Baca Ganja – Esai tentang kritik Karl Marx terkait agama yang menjadi candu masyarakat dan soal visi etis teologis. Apakah agama tidak diperlukan lagi?
Pengantar
Sebentar lagi manusia menyambut tahun 2026. Tidak terasa, bumi telah melalui seperempat abad ke-21. Tapi tampaknya, dari prediksi sains dan krisis lingkungan yang terjadi, bumi tidak akan bertahan hingga abad ke-22 jika makhluk yang memiliki rasio otak lebih besar dibanding tubuhnya—yaitu manusia—tidak menggunakan otaknya dengan baik. Tidak ada yang lebih sia-sia daripada hewan yang tidak menggunakan kapasitas organnya dengan baik; harimau menggunakan taringnya, burung menggunakan sayapnya, dan seharunys Homo sapiens (yang enggan disamakan dengan binatang) menggunakan otaknya.
Dampak buruk bagaimana salah satu makhluk yang diberikan rasio otak paling besar tapi tidak menggunakannya, juga dapat dilihat dari bagaimana mereka menyia-nyiakan visi etis teologis dalam agama. Agar tidak bertele-tele dan padat, saya awali dengan pernyataan dan kritik Karl Marx bahwa “agama adalah candu”. Kesepakatan saya dengan pernyataan ini didasarkan karena pendapat Marx ini didasari oleh nilai sosialisme yang lebih luas. Namun di sisi lain, saya juga bisa tidak sepakat dengan pernyataan Marx, jika pendapatnya berdasarkan hanya karena semata penolakannya terhadap entitas keberadaan nabi-nabi terdahulu; artinya Marx sendiri juga menyia-nyiakan visi etis teologis.
Esai ini selanjutnya akan membahas lebih jauh kritik yang mendukung dan menolak gagasan bahwa “agama adalah candu” dari Karl Marx.
Agama adalah candu (Kritik Marx)
Melihat kondisi di Indonesia saat ini, pernyataan dan kritik Marx terhadap agama terlihat sangat relevan. Menurut Marx, agama digunakan oleh kepentingan penguasa (kapitalis) untuk menjinakkan masyarakat dengan khayalan-khayalan surgawi yang akan datang. Tujuannya agar masyarakat menerima penderitaan-penderitaan duniawi sebagai nasibnya, dan harapan adalah satu-satunya iman yang harus dipertahankan agar tetap membutakan mereka untuk terus dapat dieksploitasi dan dimanipulasi.
Produk akhir dari masyarakat yang dicekoki dengan khayalan dan harapan semu adalah masyarakat fanatik buta yang dianalogikan sebagai candu oleh Marx. Fenomena ini jelas terlihat, bagaimana permisifnya masyarakat terhadap pelecehan seksual yang terjadi dalam Lembaga Pendidikan Agama mayoritas. Jika di AS, ada Gereja yang melakukan pelecehan seksual, maka di Indonesia ada Pesantren yang melakukan pelecehan seksual. Nafsu binatang ini seolah dibenarkan oleh seseorang yang memiliki rasio otak yang lebih besar dari tubuhnya dibalik nama agama.
Selain itu, Organisasi Keagamaan di Indonesia juga cukup unik, dimana lembaga agama terlibat dalam kepentingan ijin tambang yang sifatnya materialistis dan eksploitatif. Bahkan kuota masyarakat untuk berziarah ke Tanah Suci (Kuota Haji) dikorupsi oleh pemerintah yang telah melakukan Sumpah diatas Kitab Suci. Anehnya, masyarakat Indonesia tidak banyak berkomentar atau menunjukkan sikap marah akan hal ini.
Walaupun pendapat Marx menggambarkan realitas dalam masyarakat Indonesia, bukan artinya pendapatnya benar seutuhnya. Sebab tidak ada satupun ajaran agama yang sia-sia, jika manusia memahaminya menggunakan akal dan bukan dengan keyakinan buta. Memang dalam agama, dogma atau doktrin adalah bagian paling besar yang menjadi perintah sekaligus pembatas untuk memisahkan dengan agama yang lainnya. Namun, dalam seluruh agama pasti ada bagian kecil yang disebut sebagai filosofi, dan filosofi inilah yang sebenarnya mengandung nilai universal dan kemanusiaan, tapi karena masyarakat umumnya hanya memperhatikan bagian besar (dogma dan doktrin), akhirnya bagian-bagian kecil yang universal disingkirkan.
