Ganja sebagai ‘Serum Kebenaran’, Dokumen Rahasia Intelijen AS (OSS)

Baca Ganja – Dinas intelijen Amerika Serikat, Office of Strategic Service disingkat OSS, memiliki dokumen rahasia mengenai ganja sebagai ‘serum kebenaran’ (truth serum) yang digunakan kepada subjek yang di interogasi agar dapat mengungkap kebenaran.

Ganja sebagai serum kebenaran

OSS dibentuk selama Perang Dunia II sebagai pendahulu CIA (Central Intelligence Agency) yang saat ini menjadi salah satu badan intelijen pemerintah federal AS. Didirikan pada Juni 1942 untuk menganalisis informasi strategis. Diberhentikan pada Oktober 1945 setelah Perang Dunia II berakhir dan fungsinya dialihkan ke Departemen Negara dan Perang.

OSS memiliki dokumen rahasia yang saat ini sudah di publikasi untuk umum, yaitu dokumen mengenai ganja sebagai ‘serum kebenaran’ untuk diberikan kepada Tahanan Perang selama interogasi agar subjek dapat mengungkap suatu kejadian yang sebenarnya terjadi.

Meskipun di tahun 1900-an ganja mulai diberi stigma buruk dengan propaganda anti-ganja dan kebohongan yang dilakukan pemerintah AS secara besar-besaran untuk kepentingan oknum, ternyata diam-diam pemerintah memanfaatkan ganja untuk kepentingan dan keperluan negara.

Baca Juga: Serat ganja hemp berperang penting dalam Perang Dunia II

Isi Dokumen Rahasia OSS (2 Juni 1945)

ganja sebagai 'serum kebenaran'
Dokumen Rahasia OSS. (Klik disini untuk perbesar)

Pada tanggal 31 oktober 1942, atas permintaan Cabang Psikologis Perang (Psychological Warfare) dari N.I.S., Dewan Riset Nasional mengaktifkan sebuah komite untuk menyelidiki kemungkinan penggunaan narkotika dalam interogasi Tahanan Perang. Tanggung jawab untuk memfasilitasi upaya Komite dialihkan dari N.I.S kepada dinas Penelitian dan Pengembangan OSS pada tanggal 1 Januari 1943.

Panitia awal terdiri dari Dr. Winfred Overholser (ketua), Profesor Psikiatri George Washington University dan Direktur Rumah Sakit St. Elizabeth, Washington D.C; Dr. John Whitehorn, Profesor Psikiatri Johns Hopkins University; Edward A. Stricker, Profesor Psikiatri University of Pittsburgh; Lawrence S. Kubie, Asosiasi Neurol di Neurological Institute of New York.

Petugas penghubung dalam panitia adalah: Mr. E.P. Coffy, Direktur Laboratorium FBI; Mr. H.J. Anslinger, Komisioner Narkotika di Department of Treasury; Admiral Charles S. Stephenson, dari Angkatan Laut Medis dan Ahli Bedah, Kolonel R.D. Halloran dari Surgeon General’s Office, dan Letkol R.E. Locker dari Badan Intelijen Militer. Komandan Cushing, yang terikat pada N.D.R.C., mengkoordinasikan komite tersebut. Baru-baru ini pekerjaannya dibantu oleh Dr. Watson W. Eldrige dari Rumah Sakit St. Elizabeth dan Kapten George H. White dan James A. Hamilton dari OSS.

Tinjauan mendalam dari semua literatur farmakologi yang relevan mengerucut pada bidang ini. Eksperimen pendahuluan menemukan perhatian pada beberapa variasi ganja sebagai obat pilihan. Tiga varietas (senyawa) ganja yang dipelajari adalah: cannabinol dari charas India (Indian Charis), tetrahydrocannabinol asetat yang berasal dari charas India, dan cannabinol sintesis.

