Filsafat Biologi: Materi yang Membentuk Manusia dan Interaksinya

Baca Ganja — Menjelaskan materi kehidupan yang membentuk manusia, dan interaksinya dengan sesama atau makhluk hidup lain berdasarkan filsafat biologi.

filsafat biologi

Pengantar

Let’s go back to science.. Setelah beberapa esai sebelumnya membahas hal terkait dengan metafisika yang mungkin tak menarik karena bukan sesuatu yang riil. Esai kali ini akan membahas materi, sesuatu yang nyata dalam ruang, namun dijelaskan dalam pengetahuan biologi—bukan ekonomi.

Biologi adalah ilmu pengetahuan alam yang mempelajari makhluk hidup dan proses kehidupannya, seperti pada tumbuhan, hewan, dan manusia. Tanaman ganja yang menjadi pembahasan utama dalam situs ini, adalah subjek biologi—begitu pun dengan manusia yang menjadi topik dalam esai ini.

Sedangkan filsafat, menurut Russell, merupakan wilayah tak bertuan (no man’s land) yang dihimpit dari kedua sisi oleh teologi (agama atau etis warisan budaya) dan sains (ilmu pengetahuan). Dengan kata lain, filsafat dapat disebut sebagai jembatan antara metafisika dan materi melalui penalaran rasional yang dapat digunakan oleh siapa pun untuk melahirkan filsafatnya sendiri.

Tujuan filsafat biologi dalam esai ini adalah menjelaskan kehidupan materi yang membentuk manusia dan interaksinya berdasarkan pengetahuan biologi untuk memperluas sudut pandang sebagai “perkakas” (alat) berpikir. Sebab, janganlah kita menjadi seperti (menurut Abraham Maslow) “Seseorang yang hanya memiliki palu, akan melihat segala masalah sebagai paku.” Karena manusia memiliki aspek kehidupan yang luas—begitu juga dengan segala persoalannya—sehingga kita memerlukan banyak “perkakas” untuk memperluas sudut pandang.

“If the only tool you have is hammer, you tend to see every problem as a nail.”

Apa itu Filsafat Biologi?

Filsafat biologi (philosophy of biology) pada dasarnya adalah sebuah pencarian tentang hakikat kehidupan menggunakan teori dan pengetahuan ilmu biologi. Bagi sebagian orang mungkin menduga bahwa biologi adalah ilmu pengetahuan yang sepele sebatas pengetahuan hormon, organ tubuh dan reproduksi, sehingga melihat segala sesuatu menggunakan prinsip ekonomi atau untung-rugi—bahasa kerennya cost-benefit analysis.

Padahal yang fundamental adalah sains itu sendiri, bahkan Karl Marx pencetus komunisme dan teori histori-materialisme yang kering tanpa “jiwa” itu juga memakai teori evolusi seleksi alam Charles Darwin yang merupakan subjek biologi. Dalam teori Darwin, seleksi alam adalah proses pewarisan sifat yang diturunkan oleh organisme hidup yang telah beradaptasi dengan lingkungannya sehingga generasi berikutnya lebih mungkin untuk bertahan hidup.

Meskipun teori Darwin banyak diterima oleh kalangan ilmuwan, namun pada akhirnya gagasan yang lahir dari teori ini (mahzab Neo-Darwinisme) justru menuju pada kesesatan dan keegoisan hewan yang dibenarkan. Uniknya, mahzab Neo-Darwinisme yang dipopulerkan oleh Richard Dawkins lewat bukunya berjudul The Selfish Gene (1976), mirip dengan mahkluk ekonomi yang disebut Homo economicus—jenis manusia yang melihat segala aspek berdasarkan kepentingan pribadi, baik secara biologis dan ekonomis.

materi memaksa sapiens berevolusi menjadi homo economicus
Copyright: “mac” (Stan McMurtry).

Kritik terhadap Teori Neo-Darwinisme

Teori evolusi Darwin terkait seleksi alam melalui pewarisan sifat, pada akhirnya membawa para penerusnya ke jalan buntu yang menganggap bahwa karakter makhluk hidup hanya ditentukan oleh genetik (gene-centric). Menurut Denis Noble, pandangan yang terlalu berpusat pada gen ini keliru, karena tidak masuk akal untuk menyalahkan seseorang yang telah melakukan tindakan kejahatan berdasarkan genetiknya—tanggung jawab moral seharusnya ada pada individu.

