Reseptor Asetilkolin Nikotinat: Target Kecanduan Ganja dan Alkohol

Baca Ganja – Dalam tubuh manusia, terdapat reseptor asetilkolin nikotinat (nAChR) yang mudah mengikat dengan senyawa nikotin. Reseptor nAChR dapat menjadi target kecanduan dan penyalahgunaan ganja dan alkohol.

reseptor asetilkolin nikotinat target kecanduan ganja
Disebut sebagai reseptor asetilkolin nikotinat (nAChR) karena tingginya daya ikat dengan senyawa nikotin.

Intro

Bagi para perokok tembakau, senyawa nikotin mungkin sudah tidak asing lagi terdengar. Nikotin adalah senyawa alkaloid yang dihasilkan secara alami oleh tanaman. Senyawa yang bersifat adiktif ini membuat perokok mengalami ketergantungan terhadap rokok atau produk lainnya yang mengandung nikotin.

Hal itu terjadi karena nikotin mengaktifkan reseptor asetilkolin nikotinat (nAChR) di dalam tubuh dan bertindak sebagai agonis (senyawa yang akan menimbulkan efek).

Nikotin yang mengaktifkan nAChR akan melepaskan senyawa dopamin, yang dapat membuat perasaan membaik dan merasa nyaman sehingga membuat penggunanya menjadi ketergantungan.

Reseptor nAChR terdapat di sistem saraf dan jaringan otot. Dalam sistem saraf, nAChR bertugas untuk meneruskan sinyal keluar dari presinaptik ke sel-sel postsinaptik.

Reseptor nAChR juga ditemukan pada otot rangka yang menerima asetilkolin yang dilepaskan ke sinyal untuk kontraksi otot. Dalam sistem kekebalan tubuh, nAChR mengatur proses inflamasi dan sinyal melalui jalur intraseluler yang berbeda.

Fungsi utama reseptor nAChR adalah untuk memicu pengiriman sinyal saraf dan neuromuskular yang cepat. Tapi saat ini, ilmuwan menemukan bahwa reseptor nAChR dapat menjadi target baru untuk mengatasi kecanduan alkohol, penyalagunaan obat-obatan dan juga ganja.

Potensi Reseptor Asetilkolin Nikotinat Mengatasi Kecanduan Alkohol

Alkohol merupakan zat yang paling sering disalahgunakan oleh manusia. Etanol (EtOH) adalah senyawa memabukkan dalam minuman beralkohol yang dapat menyebabkan penyalahgunaan dan ketergantungan. Sedangkan di sisi lain, penggunaan alkohol dianggap memiliki efek positif dan negatif.

Alkohol yang dikonsumsi dalam dosis rendah telah terbukti memberikan perlindungan kardiovaskular (jantung), sedangkan pesta minuman keras berpotensi dengan penyakit kardiovaskular (penyakit jantung) yang lebih tinggi.

Tidak seperti senyawa adiktif lainnya (seperti morfin, kokain atau nikotin) yang memiliki target molekul spesifik, etanol mempengaruhi fungsi saraf yang lebih luas dan molekul pensinyalan intraseluler.

Bukti genetik secara klinis menunjukkan bahwa etanol secara langsung dan tidak langsung memodulasi fungsi nAChR, yang mungkin mendasari reward alkohol dan ketergantungan. Garis bukti ini juga membangun dasar pemikiran bahwa nAChR berpotensi besar menjadi target sebagai perantara dalam penyalahgunaan alkohol.

Uji coba farmasi menunjukkan bahwa reseptor nAChR menjadi target penting dalam memediasi reward dan ketergantungan alkohol. Misalnya dengan memberikan senyawa mekamilamin secara signifikan akan mengurangi konsumsi etanol pada tikus.

Injeksi mekamilamin mengurangi respon tikus terhadap etanol. Karena mekamilamin bertindak sebagai blocker, maka ia memblokir semua subtipe nAChR kecuali α-nAChR. Reseptor nAChR kemungkinan menjadi target penting untuk perubahan perilaku yang diinduksi etanol.

Ada tiga obat yang disetujui FDA untuk mengobati alkoholisme, diantaranya adalah; disulfiram, naltrexone, dan acamprosate. Sayangnya, hanya 20% – 30% dari pasien yang diobati merespon positif terhadap obat ini dan beberapa dari obat ini telah menunjukkan efek samping negatif yang serius.

Dengan demikian, ada kebutuhan mendesak untuk mengembangkan obat baru untuk pengobatan alkoholisme. Baru-baru ini, ligan terkait nAChR telah ditunjukkan sebagai kandidat potensial untuk tujuan ini.

Kesimpulannya, alkoholisme adalah gangguan kompleks yang mengubah banyak fungsi otak. Etanol menginduksi susunan fungsi saraf. Tindakan etanol pada nAChR di jalur mesolimbik menandai reseptor ini bertanggung jawab dalam pemberian reward dan ketergantungan etanol.

Bukti saat ini menetapkan nAChR sebagai target farmakologis yang baru dan menjanjikan dalam pengembangan obat baru untuk pengobatan alkoholisme.

Reseptor Asetilkolin Nikotinat Sebagai Target Kecanduan Ganja

Meningkatnya penggunaan ganja di negara yang telah melegalisasi ganja, membuat pencarian obat untuk mengurangi penyalahgunaan menjadi sangat penting.

