Neurosains: Penggunaan Ganja Reguler Memodulasi Gelombang Gamma Pemrosesan Visual Otak

Baca Ganja — Studi neurosains menunjukkan penggunaan ganja reguler memodulasi frekuensi gelombang gamma otak terkait pemrosesan visual dan persepsi.

Neurosains Penggunaan Ganja Reguler Memodulasi Gelombang Gamma Pemrosesan Visual

Pengantar

“Jika Anda ingin menemukan rahasia alam semesta, pikirkanlah (semesta) dalam kerangka energi, frekuensi, dan vibrasi.” — Nikola Tesla

Alam semesta yang dapat kita amati, sentuh, dan rasakan sering kali dianggap hanyalah bentuk materi belaka sebagai komponen dasar yang membentuk dunia. Padahal faktanya tidaklah demikian.

Seperti kutipan dari Nikola Tesla, seorang ilmuwan dan penemu besar dunia yang mengubah peradaban manusia dengan menciptakan sistem kelistrikan modern yang kita gunakan sehari-hari lewat ide dan karyanya; bahwa “alam semesta bekerja melalui energi, frekuensi, dan vibrasi.”

Begitu pula dengan cara kerja otak manusia yang digunakan untuk berpikir, bernalar, maupun menghasilkan persepsi, juga tidak terlepas dari pengaruh tingkat gelombang frekuensi di sistem saraf.

Dengan kemajuan teknologi saat ini, peneliti dapat menemukan hubungan penggunaan ganja yang memengaruhi frekuensi gelombang di sistem saraf. Terutama pada gelombang gamma, jenis gelombang otak tercepat dengan frekuensi tinggi (30-100 Hz) yang akan muncul saat seseorang berada dalam tingkat kesadaran penuh, konsentrasi tinggi, atau memproses informasi dan tugas kognitif yang rumit.

Penelitian Neurosains: Penggunaan Ganja Memodulasi Gelombang Gamma Otak

Penelitian yang berkaitan dengan sistem saraf juga disebut sebagai neurosains. Berikut ini adalah beberapa hasil temuan penelitian neurosains pada penggunaan ganja yang memengaruhi gelombang gamma di otak terkait dengan pemrosesan visual dan persepsi:

Pengguna ganja reguler menunjukkan penurunan induced gamma power, namun komponen EEG N100 dan P200 tidak berbeda signifikan dengan kelompok non-pengguna

Hasil penelitian pada tahun 2014 yang dipublikasi dalam jurnal Nature oleh Patrick D. Skosnik dan rekan sejawat dari Yale University School of Medicine, menunjukkan pengguna ganja reguler/berat mengalami penurunan induced gamma power yang berkaitan dengan aktivitas gelombang otak pada frekuensi 30-80 Hz atau lebih, khususnya saat otak memproses persepsi gerakan yang koheren (teratur).

Dalam riset neurosains ini, peneliti ingin melihat apakah pengguna ganja berat mengalami gangguan pada pola aktivitas listrik berirama (gamma-band neural oscillations) pada frekuensi 30–80 Hz saat otak melakukan pemrosesan persepsi yang lebih kompleks.

Penelitian dilakukan terhadap 24 pengguna ganja berat yang tidak memakai ganja sekitar 12 jam sebelum pemeriksaan yang masih menunjukkan metabolit THC dalam urin (kelompok pengguna), dan 23 peserta yang belum pernah menggunakan ganja (kelompok non-pengguna).

Kedua kelompok melakukan uji random dot kinetograms (RDKs)—kumpulan titik-titik visual yang bergerak dengan tiga kondisi berbeda, yaitu: coherent motion (titik-titik bergerak dengan arah yang teratur sehingga otak dapat menangkap pola gerakan), incoherent motion (gerakan titik tidak teratur), dan static (titik-titik yang tidak bergerak).

Aktivitas otak direkam dengan alat EEG (electroencephalogram), kemudian peneliti menganalisis aktivitas pada berbagai frekuensi, khususnya gelombang gamma 40–59 Hz. Hasil penelitian menemukan bahwa pengguna ganja berat mengalami penurunan gelombang induced gamma power saat melihat gerakan yang koheren (teratur) dibandingkan dengan kelompok non-pengguna.