Untuk mempermudah penyebutan bagian kecil ini, saya menyebutnya dengan visi etis teologis. Dalam setiap visi etis teologis dalam agama manapun, dasarnya adalah sama; yaitu perintah untuk tidak membunuh sesama manusia. Selain itu, visi etis teologis juga menuntut manusia untuk menjaga keseimbangan—sifat yang juga dimiliki oleh ganja. Namun tampaknya, visi etis teologis yang universal ini sering kali dikesampingkan, yang selalu saja tertutup bagian paling besar—dogma dan doktrin.
Bagi si dungu (Pentingnya Visi Etis Teologis)
Bagian esai ini akan menjelaskan seberapa penting visi etis teologis, dan sebagai kritik untuk menentang pendapat Marx. Harus diakui bahwasannya gagasan sosialis Marx yang menghubungkan teori evolusi Darwin dengan sejarah materialisme sungguh menarik, namun bukan berarti dialah entitas atau wujud pertama yang mengajarkan nilai sosialisme dan anti-pembangunan. Dalam pendidikan agama, saya lebih dulu mengenali entitas itu dalam tokoh yang tercatat dalam dua Kitab Suci, yaitu Isa/Yesus.
Disini, saya tidak membahas perbedaan kisah hidup Isa/Yesus dalam dua agama, melainkan mengenali tindakan dan ajaranNya yang tidak banyak dikisahkan dalam rumah-rumah ibadah. Pada umumnya, Isa/Yesus dikenal sebagai Pribadi yang penuh kedamaian, kasih sayang, dan empati. Namun, bukan artinya Ia tak pernah marah ketika melihat hal yang tidak dikehendakiNya. Ada satu peristiwa—dan satu-satunya—dimana Ia marah dan mengamuk ketika melihat orang-orang berjualan di depan Rumah Ibadah layaknya seperti pasar. Peristiwa ini jelas menunjukkan selain memiliki kasih sayang, Ia juga memiliki nilai anti-pembangunan—yang tujuan akhirnya hanyalah keuntungan materi.
Peristiwa ini sekaligus menunjukkan bahwa nilai sosialisme dan anti-pembangunan Isa/Yesus mendahului gagasan yang lahir dari Marx. Perbedaan antara keduanya adalah, Isa/Yesus semasa hidupnya hanya memiliki duabelas murid yang itupun salah satunya berkhianat; sedangkan Marx setidaknya masih mendapat lebih banyak dukungan. Selain itu, gagasan Isa/Yesus tidak didorong dengan tujuan mendominasi, melainkan dengan ide non-dominasi (menyembuhkan dan merawat), berbeda dengan Marx yang memiliki unsur dominasi (diktator proletariat), walaupun membawa nilai yang sama.
Yang hari ini manusia butuhkan adalah visi etis yang merawat nilai-nilai universal, baik sesama manusia, makhluk hidup, maupun dengan lingkungan. Sudah seharusnya kita marah melihat segala kerusakan yang terjadi hanya demi keuntungan materi, dan itu wajar. Saat ini manusia tidak membutuhkan pengwahyuan, atau pengharapan palsu berdoa Isa/Yesus akan segera turun ke bumi, karena waktu itu tidak pernah akan pernah datang sebelum tumbuh kesadaran dalam diri manusia yang menjalani hidup dengan visi etis teologis—bukan sekadar dogma dan doktrin.
Referensi: -Church allowed abuse by priest for years, Boston Globe (2022) -Kekerasan seksual di pesantren bukan dibesar-besarkan (2025) -Intelektual Muda NU Dukung Pengembalian Tambang ke Pemerintah (2025) -KPK Bongkar Kasus Korupsi Kuota Haji Usai Dalami dan Analisis Temuan Pansus (2025)