Para ilmuwan biologi dari University of Poitiers menunjukkan bahwa reseptor nAChR adalah molekul baru yang dapat ditargetkan dalam pengembangan obat baru untuk pengobatan ketergantungan ganja.

Uji coba yang dilakukan terhadap tikus dengan pemberian senyawa antagonis reseptor nAChR, methyllycaconitine (MLA), menunjukkan bahwa MLA membalikkan efek senyawa ganja (cannabinoid) pada dosis yang tidak menghasilkan efek depresan ataupun toksik.

Yang artinya, methyllycaconitine dapat berperan sebagai agen yang berpotensi dalam pengobatan penyalahgunaan ganja pada manusia, karena dapat membuat senyawa psikoaktif dalam ganja, sepeti THC, tidak menghasilkan efek high.

Efek Senyawa CBD dan THC Terhadap nAChR

Dua senyawa ganja pada umumnya, yaitu tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidiol (CBD) telah terbukti memiliki potensi terapi yang luar biasa dalam banyak gangguan neurologis seperti kecemasan, kejang, gangguan stres pasca-trauma, dan nyeri. Satu studi menunjukkan bahwa penggunaan CBD dapat mengurangi konsumsi rokok hingga 40%.

Namun, sedikit yang diketahui tentang efek yang dimiliki oleh CBD terhadap fungsi reseptor asetilkolin nikotinat (nAChR). Hasil yang dipublikasikan menunjukkan bahwa CBD mengurangi respons nAChR terhadap asetilkolin.

Asetilkolin merupakan salah satu jenis zat kimia penghantar rangsangan saraf. Berperan dalam mentransmisikan sinyal atau rangsangan yang diterima untuk diteruskan di antara sel-sel saraf yang berdekatan.

Ilmuwan mengkarakterisasi efek CBD dan THC pada fungsi nAChR. Hasil menunjukkan bahwa CBD mengurangi respon nAChR ke asetilkolin sebesar 49%, dan senyawa CBD saja tidak dapat mengaktifkan reseptor.

Menariknya, THC tampaknya memiliki efek sebaliknya, hasil menunjukkan respons nAChR terhadap asetilkolin sebesar 128%. Ketika THC dan CBD dikombinasikan pada rasio 1 : 1, efek yang diamati adalah penghambatan.

Hasil respon adalah 62% dari respon normal. Respon dari reseptor nAChR terhadap CBD dan THC tampaknya tidak tergantung pada konsentrasi asetilkolin. Hal itu menunjukkan bahwa CBD atau THC tidak bersaing dengan asetilkolin dalam mengikat nAChR.

Rumitnya Penjelasan Dampak THC Terhadap Dopamin

Penelitian yang dilakukan ilmuwan untuk mempelajari mengenai otak yang hidup, berhasil membuktikan bahwa meningkatkan dopamin dapat mendorong perilaku tertentu.

Menurut Dr. Nora Volkow, seorang psikiater dan direktur dari National Institute on Drug Abuse (NIDA), bahwa hari ini, menurut para ahli saraf, kecanduan (untuk opiat, alkohol, judi, atau makan berlebihan) sangat dipengaruhi oleh dopamin.

Jadi cerita sejauh ini menunjukkan bahwa penggunaan ganja berdampak pada fungsi reseptor nikotin, yang berdampak pada dopamin sehingga membuat seseorang menjadi makan berlebihan. Baca disini cara kerja THC dalam tubuh.

Namun masalah dengan penjelasan ini tidak sepenuhnya logis. Beberapa percobaan pada tikus menunjukkan bahwa paparan THC akut tidak mempengaruhi pensinyalan dopamin sama sekali (penelitian oleh Castaneda, 1991).

Dan sebuah eksperimen pada manusia menemukan bahwa THC yang berdampak pada dopamin, menghasilkan efek yang minimal (penelitian oleh Bossong, 2015).

Mengingat masalah ini, penjelasan yang diberikan tampaknya tidak sepenuhnya masuk akal. Atau mungkin ada senyawa yang sebelumnya tidak dihargai dalam ganja yang secara langsung berinteraksi dengan reseptor nikotin.

Atau mungkin itu merupakan salah satu dari cara kerja mekanis yang masuk akal, yang menghubungkan ganja dan dopamin melalui reseptor nikotin.


Referensi :
-ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17522306
-jneurosci.org/content/27/21/5615 
-nature.com/articles/aps2013181 
-Christensen JK, Moller IW, Ronsted P, Angelo HR, Johansson B . Dose-effect relationship of disulfiram in human volunteers. I: Clinical studies. Pharmacol Toxicol 1991; 68: 163–5.
-Bossong, M. G., Mehta, M. A., van Berckel, B. N., Howes, O. D., Kahn, R. S., & Stokes, P. R. (2015). Further human evidence for striatal dopamine release induced by administration of ∆9-tetrahydrocannabinol (THC): Selectivity to limbic striatum. Psychopharmacology, 232(15), 2723-2729.
-Volkow, N. D., Wise, R. A., & Baler, R. (2017). The dopamine motive system: Implications for drug and food addiction. Nature Reviews Neuroscience, 18(12), 741. 
Share this not copy
Scroll Up