Dalam teori relativitas biologis, Noble menolak pandangan bahwa gen mengontrol organisme secara sepihak. Sebaliknya, organisme secara keseluruhan dan faktor lingkungannya turut memengaruhi bagaimana gen berfungsi dalam membentuk kromosom (DNA) yang kemudian diwariskan ke generasi berikutnya. Misalnya pada kasus penyakit turunan seperti diabetes, seseorang yang mewarisi penyakit genetik ini dapat mencegahnya melalui pola hidup sehat sehingga memengaruhi ekspresi gen (epigenetik) untuk mengatur atau menon-aktifkan gen diabetes.

Menurut Noble, setiap organisme yang hidup merupakan agen aktif dengan kemampuan beradaptasi, kecerdasan, dan membuat pilihan yang memengaruhi proses evolusi. Agen aktif ini pun termasuk senyawa cannabinoid dalam ganja atau tubuh manusia, serta triliunan sel dalam tubuh yang secara diam-diam telah mendukung proses kehidupan kita. 

Kehidupan yang Membentuk Manusia

filsafat biologi tingkatan biologis

Dalam biologi, tubuh manusia bukan hanya dihuni oleh “satu orang” yang sering dianggap “diri sendiri,” melainkan dihuni oleh sekitar puluhan triliun sel hidup yang membentuk jaringan tisu, kemudian lapisan jaringan tisu merajut membentuk organ, lalu organ-organ saling berorganisasi membentuk sistemnya masing-masing (sistem saraf, pernapasan, pencernaan, reproduksi, atau sistem endocannabinoid). Semua sistem organ ini bekerja secara aktif untuk mendukung kehidupan organisme yang disebut manusia atau makhluk Homo sapiens.

Dalam mahzab Neo-Darwinisme, meyakini bahwa sifat egois manusia merupakan bawaan dari sifat genetik (selfish gene) dimana setiap sel dalam tubuh secara alami membatasi satu sama lain: organisme membatasi sistem organ, sistem organ membatasi organ-organ, lalu organ membatasi jaringan tisu, dan jaringan tisu membatasi sel. Dengan kata lain, apabila tidak ada batasan ini, triliunan sel dalam tubuh manusia akan berpencar secara acak tanpa adanya bentuk jaringan tisu maupun organ yang bekerja dalam sistemnya masing-masing.

Namun tampaknya pendapat ini sangatlah dangkal. Karena apabila memang secara genetik sel-sel makhluk hidup membawa sifat egois (selfish gene), maka setiap hewan termasuk manusia yang hidup PASTI memiliki sel kanker—sel hidup yang menolak untuk beregenerasi—di dalam tubuhnya. Namun buktinya tidaklah demikian, sel-sel dalam tubuh makhluk hidup yang bekerja dalam organ memiliki kecerdasan untuk membunuh dirinya sendiri (apoptosis) agar mencegah tumbuhnya sel kanker.

Teori selfish gene Dawkins ini tampaknya hanya untuk membenarkan sifat eksploitasi dan reduksionis yang berlebihan. Sama seperti dalam beberapa teori ekonomi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan oleh pencetusnya yang mereduksi segala aktivitas dan interaksi manusia hanya berdasarkan perhitungan ekonomi yang temporal.

Padahal dalam ilmu biologi, terdapat beberapa jenis interaksi antar makhluk hidup yang dapat kita amati dalam seluruh kehidupan organisme. Hubungan interaksi ini juga disebut sebagai simbiosis.

Simbiosis: Interaksi antar Makhluk Hidup dalam Biologi

Pada dasarnya, ada tiga (3) jenis interaksi antar makhluk hidup dengan sesamanya dalam ilmu biologi, di antaranya adalah:

  1. Simbiosis mutualisme: interaksi antara kedua belah pihak yang saling menguntungkan (misalnya: lebah dengan bunga, lebah mendapatkan nektar dari bunga dan bunga mendapatkan penyerbukan dari lebah).
  2. Simbiosis komensalisme: hubungan di mana satu organisme diuntungkan, sementara organisme lain tidak untung atau rugi (misalnya: bunga anggrek yang menempel pada pohon untuk mendapatkan cahaya matahari tanpa menyerap nutrisi).
  3. Simbiosis parasitisme: hubungan di mana satu organisme diuntungkan, sedangkan organisme lain dirugikan (misalnya: cacing pita dalam usus yang menyerap nutrisi dari tubuh inangnya).