Dari jumlah tersebut, turunan asetat (tetrahydrocannabinol) ditemukan lebih disukai. Berbagai jalur penggunaan di eksplorasi seperti; pemberian oral, pembakaran di arang tanpa asap, penyemprotan, dan inhalasi rokok. Dari cara penggunaan, inhalasi rokok adalah satu-satunya jalur penggunaan yang dapat direkomendasi.

Rokok tembakau standar dapat diisi dengan 0,02 gram asetat Loewe. Obat dimasukkan ke dalam rokok dengan jarum suntik tuberkulin 1/4 cc dan jarum suntik khusus 1½” (inci). Selanjutnya dilakukan upaya pemerataan obat dalam rokok. Asetat disuntikkan pada viskositas maksimum yang sesuai dengan pengiriman dari jarum suntik.

Efek Psikologis dari Obat

Saat obat diberikan secara bertahap, dalam jangka waktu 1/2 hingga 1 jam untuk satu hingga tiga batang rokok, efek pertama yang nyata secara bertahap adalah sensasi relaksasi yang nyaman dan kesegaran (well-being). Sensasi ini baru terlihat 3-10 menit setelah rokok dihisap, atau mungkin muncul selama atau setelah rokok kedua atau ketiga dihisap.

Jika dosisnya memadai, setelah beberapa menit, keadaan ini berubah menjadi keadaan dimana pikiran mengalir dengan sangat bebas, dan dimana percakapan menjadi hidup dan lancar. Subjek (pengguna) mungkin mengalami penyimpangan — seperti lupa apa yang akan dia katakan. Seringkali pengguna menjadi sangat tergelitik. Subjek mungkin menceritakan cerita lucu atau anekdot pribadi terkait dengan ketidakpercayaan dan keputusasaan.

Tahap ini hilang secara bertahap selama satu hingga dua jam. Selama 15-30 menit selama puncak efek, subjek mungkin mengalami sedikit sensasi penyempitan di perut bagian atas atau dada bagian bawah, atau ia mungkin tidak sadar akan denyut nadi atau organ dalam. Sensasi ini tidak cukup untuk mengganggu kegembiraan dan kecerewetannya (suka berbicara).

Jika rokok mengandung 2-3 kali dosis standar 0,02 gram, memungkinkan munculnya fenomena yang agak berbeda. Dalam 5-10 menit setelah mulai merokok, subjek mengalami pusing dan kesulitan dalam memfokuskan matanya pada objek.

Pada saat yang sama, dia mungkin menjadi gelisah dan cemas untuk mendapatkan lebih banyak udara. Dia mungkin kehilangan kesadaran selama satu menit atau lebih. Jika tingkat intoksikan mencapai titik tertinggi, subjek mungkin tidak memiliki tenaga untuk bangun dari posisi berbaring selama satu jam atau lebih, dan subjek mungkin merasa seperti pingsan selama dua atau tiga jam.

Ringkasan Efek Psikologis

Efek tetrahydrocannabinol asetat dapat dikatakan mirip dengan alkohol. Dalam jumlah dosis yang kecil menghasilkan relaksasi dan kesegaran (well-being). Dalam dosis sedang menghasilkan kegembiraan, senang berbicara, euforia, dan perilaku yang sesuai dengan alam bawah sadar subjek.

Dalam dosis besar menghasilkan hilangnya kesadaran (pingsan) dan kelesuan. Tidak tercatat adanya amnesia yang terjadi selama periode ketika obat bekerja secara efektif, meskipun ingatan untuk detailnya mungkin sedikit kabur.

Ada juga perbedaan yang ditemukan yang tidak sama dengan efek intoksikan alkohol; (1) Obat dapat diberikan melalui rokok tanpa sepengetahuan subjek; (2) Kecenderungan ke arah banyak bicara dan kegembiraan mungkin lebih menonjol daripada efek intoksikan alkohol; (3) Dosis yang menyebabkan pingsan tidak menyebabkan mual dan muntah; (4) Ada sedikit hingga tidak adanya efek hangover psikologis atau fisiologis.

