Berbagai Penyakit Kulit yang Dapat Diobati dengan Senyawa Ganja

Baca Ganja – Penyebab dan gejala penyakit kulit bervariasi. Ada penyakit kulit yang terasa gatal atau nyeri, ada juga yang hanya membuat kulit jadi tidak enak dipandang. Studi menemukan bahwa cannabinoid (senyawa ganja) berpotensi mengatasi berbagai penyakit kulit.

berbagai penyakit kulit

Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari bakteri, virus, sinar matahari, membantu mengatur suhu tubuh, merasakan sensasi sentuhan atau nyeri, serta menghasilkan vitamin D. Namun, kulit sebagai bagian terluar tubuh kerap menerima berbagai paparan dari lingkungan yang dapat dengan mudah menimbulkan gangguan atau penyakit pada kulit.

Cannabinoid bekerja terhadap kulit lewat reseptor cannabinoid yang terdapat pada daerah kulit. Reseptor cannabinoid yang dimodulasi cannabinoid mempengaruhi pensinyalan, serta mempengaruhi homeostatis adneksa kulit (yang terdiri dari kelenjar kulit, rambut, dan kuku) dan metabolisme sel-sel kulit.

Reseptor cannabinoid yang termasuk bagian sistem endocannabinoid pada daerah kulit terlibat dalam proses diferensiasi kulit, proliferasi, dan kelangsungan hidup melalui tindakan Anandamide (AEA) dan 2-AG yang diproduksi di berbagai struktur kulit dan memodulasi berbagai fungsi kulit dan pelengkapnya, termasuk pertumbuhan rambut, menjaga sistem pelindung kulit, respon imun, dan proses memasukkan sensorik seperti rasa gatal (pruritus) dan nyeri.

Penyakit kulit dapat muncul secara tak terduga, dan banyak orang menganggap penyebabnya selalu berkaitan dengan kebersihan tubuh yang buruk. Padahal, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan munculnya penyakit kulit. Berikut ini faktor berbagai penyakit kulit dan cara senyawa ganja mengobatinya.

Penyakit Kulit akibat Peradangan / Inflamasi (Dermatitis)

berbagai penyakit kulit, dermatitis
Dermatitis Kontak Alergi.

Peradangan pada kulit disebut dermatitis. Kondisi ini terjadi ketika kulit bersentuhan dengan bahan yang bersifat iritatif atau dengan alergen (zat atau benda yang menyebabkan reaksi alergi). Gejala dermatitis umumnya berupa gatal, kemerahan, dan bengkak.

Peradangan (inflamasi) pada dermatitis melibatkan peningkatan ekspresi sitokin pro-inflamasi seperti interferon dan interleukin, yang mengarah ke aktivasi berbagai sel T pembantu dan memicu aktivasi kaskade yang menyebabkan perkembangan penyakit.

Penelitian menunjukkan bahwa senyawa ganja, CBD (cannabidiol), menekan reaksi inflamasi dan mengurangi peradangan dengan menghambat kemokin CCL8 dan beberapa sitokin pro-inflamasi, seperti interleukin (ILs) 6 dan 8, serta TNF-alpha. CBD juga terbukti menurunkan aktivitas respon yang serupa dalam uji coba pada splenosit — organ imun sel limpa.

Penyakit Kulit akibat Auto-imun (Psoriasis)

berbagai penyakit kulit psoriasis
Ilustrasi penyakit psoriasis.

Gangguan auto-imun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang dan menghancurkan jaringan tubuh yang sehat. Salah satu penyakit kulit akibat autoimun yang dapat diobati dengan cannabinoid adalah psoriasis.

Psoriasis merupakan kondisi dimana sel-sel kulit tumbuh terlalu cepat, sehingga menumpuk dan membentuk bercak kemerahan disertai sisik berwarna perak. Ini diakibatkan adanya disregulasi sistem kekebalan tubuh — peningkatan dan produksi imun yang berlebihan.

Pengobatan psoriasis menggunakan cannabinoid sangat menjanjikan, karena efeknya dalam menghambat proliferasi keratinosit sekaligus memodulasi komponen inflamasi yang berkaitan. Efek benefit cannabinoid pada psoriasis adalah mengkonversi sel Th-1 yang bersifat pro-inflamasi menjadi ekspresi sel tipe Th-2 yang anti-inflamasi.

Kanker Kulit

Diduga kuat kanker kulit disebabkan oleh paparan sinar ultraviolet dari matahari. Sinar UV ini dapat menyebabkan rusaknya sel pada kulit, hingga menimbulkan kanker kulit. Cannabinoid diteliti dapat mengobati beberapa kanker kulit dengan memodulasi sistem endocannabinoid.

Sistem endocannabinoid pada kulit yang mengikat cannabinoid, berkontribusi dalam meregulasi diferensiasi dan proliferasi sel melalui senyawa mirip cannabinoid yang diproduksi alami oleh tubuh, AEA (anandamide) dan FAAH yang mempertahankan homeostatis melalui pensinyalan reseptor cannabinoid (CB-1 dan CB-2).

Cannabinoid menunjukkan sifat pro-apoptosis dan anti-proliferatif pada berbagai jenis kanker seperti kanker prostat, saluran pencernaan, dan karsinoma payudara, dengan senyawa CBD yang menunjukkan efek anti-tumor yang paling kuat.

Melanoma

melanoma
Ilustrasi penyakit melanoma.

Melanoma adalah kanker kulit paling mematikan yang berasal dari sel penghasil pigmen kulit (melanosit) karena terpapar radiasi sinar matahari ataupun ultraviolet buatan yang menyebabkan kerusakan sel pada kulit serta meningkatkan stress imun.