Hubungan simbiosis dalam biologi ini pun dapat digunakan untuk mengamati interaksi sesama manusia. Seperti pendapat Russell bahwa “Apabila kita bisa mengetahui sebagian besar tentang hewan, kita seharusnya menggunakan pengetahuan ini untuk menduga manusia. Tetapi sebaliknya, kita tidak dapat menggunakan pengetahuan tentang manusia untuk menduga hewan.” Dengan kata lain, kita bisa menggunakan teori simbiosis (ilmu biologi) untuk mengamati hubungan manusia, namun tidak dapat menggunakan ilmu sosial manusia untuk menduga perilaku hewan.

Contoh Jenis Simbiosis dalam Interaksi sesama Manusia

Simbiosis dalam kehidupan manusia merupakan interaksi antarpribadi atau kelompok yang saling memengaruhi. Beberapa contohnya adalah:

Simbiosis Mutualisme (Saling Menguntungkan)

Hubungan yang saling menguntungkan sudah seperti menjadi syarat umum dalam hubungan sosial antar sesama manusia. Hal ini dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan tidak ada salahnya mendapatkan untung. Akan tetapi, “keuntungan” ini akan menjadi keliru jika hanya dinilai dari kacamata ekonomi.

Menurut Baca Ganja, “keuntungan” terbesar yang dimiliki seorang manusia bukanlah berdasarkan ekonomi atau materi, tetapi tercapainya kebutuhan akan kerja yang bebas, dan kreatif dalam kendali diri (tanggung jawab) masing-masing individu. Inilah akar dari sifat manusia sebagai organisme hidup (termasuk pada sel sebagai agen aktif) yang dapat membuat pilihan untuk mempengaruhi evolusi.

Simbiosis Komensalisme (Satu Pihak Untung, Pihak Lain Netral)

Hubungan simbiosis komensalisme dalam kehidupan sosial manusia, bisa dihubungkan dengan bentuk tindakan sukarela di mana satu pihak diuntungkan sementara pihak lain netral. Tindakan sukarela ini baru dapat dijalankan ketika manusia sebagai agen aktif menyadari bahwa ia dapat membuat pilihan, dan tujuan itu dilakukan bukan untuk dirinya sendiri (seperti selfish gene yang menjadi kanker bagi dirinya sendiri), melainkan untuk proses evolusi yang lebih baik bagi kehidupan manusia.

Simbiosis Parasitisme (Satu Pihak Untung, Pihak Lain Rugi)

Dalam kehidupan sosial sesama manusia, simbiosis parasitisme dapat disebut juga sebagai hubungan toksik yang manipulatif. Pihak yang diuntungkan akan memanfaatkan ketidaksadaran pihak lain agar tetap dapat dieksploitasi. Selain itu, tindakan parasit ini juga tercermin dalam praktik korupsi yang dilakukan oleh lembaga negara, sehingga pada akhirnya berakibat buruk pada kehidupan masyarakat—baik secara mental dan perilaku.

Kesimpulan Filsafat Biologi

Dalam esai filsafat biologi ini yang menawarkan sudut pandang baru dalam menilai materi dan kehidupan sosial manusia, menjelaskan bahwa kehidupan seluruh organisme hidup: baik tumbuhan, hewan, manusia, hingga dalam tingkatan inti sel bekerja melalui interaksi antara gen, sel, jaringan, dan organisme secara keseluruhan yang holistik—bukan reduksionis yang hanya berpusat pada gen seperti sudut pandang neo-Darwinisme.

Adapun esai ini juga menjelaskan bahwa yang menopang dan mendukung kehidupan manusia ialah organisme (sel-sel) yang hidup dalam tubuh manusia, bukan hanya materi eksternal tetapi ada triliunan sel yang membentuk jaringan dan organ dalam tubuh manusia yang saling berintegrasi.

Inilah yang mendasar dalam kehidupan manusia yang selayaknya lebih penting diperhatikan untuk menjaga kehidupan materi internal dalam tubuh daripada kebutuhan akan pemenuhan materi eksternal—menjaga kesehatan fisiologis melalui manajemen stress, dan tidur yang cukup dapat menjaga kesehatan metabolisme sel atau sistem imun tubuh.

Materi eksternal seharusnya hanya menjadi “alat” atau “bahan bakar” untuk menjalankan keberlangsungan hidup materi internal, bukan sebaliknya mengorbankan jasmani—termasuk rohani—untuk kepentingan ekonomi. Apalagi memandang segala aktivitas kehidupan dalam kacamata ekonomi.


Referensi tambahan:

-A theory of biological relativity: no privileged level of causation (Denis Noble, 2011).

-Denis Noble: "Neo-Darwinism is Dead" (Essentia Foundation, Youtube).

Tinggalkan komentar

Sharing is caring