Evaluasi untuk Interogasi

Tetrahydrocannabinol asetat bukanlah “serum kebenaran” yang sempurna, namun penggunaanya diikuti dan secara otomatis dapat mengungkapkan semua rahasia yang ingin disimpan subjek untuk dirinya sendiri. Memang, evaluasi yang cermat dari mekanisme psikologis yang terlibat mengarah pada kesimpulan bahwa tujuan semacam itu di luar dugaan yang masuk akal dari obat apapun.

Namun, obat tersebut menghasilkan keadaan psikologis relaksasi, banyak bicara, dan perilaku yang sesuai dengan alam bawah sadar yang mungkin sangat berguna bagi pemeriksa (interogator) yang terampil.

Seperti halnya alkohol, berbagai reaksi dapat diantisipasi dari subjek ke subjek. Meskipun subjek yang suka berperang atau menangis belum diamati secara eksperimental, namun tidak masuk akal untuk mengharapkan reaksi seperti itu.

Dalam berbagai percobaan yang dilakukan, diupayakan untuk mendekati situasi interogasi yang sebenarnya. Dalam beberapa kesempatan, banyak informasi yang terungkap yang mungkin tidak akan terungkap tanpa penggunaan obat.

Mungkin layak dilakukan untuk memperkenalkan obat (kepada 2 subjek atau lebih) dalam jumlah kecil ketika tidak ada pemeriksa (interogator) dalam ruangan, dan merekam percakapan yang kemudian terjadi dengan diktafon (mesin dikte).

Tindakan Pencegahan yang Harus Diamati dalam Interogasi

Interogator yang menggunakan metode ini harus benar-benar mengetahui khasiat obat tersebut. Ia harus mengatur dosis sesuai dengan kebiasaan merokok subjek. Dia harus memanipulasi situasi sedemikian rupa sehingga subjek tidak menyadari bahwa dia telah dibius atau berperilaku tidak biasa.

Dia harus menyesuaikan interogasinya dengan kepribadian subjek, dan mungkin perlu membangun hubungan baik selama beberapa sesi. Penting bagi subjek untuk tidak mengetahui bahwa dia sedang di interogasi secara formal. Dia harus dibuat percaya bahwa dia terlibat dalam diskusi persahabatan tentang hal-hal yang menjadi kepentingan bersama.

Konklusi

Tetrahydrocannabinol asetat yang diberikan dalam rokok seperti yang dijelaskan diatas mungkin tidak dapat diterapkan untuk interogasi massal. Ini membuktikan bahwa sangat berharga untuk mengekstraksi informasi khusus dari personel kunci / utama.

Hal ini dapat ditentukan pada analisis terakhir dengan melakukan uji lapangan yang dilakukan oleh seorang pemeriksa yang berpengalaman dalam interogasi terselubung yang tersembunyi, dan pada saat yang sama interogator (pemeriksa) mengetahui khasiat obat tersebut.

Dengan keberhasilan ini, OSS memutuskan untuk menggunakan ganja sebagai ‘serum kebenaran’ terhadap Tahanan Jerman dan lainnya. Pada bulan September, OSS mengunjungi petugas keamanan John Landsale dengan Proyek Manhattan (yang menghasilkan bom atom pertama) dan memberikan obat tersebut kepada para ilmuwan program.

Penggunaan ganja sebagai ‘serum kebenaran’ dalam kepentingan interogasi berlanjut setidaknya hingga tahun 1947, tetapi setelah bertahun-tahun bereksperimen, ganja gagal menjadi ‘serum kebenaran’ yang dapat diandalkan secara konsisten.

Tetapi dalam jangka waktu yang cukup panjang, sejarah telah menunjukkan bahwa ganja memanglah sebuah ‘serum kebenaran’. Bagaimanapun juga, akhirnya subjek yang diberikan serum atau bisa dibilang pengguna ganja dapat mengungkap kebenaran.


Referensi:
-Wikipedia, Office of Strategic Services
-http://antiquecannabisbook.com/chap03/WWII/TruthSerum.htm
-High Times, The Real Story of “Marijuana Truth Serum”
Share this not copy
Scroll Up