Baca Ganja – Sejumlah hasil studi ilmiah menunjukkan potensi cannabinoid (senyawa ganja) sebagai pengobatan untuk hipertensi atau darah tinggi.

Hipertensi atau tekanan darah tinggi, merupakan tekanan aliran darah yang kuat terus-menerus di dalam arteri. Penyebabnya bisa karena banyak faktor, salah satunya gejala neurosis, seperti gangguan kecemasan atau insomnia. Penyakit ini sering disebut sebagai silent killer, karena kerap hadir tanpa gejala berat, dan akhirnya menyebabkan komplikasi serius seperti stroke dan serangan jantung.
Data dari Survei Kesehatan Indonesia (2023) mencatat hipertensi menyerang 1 dari 3 total populasi orang dewasa, dan menempati peringkat kelima sebagai negara dengan tingkat hipertensi tertinggi.
Sejumlah penelitian di awal abad 21, menemukan bahwa sistem endocannabinoid (ECS) dalam tubuh berperan dalam mengatur tekanan darah. Studi laboratorium hewan menunjukkan bahwa senyawa endocannabinoid (AEA/2-AG) dapat menekan kontraktilitas jantung secara signifikan pada hipertensi, dan dapat menormalkan tekanan darah, sehingga beberapa peneliti berpendapat bahwa modulasi/manipulasi ECS “mungkin menawarkan pendekatan terapeutik baru dalam berbagai gangguan kardiovaskular.”
Selain endocannabinoid, senyawa cannabinoid dalam ganja juga diteliti memiliki efek terapeutik potensial untuk penyakit kardiovaskular, baik dalam studi praklinis dan uji klinis awal pada manusia.
Potensi Cannabinoid Meregulasi Hipertensi (Darah Tinggi)
Dalam tinjauan sistematis dan meta-analisis tahun 2021 dari uji coba acak terkontrol (RCT) yang mengevaluasi efek kardiovaskular dari penggunaan ganja medis pada pasien dewasa, menunjukkan bahwa “Tidak ada studi yang melaporkan kejadian kardiovaskular serius (seperti infark miokard, stroke) dalam konteks penggunaan medis cannabinoid dalam RCT yang dianalisis.”
Sedangkan dalam studi laboratorium hewan di Swiss (tahun 2005, dan 2006) menunjukkan, pemberian cannabinoid berkaitan dengan vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah), bradikardia (penurunan detak jantung) sementara, hipotensi (penurunan tekanan darah), serta menghambat progresi aterosklerosis (pengerasan arteri).
Dalam studi prospektif tahun 2021 pada pasien hipertensi berusia ≥60 tahun yang baru memulai terapi ganja medis, menunjukkan penurunan signifikan pada tekanan darah sistolik (5,0 mmHg) dan diastolik (4,5 mmHg) setelah 3 bulan menjalani proses terapi. Peneliti mencatat, “terapi ganja medis selama 3 bulan pada pasien hipertensi usia lanjut dapat menurunkan tekanan darah 24 jam tanpa memengaruhi parameter metabolik dan EKG.”
Dalam tinjauan literatur sistematis dari American Journal of Medicine (2021) yang menganalisa 67 studi terkait penggunaan ganja medis dan efek kardiovaskular, mencatat bahwa “meskipun ganja sendiri mungkin tidak secara langsung meningkatkan resiko kardiovaskular, penggunaannya sering dikaitkan dengan perilaku resiko lain, seperti konsumsi alkohol dan merokok tembakau, yang dapat merugikan kesehatan jantung. Oleh karena itu, meskipun ganja memiliki potensi terapeutik, penggunaannya harus dilakukan dengan hati-hati dan di bawah kontrol medis yang tepat.”
Sudah sepatutnya penggunaan ganja didasarkan dengan sikap respek terhadap tanaman yang memberi manfaat dan nilai pengobatan. Hingga saat ini, masih banyak penggunaan ganja dibarengi dengan konsumsi zat psikotropika lainnya, yang digunakan hanya untuk sebagai pereda efek zat sintetis yang menghasilkan senyawa dopamin dalam jumlah besar sehingga menyebabkan halusinasi (seperti ekstasi/MDMA, sabu/meth, putau/heroin) — seperti dalam kasus yang menjerat salah satu tokoh publik figur.
Referensi tambahan: -Indonesia Peringkat Lima Dunia, Hipertensi Ancam Remaja Usia Produktif (Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2025) -Endocannabinoids and Vascular Function (Hillard, C.J. 2000) -Endocannabinoids as cardiovascular modulators (Kunos, G., Goparaju, S. K., et al. 2000) -Cardiovascular System Effects on Marijuana (Jones, R. T. 2014 -[Cardiac and vascular effect on cannabinoids: toward a therapeutic use?] Ribuot, C., et al (2005) -Cannabis and cardioxity (Karch, S. B. 2006) -Marijuana use, diet, body mass index, and cardiovascular risk factors (from the CARDIAC study) (Rodondi, N., et al. 2006) -Positif Ganja dan Ekstasi, Mengapa Onad disebut Penyalahgunaan Narkoba? (KOMPAS, 2025)