THC (tetrahydrocannabinol) dalam ganja diteliti dapat menyebabkan sel kanker melanoma berapoptosis — membuat sel kanker mematikan dirinya secara terprogram — dan efeknya lebih kuat saat digunakan bersama CBD.

Penggunaan THC dan CBD secara bersamaan memproduksi senyawa oksigen reaktif (ROS) dan aktivasi caspace. Aktivasi caspace termasuk salah satu pengatur (regulator) proses apoptosis. Ini menunjukkan bahwa THC dan CBD bekerja sama dalam menginduksi apoptosis lewat mekanisme yang berbeda.

Sarkoma Kaposi

berbagai penyakit kulit, sarkoma kaposi
Sarkoma kaposi.

Salah satu jenis kanker langka yang muncul akibat infeksi virus human herpesvirus 8 (HHV8). Virus ini menyerang sel-sel yang melapisi saluran dan kelenjar getah bening atau pembuluh darah yang biasanya menyerang orang dengan daya tahan tubuh yang rendah, seperti penderita HIV.

CBD diteliti menginduksi apoptosis pada sel endotel yang terinfeksi sarkoma kaposi yang berhubungan dengan virus herpes (KSHV) dengan menghambat virus reseptor terhubung protein G (vGPCR) dan mengurangi protein GRO-alpha, sehingga menghambat pertumbuhan dan transformasi sel tumor.

GRO-alpha adalah kemokin yang bertindak sebagai agonis — yang mengaktifkan dan mengikat reseptor — vGPCR, yang merupakan pengatur utama dalam inflamasi, angiogenesis, dan tumorigenesis, yang menandakan adanya hubungan dalam proses ini di lingkungan tumor.

Namun, penelitian lainnya menunjukkan bahwa THC dalam dosis rendah menghasilkan efek yang bertentangan dengan CBD. Ini karena THC bertindak sebagai promotor (pendukung) KSHV, dengan memfalisitasi replikasi virus melalui aktivasi ORF50 pada sel endotel mikrovaskular dermal. Ini mungkin dihasilkan dari potensi agonis THC yang mengikat reseptor CB-1 dan CB-2, dan jalur pensinyalan berikutnya yang terlibat.

Jerawat

Gangguan kulit yang berhubungan dengan produksi minyak (sebum) yang berlebih. Jerawat terjadi ketika folikel rambut atau tempat tumbuhnya rambut tersumbat oleh minyak dan sel kulit mati, sehingga menyebabkan peradangan serta penyumbatan pada pori-pori kulit yang ditandai dengan munculnya benjolan kecil di permukaan kulit.

Penelitian menemukan bahwa senyawa ganja dapat menurunkan produksi minyak (sebum), menghambat proliferasi sebosit, dan mengurangi ekspresi sitokin pro-inflamasi secara aman. Termasuk uji coba pada manusia dimana penggunaan topikal selama 12 minggu menunjukkan hasil yang baik dalam mengurangi eritema dan sebum kulit.

Efek CBD dalam menghambat sekresi sebum dan proliferasi sebosit tidak dimediasi lewat reseptor cannabinoid (CB-1 dan CB-2), melainkan melalui aktivasi TPRV1, 3, dan 4. CBD memberikan efek anti-inflamasi melalui reseptor adenosin A2A, sehingga menghambat jalur inflamasi p65 NF-kB.

Hasil Penelitian Observasi Kelompok

Cannabinoid meredakan penyakit kulit tertentu

Studi penelitian yang diterbitkan Journal of American Academy of Dermatology merangkum literatur yang menyimpulkan bahwa obat-obatan yang mengandung cannabinoid berpotensi efektif melawan eksim, psoriasis, atopik, dan dermatitis kontak alergi.

Studi observasi kelompok mencatat 8 dari 21 pasien yang mengoleskan krim cannabinoid dua kali sehari selama tiga minggu benar-benar menghilangkan rasa gatal atau pruritus yang parah. Obat tersebut mungkin telah mengurangi kulit kering yang menimbulkan rasa gatal.

Peneliti meyakini pendorong utama dalam perawatan cannabinoid ini adalah sifat anti-inflamasi mereka. Dalam studi yang diteliti, ditemukan bahwa THC (tetrahydrocannabinol), bahan aktif dalam ganja, mengurangi pembengkakan dan peradangan pada tikus uji coba.

Di saat yang sama, terlihat tikus dengan melanoma menghambat pertumbuhan tumor yang signifikan saat disuntik dengan THC. Peneliti mengatakan bahwa obat topikal cannabinoid dengan sedikit ataupun tanpa efek psikotropika dapat digunakan untuk penyakit kulit.

Efek terapeutik salep CBD terhadap gangguan inflamasi kulit dan bekas luka

Studi lain dari 20 pasien dengan kelainan kulit, yaitu; psoriasis (5 pasien), dermatitis atopik / eksim (5 pasien), dan bekas luka (10 pasien), di instruksikan untuk menggunakan salep mengandung CBD dua kali sehari selama tiga bulan ke area kulit yang mengalami gangguan.

Hasil evaluasi kulit menunjukkan pengobatan topikal dengan salep yang mengandung CBD secara signifikan meningkatkan parameter kulit dan tidak menunjukkan adanya reaksi iritan atau alergi selama pengobatan.

Bisa disimpulkan bahwa salep CBD tanpa THC adalah alternatif yang aman dan efektif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan beberapa kelainan kulit, terutama yang disebabkan oleh peradangan atau inflamasi.

– Berbagai penyakit kulit yang dapat diobati dengan senyawa ganja.


Referensi:
-https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7037408/
-https://www.sciencedaily.com/releases/2017/04/170418094315.htm
-https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30993303/

Tinggalkan komentar

Share this not copy