Namun menariknya, komponen EEG N100 dan P200 tidak berbeda secara signifikan antara kedua kelompok. (N100 adalah gelombang pemeriksaan EEG yang menandakan proses awal sensorik di otak dan orientasi perhatian secara otomatis terhadap suatu rangsangan; sedangkan P200 berfungsi dalam evaluasi fitur stimulus tingkat lanjut, alokasi perhatian sadar, serta penyaringan informasi sensorik).

Ini berarti, penelitian tersebut tidak menemukan bukti bahwa pemrosesan sensorik visual awal terganggu secara umum pada kelompok pengguna ganja. Perbedaannya lebih terlihat pada aktivitas gamma yang muncul ketika otak melakukan pemrosesan persepsi yang lebih kompleks.

Kelompok pengguna ganja memiliki skor Chapman Perceptual Aberration Scale (PAS) lebih tinggi daripada non-pengguna

Selain itu, riset neurosains ini menunjukkan bahwa kelompok pengguna ganja memiliki skor PAS lebih tinggi daripada kelompok non-pengguna. Skor tersebut berkorelasi positif dengan jumlah tahun penggunaan ganja.

Chapman Perceptual Aberration Scale (PAS) adalah kuesioner (pertanyaan) psikologis yang digunakan untuk mengukur kecenderungan seseorang mengalami persepsi yang tidak biasa—bukan halusinasi.

Skor PAS rendah menandakan lebih sedikit pengalaman persepsi yang tidak biasa, sedangkan skor PAS tinggi menandakan lebih banyak/kecenderungan yang lebih kuat terhadap pengalaman persepsi yang tidak biasa. Ini artinya, pengguna ganja menunjukkan kecenderungan memiliki lebih banyak pengalaman persepsi yang tidak biasa dibandingkan kelompok non-pengguna.

Dalam penelitian neurosains ini, peneliti menyimpulkan bahwa gangguan pada mekanisme gelombang gamma tersebut mungkin berkontribusi terhadap perubahan persepsi yang berkaitan dengan senyawa ganja (cannabinoid). Namun, ini bukan bukti bahwa ganja pasti menyebabkan kerusakan otak atau bahwa penurunan gamma tersebut secara langsung disebabkan oleh ganja.

Studi neurosains: penggunaan ganja reguler berkaitan dengan dinamika gelombang gamma otak

Pada tahun 2024, hasil riset yang dipublikasi dalam jurnal akademik WILEY dari peneliti College Medicine, University of Nebraska Medical Centre (Mikki Schantell dan rekan sejawat) menunjukkan bahwa pengguna ganja reguler berkaitan dengan dinamika gelombang gamma di sistem saraf.

Riset neurosains ini pada dasarnya meneliti bagaimana penggunaan ganja secara rutin memengaruhi aktivitas otak pada frekuensi gamma (γ), khususnya aktivitas yang berkaitan dengan kontrol kognitif.

Subjek penelitian dibagi dalam 2 kelompok: pengguna ganja sebanyak 34 peserta, dan non-pengguna sebanyak 33 peserta. Metode penelitian menggunakan teknologi MEG (magnetoencephalography) untuk mengukur aktivitas listrik otak secara non-invasif.

Kedua kelompok diberikan tugas kognitif Eriksen Flanker Task, tugas yang menguji kemampuan mengendalikan respons ketika informasi yang relevan dan tidak relevan saling berkonflik.

Fokus penelitian terutama ditujukan pada area di bagian kiri otak depan yang mengatur gerakan mata (left frontal eye fields/FEF), dan area di otak kiri tempat bertemunya lobus temporal dan lobus parietal (left temporoparietal junction/TPJ). Dengan fokus aktivitas pada gelombang gamma dan aktivitas gamma spontan.

Hasil penelitian neurosains ini menunjukkan bahwa pengguna ganja memiliki aktivitas gamma spontan yang lebih rendah. Aktivitas gamma spontan sebelum mengerjakan tugas ditemukan lebih lemah pada kelompok pengguna ganja dibandingkan kelompok non-pengguna, khususnya di area FEF kiri dan TPJ kiri.

