Baca Ganja — Kritik untuk menata ulang pemikiran Tan Malaka terkait logika mistika dan unsur maknanya dalam Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Pengantar
Tan Malaka merupakan penggagas pertama Republik Indonesia dalam bukunya Naar De’Republiek Indonesia pada tahun 1925. Sejak masa Orde Baru hingga saat ini, sejarahnya dihapus dalam pendidikan kewarganegaraan di sekolah. Namun, murid yang beruntung akan menemukan guru yang mengajarkan fakta sejarah Tan Malaka diluar dari buku teks.
Sejarah dan kisah hidup Tan Malaka yang saya dapat sejak pendidikan menengah, cukup membuatnya berada dalam waktu yang lama di ingatan. Jalan hidupnya yang sunyi dan pemikirannya tentang republik, sedikit-banyak memengaruhi imajinasi tentang sejarah Indonesia.
Prinsip hidupnya mirip dengan Descartes, filsuf Prancis yang terkenal dengan semboyannya: “to live well one must live unseen”. Namun yang membedakan keduanya adalah: Tan Malaka lebih memilih mengambil tindakan dan berpikir materialis, sedangkan Descartes lebih memilih ketenangan dalam menyelesaikan karyanya dan berpikir rasionalis.
Saat ini, pemikiran dan buku-buku Tan Malaka semakin banyak dibaca oleh generasi muda masyarakat Indonesia. Fenomena ini lahir berkat kontribusi besar Malaka Project yang menghidupkan kembali nama Tan Malaka. Namun setelah membaca kembali buku Tan Malaka, saya temukan beberapa pemikiran beliau yang harus dikritik; yaitu logika mistika. Karena sudut pandang yang keliru tentang ini akan menjerumuskan penerus dan pengikutnya ke dalam kebingungan yang mereka sederhanakan menjadi hal mistis belaka.
Menurut Tan Malaka, logika mistika secara ringkas dapat diartikan sebagai kepercayaan akan “firman dewa” atau takhayul, dan bertolak belakang dengan ilmu pasti yang dapat memeriksa segala bentuk materi yang ada di dunia ini. Pandangan ini lahir karena saat itu beliau melihat banyak masyarakat Indonesia yang melakukan tradisi praktik ritual yang dianggap tidak logis. Namun tampaknya, penjelasan logika mistika-nya ada yang keliru.
Esai ini selanjutnya menata ulang sudut pandang logika mistika dari Tan Malaka berdasakan isi teks Madilog, dan membuktikan bahwa energi yang tak kasat mata dapat dibuktikan dengan ilmu pasti itu sendiri. Kemudian menguji logika mistika dengan filsafat rasional, teologi-kosmologi, dan analitik—untuk membuktikan bahwa logika mistika diperlukan sebagai penyatuan pikiran yang sesuai dengan hati nurani berdasarkan isi sila pertama dari Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa.
Menata Ulang Logika Mistika dengan Ilmu Pasti
Dalam isi teks logika mistika di Madilog, secara ringkas dapat dijelaskan bahwasannya sesuatu yang bersifat dewa/roh—dan turunannya seperti energi dan kodrat/hukum—tidaklah bersifat terkuasa, karena sifat-sifat (energi, hukum) terkandung dalam materi—dimana ada benda, disana barulah ada hukum/kodrat. Kemudian Tan Malaka menjelaskan contoh bagaimana besi (materi) menghasilkan listrik (kodrat) yang dapat diukur dengan tepat (ilmu pasti).
Menurutnya, “Kodrat listrik itu bisa menggerakkan mesin, bisa memberi panas dan cahaya. Tetapi kodrat listrik itu tak bisa membikin zat baru, seperti orang, hewan, malah sebutir beraspun listrik itu tak bisa bikin. Jadi buat ilmu pasti kodrat itu tak bisa terpisah dari benda. Lagi pula mesti ada benda dahulu, baru dibelakangannya timbul kodrat. Elektron atau dinamo dahulu, baru dibelakangnya ada kodrat listriknya. Tidak ada bendanya, tak ada pula kodratnya. Energi, kodrat semata-mata tak bisa menimbulkan benda.”
