Senyawa Baik Air Rebusan Ganja (THCA dan CBDA)

Baca Ganja – Ganja yang direbus tidak menghasilkan efek trans-kesadaran, melainkan air rebusannya memiliki banyak manfaat. Mengapa demikian? Berikut ini adalah penjelasannya serta efek senyawa baik air rebusan ganja.

Senyawa Baik Air Rebusan Ganja

Artikel ini tidak bermaksud untuk mengajak siapapun untuk menggunakan atau mengkonsumsi barang yang melanggar hukum negara, melainkan untuk informasi ilmu pengetahuan.

Pada umumnya kita mengetahui ganja memiliki dua senyawa utama (cannabinoid), yaitu THC (Tetrahydrocannabinol) yang lebih dikenal memiliki efek psikoaktif dan CBD (Cannabidiol) yang sudah banyak digunakan untuk kebutuhan medis.

Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa kedua senyawa ini (THC dan CBD) baru akan dihasilkan jika ganja melalui proses pembakaran ataupun pemanasan yang disebut dekarboksilasi.

Dekarboksilasi merujuk pada reaksi kimia yang menyebabkan sebuah gugus karboksil terlepas dari senyawa semula menjadi karbon dioksida (CO2), menurut sumber Wikipedia.

Ini artinya, sebelum ganja melalui proses dekarboksilasi, senyawa THC dan CBD dalam ganja memiliki sifat asam, dengan nama kimia THCA (Tetrahydrocannabinol Acid) dan CBDA (Cannabidiol Acid). Yang artinya air rebusan ganja mengandung THCA dan CBDA, bukan THC (yang bersifat psikoaktif) dan CBD.

Walaupun merebus ganja termasuk juga proses pemanasan, namun senyawa THCA dan CBDA belum berubah (menjadi THC dan CBD) karena tingkat didih air adalah 100°C, sedangkan proses dekarboksilasinya (atau pemanasannya) adalah 120°C.

Tingkat didih air tidak bisa lebih dari 100°C karena jika diatas itu air akan menjadi uap. Maka dari itu air rebusan ganja tidak bisa menyebabkan efek psikoaktif karena THCA belum mencapai suhu proses dekarboksilasi menjadi THC.

Senyawa Baik Air Rebusan Ganja

Lalu apa manfaat baik cannabinoid THCA dan CBDA dalam air rebusan ganja? Simak lebih lanjut penjelasannya secara ringkas:

Manfaat THCA (Tetrahydrocannabinol Acid)

  1. Memiliki sifat neuro-protektif (pelindung saraf).
  2. Mengurangi radang akibat penyakit radang usus.
  3. Mengurangi penambahan berat badan dan radang terkait obesitas serta diabetes.

Baca juga: Cara kerja senyawa THC dalam tubuh

THCA memiliki sifat neuro-protektif

Uji coba yang dilansir oleh National Institute Health (NIH) terhadap tikus menunjukkan, asam cannabinoid THCA mengikat dan mengaktifkan PPARγ dengan potensi yang lebih tinggi daripada THC. PPARγ sendiri memiliki efek anti-proliferasi yang artinya menghambat pertumbuhan sel yang sangat cepat atau abnormal.

THCA yang mengikat PPARγ memiliki sifat neuroprotektif pada tikus dengan menunjukkan aktivitas pelindung saraf yang kuat, yang layak dipertimbangkan untuk pengobatan dan penyakit Huntington, penyakit neurodegeneratif, dan neuroinflamatori (radang saraf) lainnya.

Mengurangi radang akibat penyakit radang usus

Kesimpulan hasil penelitian dari uji coba yang dilansir oleh National Institute Health (NIH), adalah bahwa aktivitas anti-inflamasi dari ekstrak ganja pada sel epitel usus besar berasal dari asam THC (THCA) dan sebagian dimediasi melalui reseptor GPR55, yang memiliki sifat proliferasi.

Peneliti menyarankan bahwa dalam pengobatan non-psikoaktif untuk penyakit radang usus (Inflammatory bowel disease disingkat IBD), THCA harus digunakan daripada CBD.

THCA mengurangi penambahan berat badan dan radang terkait obesitas serta diabetes

Dilansir sumber NIH, pemberian THCA dalam model tikus obesitas yang diberi makanan diet tinggi lemak, secara signifikan mengurangi massa lemak dan kenaikan berat badan.

Secara nyata memperbaiki intoleransi glukosa (gula darah yang berkaitan dengan diabetes) dan resistensi insulin, dan sebagian besar mencegah steatosis (perlemakan) hati, dan infiltrasi makrofag dalam jaringan lemak. Selain itu analisis menunjukkan bahwa THCA menunjukkan efek anti-inflamasi pada tikus yang diberikan makanan diet tinggi lemak.

Manfaat CBDA (Cannabidiol Acid)

  1. Menekan sel kanker payudara.
  2. Mencegah mual dan muntah.
  3. Menghasilkan efek anti-inflamasi dengan menghambat siklooksigenase (COX-2).

Baca juga: Cara kerja CBD dalam tubuh dan efek medisnya

CBDA menekan sel kanker payudara

Dilansir dari NIH, metastasis (penyebaran sel kanker dari satu organ ke organ lain) bertanggung jawab atas sekitar 90% kematian terkait kanker payudara. Siklooksigenase (COX-2) terlibat dalam proses inflamasi dan metastasis sel kanker.

Efek CBDA dapat menghasilkan efek penghambatan ganda pada COX-2 (penyebab metastasis sel kanker) melalui regulasi dan penghambatan enzim. Selain itu, CBDA memiliki kemampuan untuk menekan gen yang terlibat secara positif dalam metastasis sel kanker.

CBDA mencegah mual dan muntah

Kesimpulan penelitian menyatakan dibandingkan dengan CBD (cannabidiol), CBDA menunjukkan potensi yang jauh lebih besar dalam menghambat muntah dan mual pada tikus yang diuji coba. CBDA bekerja dengan meningkatkan aktivasi reseptor 5-HT1A, reseptor yang terlibat dalam berbagai proses seperti kecemasan, kecanduan, nafsu makan, tidur, persepsi nyeri, mual, dan muntah.

CBDA menghasilkan efek anti-inflamasi dengan menghambat siklooksigenase (COX-2)

Siklooksigenase (COX-2) yang mengaktivasi sel darah putih akan mensekresikan zat radang yang mengakibatkan reaksi nyeri, panas dan kemerahan pada lokasi infeksi atau demam pada tubuh. Reaksi inilah yang sering membuat tubuh penderita tidak nyaman dan membutuhkan obat untuk menguranginya.

Dalam kesimpulan penelitian, bahwa seluruh struktur CBDA memiliki nilai penting untuk penghambatan selektif COX-2. Metilasi asam CBD (CBDA) menyebabkan hilangnya kemampuan selektivitas COX-2 sehingga membatalkan aktivasinya terhadap sel darah putih. Artinya CBDA dalam ganja adalah inhibitor (penghambat) selektif untuk COX-2.

– Senyawa baik air rebusan ganja

Share this not copy
Scroll Up