Jadi, bukan hanya respons otak ketika sedang mengerjakan tugas yang berbeda; aktivitas gamma dasar sebelum tugas dimulai juga lebih rendah pada kelompok pengguna ganja.

Selain itu, respons gamma terhadap konflik kognitif pun berbeda dari kedua kelompok tersebut. Pada non-pengguna, saat menghadapi kondisi inkroguen—ketika stimulus lebih membingungkan/berkonflik—terjadi peningkatan gelombang gamma di area FEF kiri dibandingkan kondisi kongruen—di mana dua (atau lebih) objek memiliki bentuk dan ukuran yang sama persis.

Sedangkan pada pengguna ganja, perbedaan tersebut tidak terlihat. Artinya, non-pengguna menunjukkan peningkatan aktivitas gamma saat membutuhkan kontrol kognitif lebih besar, sedangkan pengguna ganja tidak menunjukkan pola peningkatan gamma yang sama.

Ada hubungan dengan tingkat penggunaan ganja

Penelitian neurosains ini juga menemukan bahwa pada kelompok pengguna: semakin besar penggunaan ganja, semakin lemah aktivitas gamma spontan di area TPJ kiri. Artinya, terdapat hubungan antara penggunaan ganja yang lebih banyak dengan gamma spontan TPJ yang lebih rendah.

Namun peneliti menekankan bahwa ini adalah studi observasional dengan perbandingan pengguna ganja dan non-pengguna, sehingga hasilnya tidak membuktikan bahwa ganja menyebabkan penurunan gamma. Bisa saja terdapat faktor lain yang berkontribusi. Jadi, studi neurosains ini bukan sekadar “ganja menurunkan gelombang gamma”.

Lebih tepatnya, penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan ganja secara rutin berkaitan dengan perubahan dinamika gelombang gamma otak: baik pada aktivitas gamma spontan (aktivitas gamma dasar sebelum mengerjakan tugas), maupun pada perubahan gelombang gamma saat otak melakukan kontrol kognitif (terutama di wilayah otak FEF kiri dan TPJ kiri).

Penggunaan ganja reguler memengaruhi konektivitas jaringan otak pada frekuensi gamma (γ) saat memproses rangsangan visual

Hasil studi neurosains pada tahun 2025 yang dilakukan oleh gabungan peneliti dari berbagai universitas di Amerika Serikat yang dipublikasi dalam jurnal ScienceDirect, menunjukkan bahwa penggunaan ganja reguler memodulasi konektivitas jaringan otak pada frekuensi gamma, khususnya yang berhubungan dengan korteks visual primer (V1), saat seseorang memproses rangsangan visual.

Penelitian ini menguji kelompok pengguna ganja sebanyak 84 peserta, dan kelompok non-pengguna sebanyak 90 peserta. Aktivitas otak direkam menggunakan teknologi high-density MEG (magnetoencephalography), di mana kedua kelompok melihat rangsangan visual berupa flicker/cahaya berkedip pada tiga frekuensi gamma: 32 Hz, 40 Hz, dan 48 Hz.

Tujuan penelitian ini bukan untuk menguji apakah ganja menyebabkan seseorang “melihat halusinasi”, tetapi melihat integritas sirkuit gamma dasar dan komunikasi antara korteks visual primer (V1) dengan wilayah visual lainnya di sistem saraf.

Dalam studi ini, peneliti menemukan dua hasil penelitian:

1. Respons gamma dasar di korteks visual primer (V1) masih kuat pada pengguna ganja

Kedua kelompok (pengguna dan non-pengguna) menunjukkan gamma entrainment—proses penyelarasan aktivitas listrik otak pada frekuensi gamma sekitar 40 Hz—yang kuat di korteks V1 bilateral. Respons 32 Hz merupakan yang paling kuat.

Artinya, sirkuit dasar yang mampu menghasilkan respons gamma terhadap rangsangan visual tidak tampak rusak atau hilang pada pengguna ganja berat/reguler. Studi ini penting karena penelitian sebelumnya menunjukkan adanya gangguan gelombang gamma pada pengguna ganja. Sedangkan riset ini memberikan nuansa bahwa kemampuan menghasilkan gamma dasar mungkin tetap relatif utuh.

