantung pada dosis.
Dosis yang sangat rendah mengurangi rasa gugup saat berbicara di depan umum. Sementara dosis yang sedikit lebih tinggi; bagi sebagian orang cukup untuk memberi efek ‘high‘, sedangkan bagi yang lain meningkatkan kecemasan.
Penelitian ini dilakukan dengan merekrut 48 relawan sehat berusia 18-40 tahun yang memiliki pengalaman dengan penggunaan ganja, tetapi bukan pengguna harian. Peserta dibagi secara acak menjadi tiga kelompok:
- Kelompok satu: menerima kapsul yang mengandung 7,5 mg THC (dosis rendah)
- Kelompok dua: menerima kapsul yang mengandung 12,5 mg THC (dosis sedang)
- Kelompok tiga: menerima kapsul plasebo tanpa kandungan THC sama sekali
Hasil penelitian menunjukkan; peserta yang menerima 7,5 mg THC melaporkan lebih sedikit stres setelah tes psikososial dibandingkan mereka yang diberi plasebo, dan tingkat stres mereka menghilang lebih cepat setelah tes.
Sedangkan peserta yang menerima 12,5 mg THC, melaporkan suasana hati negatif yang lebih besar sebelum dan selama tes psikososial dan menilainya sebagai tugas yang “menantang” dan “mengancam”. Peserta kelompok dua juga memiliki lebih banyak jeda selama proses wawancara tiruan dibandingkan dengan mereka yang berada dalam kelompok plasebo.
Peneliti berpendapat temuannya memberikan beberapa dukungan untuk klaim umum, bahwa ganja dapat digunakan untuk mengurangi stres dan meredakan ketegangan atau kecemasan. Tapi pada saat yang sama, temuan ini juga mendukung gagasan bahwa THC juga dapat menghasilkan efek sebaliknya jika digunakan dalam dosis yang lebih tinggi.
Penelitian Lain Efek Kadar Dosis THC
Di tahun 2020, jurnal Drug and Alcohol Dependence kembali melakukan penelitian kepada 17 orang dewasa sehat yang tidak menggunakan ganja selama setidaknya 60 hari untuk menyelesaikan empat sesi eksperimen di mana mereka mengonsumsi brownies yang mengandung 0, 10, 25, atau 50 mg THC. Efek subjektif, tanda-tanda vital, kinerja kognitif/psikomotor, dan konsentrasi THC dalam darah dinilai sebelum dan selama 8 jam setelah pemberian dosis.
Hasil riset menunjukkan; dibandingkan dengan plasebo, dosis THC 10 mg menghasilkan efek obat subjektif yang dapat dibedakan dan peningkatan denyut jantung tetapi tidak mengubah kinerja kognitif/psikomotor. Dosis THC 25 dan 50 mg menimbulkan efek subjektif yang nyata dan sangat mengganggu fungsi kognitif dan psikomotor dibandingkan dengan plasebo.
Untuk semua dosis aktif, efek farmakodinamik tidak muncul hingga 30-60 menit setelah konsumsi, dan efek puncak terjadi 1,5-3 jam pasca pemberian. Kadar THC dalam darah berkorelasi signifikan dengan beberapa efek obat farmakodinamik, tetapi jauh lebih rendah daripada yang biasanya diamati setelah menghirup ganja.
Tingkatan Kadar Dosis THC Ganja
Setelah lebih dari >50 tahun tumbuhan ganja dan produk ekstraknya diklasifikasikan dalam Daftar IV Konvensi Narkotika 1961 sebagai kategori narkotika paling berbahaya, pada tahun 2020, Komisi Narkotika PBB (United Nations Commission on Narcotic Drugs/UNCND) melakukan reklasifikasi ganja, dengan menghapusnya dari Daftar IV dan menempatkannya dalam Daftar I, yaitu golongan zat yang memiliki potensi manfaat medis, meskipun tetap diawasi ketat penggunaannya.
Berangkat dari peluang ini, para dokter ahli (anestesi, psikiatri, rehabilitasi, dll) dari 9 negara—Inggris, Kanada, Brazil, Israel, Afrika Selatan, Australia, Jerman, Denmark, dan AS—pada tahun 2021 menetapkan pedoman klinis dosis, dan cara pemberian ganja medis yang aman untuk pasien nyeri kronis.
Untuk dosis THC para ahli medis sepakat dimulai dari dosis 1 mg hingga 2,5 mg (miligram). Dan batasan dosis tertingginya adalah 40 mg. Dalam penelitian lain, peneliti menemukan bahwa pemberian satu mikrodosis THC, dapat meningkatkan fungsi kognitif secara luar biasa bagi yang mengalami penuaan, termasuk perubahan morfologi dan biokimia otak yang signifikan.