Meskipun pernyataan ini tidak dapat dibantah secara saintifik, namun pernyatan terakhir tentang “energi, kodrat semata-mata tak bisa menimbulkan benda” tampak keliru. Karena menurut kodrat/hukum alam, yang TIDAK KELIHATAN dapat membentuk ZAT—bahkan sebaliknya. Contoh ini dapat dilihat dari bagaimana udara pagi membentuk embun, atau air mendidih yang menguap. Adapun juga, ZAT dapat membentuk FISIK ataupun sebaliknya, seperti cairan yang menjadi padat dan beku ataupun es beku yang mencair—ini disebut sebagai HUKUM PERUBAHAN FISIKA. Ini artinya, yang disebut realitas tidak dibentuk oleh energi maupun materi secara terpisah, namun dari kedua unsur tersebut serta kondisi yang membentuknya.
Adapun contoh lainnya yang lebih kompleks dapat ditemukan pada teori kosmologi BIG BANG dari Stephen Hawking, yang berpendapat bahwa pada tahap awal pembentukan alam semesta berada dalam keadaan sangat panas (energi) dan padat (materi), lalu mengalami ekspansi ruang-waktu sehingga berkembang menjadi semesta yang kita amati sekarang. Meskipun bersifat dugaan, namun model ilmiah ini banyak didukung.
Setelah menemukan bahwasannya energi dapat menimbulkan benda, dan kodrat energi dengan materi (zat) saling berkaitan. Sekarang, kita masuk ke dalam pengujian logika mistika menggunakan filsafat rasional, teologi-kosmik, dan analitik yang saling berkolerasi—sehingga pada akhirnya dapat menemukan penyatuan antara pikiran dan tindakan berdasarkan prinsip moral dari sila pertama Pancasila.
Rasionalisme Logika Mistika
Untuk mengawali pembahasan ini, saya akan kembali kepada filsuf yang telah disebutkan di awal pengantar esai, yaitu Descartes. Sebagai filsuf yang skeptis, ia memiliki metode untuk menemukan kebenaran yang umumnya disebut dengan “keraguan Descartes” sebagai dasar yang kuat bagi filsafatnya—termasuk bagaimana ia membuktikan eksistensi Tuhan.
Dimulai dengan keraguannya terhadap indra-sensorik manusia. Ia berpendapat bahwasannya peristiwa yang diamati saat sadar tidaklah berbeda dengan pengamatan saat mimpi dalam tidur. Selain itu menurutnya, orang gila pun terkadang memiliki halusinasi, sehingga mungkin saja kondisi itu juga dapat terjadi pada manusia normal secara tak sadar. Alasan ia meragukan indra-sensorik karena bisa saja fenomena yang tercerap bersifat menipu (manipulasi).
Maka dari itu, satu-satunya kebenaran yang dapat diperiksa secara objektif—baik sewaktu sadar ataupun dalam mimpi—adalah geometri. Namun lanjutnya, objek geometri yang diamati tidak dapat dipastikan benar, karena bisa saja seseorang keliru menghitung sisi-sisi sebuah bentuk segi empat. Sehingga menurutnya, satu-satunya yang memiliki wujud kesempurnaan dan tak terbatas adalah milik Tuhan, yang mana bentuk sempurna itu dapat dibayangkan dalam bentuk-bentuk geometri yang sempurna: misalnya bentuk lingkaran yang memiliki jarak yang sama dari titik pusat, atau segitiga yang memiliki panjang tiga sisi yang sama.
Dari penjelasan ini pada akhirnya Descartes meyakini bahwa satu-satunya yang pasti adalah “aku berpikir, maka aku ada” (cogito, ergo sum). Selain itu, pandangannya yang menganggap bentuk kesempurnaan dan tak terbatas adalah milik Tuhan juga dapat dikaitkan dengan logika mistika, yang tampaknya ia nyatakan dengan kerendahan hati meski kurang menarik seperti bentuk keraguannya pada indra tubuh.
Kendati konsep bentuk kesempurnaan dan ketidakterbatasan yang diajukan Descartes tampak mengawang, konsep tersebut setidaknya mencoba menjelaskan maksud dan bentuk kesempurnaan dalam wujud yang dapat dipikirkan akal sehat manusia melalui ilmu pengetahuan. Dalil ini juga yang dapat membenarkan bahwa bangsa Mesir Kuno yang membangun piramid Giza, lebih dulu memikirkan konsep tersebut sehingga terbentuklah keajabaian dunia itu—bukan sebaliknya.