2. Konektivitas gamma dari korteks V1 ke area visual tingkat yang lebih tinggi berubah pada pengguna ganja

Peneliti juga menemukan pada frekuensi gamma 32 Hz, kelompok pengguna ganja menunjukkan konektivitas yang lebih tinggi antara korteks V1 dan wilayah visual tingkat lebih tinggi dibandingkan kelompok non-pengguna.

Jadi, masalahnya bukan sekadar ganja menyebabkan gelombang gamma menjadi lebih lemah. Melainkan adanya hubungan yang lebih kompleks: yaitu antara ganja dengan respons gamma dasar tetap ada, tetapi cara aktivitas gamma tersebut terhubung atau berkomunikasi dengan jaringan visual yang lebih tinggi mengalami perubahan.

Korteks visual primer (V1) merupakan salah satu tahap paling awal dalam pemrosesan informasi visual di korteks. Dengan penjelasan sederhana, rangsangan visual masuk melalui retina, kemudian dikirim ke korteks V1, lalu menuju ke area visual tingkat lebih tinggi, dan akhirnya menghasilkan persepsi/pemrosesan visual yang lebih kompleks.

Hubungan THC dan interneuron GABA

Peneliti mengaitkan temuan ini dengan sistem endocannabinoid, karena reseptor cannabinoid (terutama CB1) banyak terdapat pada interneuron GABAergik. Interneuron tersebut sangat penting dalam pembentukan dan sinkronisasi gelombang gamma.

Karena itu, secara mekanistik: cannabinoid (THC) bekerja melalui sistem endocannabinoid (reseptor CB1), lalu memengaruhi interneuron GABA, kemudian menghasilkan sinkronisasi neural yang memodulasi gelombang gamma, sehingga terjadi komunikasi antar daerah di otak

Penelitian ini menunjukkan bahwa efek ganja mungkin lebih terlihat pada koordinasi jaringan gamma daripada sekadar kemampuan korteks visual primer V1 menghasilkan gelombang gamma. Jadi kesimpulan sederhananya, pengguna ganja reguler masih mampu menghasilkan respons gamma dasar yang kuat di korteks visual primer V1, tetapi konektivitas fungsional gamma antara V1 dan wilayah visual tingkat tinggi mengalami perubahan.

Dengan kata lain, bukan berarti “gamma hilang” atau seluruh sistem gamma menjadi rusak. Yang berubah terutama adalah bagaimana aktivitas gamma tersebut terintegrasi dan berkomunikasi di dalam jaringan visual otak.

Peneliti menyimpulkan bahwa studi ini relevan dengan hipotesis bahwa perubahan pada pemrosesan gamma di tingkat jaringan dapat berkontribusi pada defisit kognitif, atau sebaliknya menghasilkan perseptual tingkat lebih tinggi yang pernah dilaporkan pada pengguna ganja.

Fungsi Utama Gelombang Gamma di Sistem Saraf

Adapun hasil studi neurosains terhadap gelombang gamma yang terpisah dari penelitian penggunaan ganja, menunjukkan bahwa gelombang gamma berfungsi untuk: menyatukan berbagai data indra menjadi satu persepsi yang utuh, meningkatkan fokus mental dan kesadaran penuh, serta menyinkronkan jaringan saraf di berbagai bagian otak secara bersamaan.

Selain itu, peningkatan gelombang gamma otak (khususnya di frekuensi 40 Hz) melalui stimulus cahaya dan suara non-invasif, menunjukkan potensi besar sebagai terapi pendukung untuk penderita penyakit Alzheimer guna memperbaiki fungsi kognitif dan memperlambat penurunan memori.

Baca juga: Efektivitas cannabinoid mengobati penyakit neurodegeneratif (Alzheimer, Parkinson, Huntington, ALS)


Referensi tambahan:
-Functional role of gamma and theta oscillations in episodic memory (Erika Nyhus, Tim Curran. 2010)
-The role of gamma oscillations in central nervous system diseases: Mechanism and treatment (Ao Guan, et al. 2022)
-The gamma rhythm as a guardian of brain health (Ana Maria Ichim, Harald Barzan, et al. 2024)
-Brain Gamma-Stimulation: Mechanisms and Optimization of Impact (Konstantin V. Lushnikov, et al. 2025)

Tinggalkan komentar

Sharing is caring