Berikut ini adalah tabel rangkuman dosis THC beserta efeknya berdasarkan sumber jurnal yang telah dibahas:
| Dosis THC (Oral) | Efek |
| Microdosis (<1–2,5 mg) | Pelindung saraf, mengurangi kecemasan. |
| Dosis Rendah (2,5–10 mg) | Mengurangi stres, neuroprotektif, meredakan ketegangan dan kecemasan. |
| Dosis Sedang (10–25 mg) | Perubahan suasana hati, efek ‘high‘, adanya rasa cemas (subjektif) |
| Dosis Tinggi (25–50 mg) | Efek ‘high’, mengganggu fungsi kognitif dan psikomotor (subjektif) |
Menghitung Kandungan Senyawa THC Ganja
Tujuan legalisasi ganja selain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi seperti di Thailand, gunanya adalah untuk menjaga keterbukaan informasi serta kualitas dari produk yang dijual. Sehingga konsumen atau pengguna merasa aman dan mengetahui batas kadar THC dari setiap produknya.
Kita dapat mengukur jumlah senyawa THC dalam bunga ganja dengan mengetahui persentase kandungan THC-nya. Misalnya pada jenis strain ‘Strawberry OG’ yang mengandung kadar THC sekitar 22% hingga 26%.

Jika strain Strawberry OG tertulis mengandung 22% THC, artinya setiap satu gram bunga mengandung 22% THC:
- 1 g (gram) = 1.000 mg (miligram)
- 1.000 mg * 22% = 220 mg
- Dalam 1g bunga ganja Strawberry OG, mengandung 220 mg senyawa THC.
Penjelasan di atas adalah contoh menghitung kadar kandungan THC dalam satu gram bunga ganja. Tetapi ini bukan patokan yang tepat untuk menghitung jumlah dosis THC yang masuk ke tubuh. Karena setiap cara pemakaiannya, ada sejumlah senyawa THC yang menguap.
Inhalasi (Lintingan Rokok)
Pada umumnya, ganja digunakan dengan cara dilinting kemudian dihisap. Walaupun ini adalah cara yang cepat untuk merasakan efek THC, tapi sebenarnya banyak kandungan senyawa THC yang terbuang sia-sia karena proses pembakaran ini. Hanya sekitar 35% THC dari total jumlah persentase kandungan THC yang masuk dan diserap oleh darah, dan 65% sisanya menguap saat proses pembakaran.
Pada umumnya, selinting ganja ukuran medium memiliki berat 0.5 gram. Jika bunga ganja yang dilinting memiliki kandungan THC sebesar 22%, maka total dosis ganja yang masuk ke tubuh adalah:
- 0,5 g (gram) = 500 mg (miligram)
- 500 mg * 22% = 110 mg (jumlah kandungan THC dalam selinting ganja)
- 110 mg * 35% = 38,5 mg (jumlah dosis THC yang masuk ke tubuh dalam selinting ganja)
- 110 mg * 65% = 71,5 mg (jumlah THC yang terbuang dalam selinting ganja)
- Dari selinting ganja medium (500mg) dengan kandungan 22% THC, jumlah total dosis THC yang masuk ke tubuh adalah 38,5mg.
Perhitungan ini tidak selalu tepat, karena adanya kemungkinan perbedaan ukuran dan perbedaan interval waktu penghisapan.
Oral (Produk Edibles)
Untuk menggunakan ekstrak ganja oral ataupun produk turunannya yang diolah menjadi makanan, memerlukan informasi yang jelas dan akurat terkait kadar/dosis THC yang disajikan, agar terhindar dari gangguan efek samping yang tidak diinginkan. Ini dikarenakan penggunaan ganja secara oral memiliki jalur metabolisme yang berbeda dengan metode inhalasi.
Baca juga: Cara kerja senyawa THC dalam tubuh
Efeknya baru bekerja dan mencapai puncaknya sekitar 1,5–3 jam setelah konsumsi. Sehingga dosisnya harus dipastikan dimulai dari dosis mikro (<1–2,5 mg) atau dosis rendah (2,5–10 mg), agar mendapatkan efek terapeutik maksimal dengan efek samping minimal.
Selain itu, salah satu faktor yang menyebabkan adanya perbedaan efek THC yang dirasakan subjek, dikarenakan adanya perbedaan kadar/kondisi sistem endocannabinoid (ECS) dalam tubuh. Ada orang yang memiliki senyawa endocannabinoid yang cukup dalam tubuhnya, namun ada juga orang yang membutuhkan bantuan cannabinoid dari ganja.
Dengan adanya penelitian dan pedoman penggunaan dosis THC yang terkontrol ini, dapat menjadi pengetahuan dasar mengenai penggunaan ganja yang aman (microdosis), dan dimulai dari dosis rendah (start low go slow).
Referensi: -Dose-related effects of delta-9-THC on emotional responses to acute psychosocial stress -Pharmacodynamic dose effects of oral cannabis ingestion in healthy adults who infrequently use cannabis -Hippocampal differential expression underlying the neuroprotective effect of delta-9-tetrahydrocannabinol microdose on old mice -Pharmacokinetics of cannabinoids