Walaupun alasan ini tidak bisa menyangkal pendapat Tan Malaka bahwa “kodrat (hukum geometri) semata-mata tak bisa menimbulkan benda (piramid),” karena membangun piramid membutuhkan bahan materi. Maka ini membuktikan bahwasannya realitas terbentuk dari kedua unsur tersebut yang bentuknya ditentukan oleh kondisi.
Logika Mistika Teologi-Kosmologi yang Selaras dengan Sains
Pembuktian logika mistika dalam teologi-kosmologi pun dapat dibenarkan jika dihubungkan dengan sains. Baik dalam teologi Islam, Kristen, Hindu-Buddha, terdapat prinsip awal penciptaan kehidupan yang sama: yaitu kehidupan dibentuk dari unsur materi (debu, tanah, air) dan roh (napas, energi). Di sub-judul pertama, sudah dijelaskan bagaimana ilmu pasti fisika dapat mengubah energi menjadi zat, zat menjadi fisik, atau sebaliknya. Selain itu, dalam teori Big Bang juga diyakini bahwa alam semesta terbentuk dari energi panas dan materi padat.
Penjelasan diatas membutkikan bahwa ada titik yang menghubungkan antara teologi-kosmologi dengan sains, meskipun jika ditarik lebih jauh lagi akan semakin tampak perbedaan diantara keduanya. Namun dengan mengetahui ini, setidaknya kita menyadari bahwa hidup bukan sekadar materi tetapi ada juga energi kehidupan dalam diri setiap makhluk yang dapat diperiksa melalui akal sehat maupun ilmu pengetahuan.
Selanjutnya, saya akan coba menggunakan filsafat analitik yang menggunakan penekanan logika, analisis bahasa, dan metode ilmiah untuk memecahkan masalah filosofis, seperti halnya pada fenomena logika mistika. Sehingga pada akhirnya, kita dapat menemukan makna sesungguhnya sesuai dengan sila pertama dari Pancasila.
Logika Mistika Membentuk Kesadaran (Penjelasan Filsafat Analitik)
Meskipun logika mistika dianggap sebagai hal yang tidak dapat divalidasi menggunakan metode ilmiah berdasarkan filsafat analitik, namun bukan artinya logika mistika tidak dapat memberi sebuah kesadaran subjektif bagi seseorang yang menyadarinya. Maka dari itu, kita kesampingkan dulu pikiran dangkal yang menganggap logika mistika hanya sekadar takhayul (karena mungkin tidak mampu menjelaskan) dan beralih ke makna KESADARAN berdasarkan filsafat analitik.
Pada artikel sebelumnya tentang manusia, kesadaran, dan realitas kehidupan (filosofi semesta) dijelaskan bahwa kesadaran memiliki beberapa tingkatan. Saya akan coba menjelaskan lebih jauh disini berdasarkan filsafat analitik Bertrand Russell yang ditulis dalam bukunya The Analysis of Mind (Analisa Pikiran) seringkas mungkin. Menurutnya, apa yang disebut dengan “kesadaran” bukanlah inti dari fenomena mental. Sebab, tindakan dan keyakinan seseorang bisa didominasi secara keseluruhannya oleh keinginan yang TIDAK DISADARI seseorang—dalam teori psikoanalisa Freud disebut “bawah sadar”.
Meskipun Russell menggunakan teori “bawah sadar” psikoanalisa Freud, tapi ia menolak konsep Freud yang menekankan bahwa perilaku manusia didominasi oleh dorongan tak sadar. Karena menurutnya, membenarkan prinsip tersebut sama artinya dengan membenarkan “tindakan penuh tipuan di atas segalanya dan sangat jahat”—tindakan yang didasari oleh manipulasi diri sendiri.
Selain itu, Russell juga memberikan contoh bahwa dalam diri kita sendiri ada sesuatu yang sama analognya dalam kasus di mana tidak ditemukan jejak “kesadaran”. Sehingga ia menghilangkan makna “kesadaran” dan menggantikannya dalam kategori lebih spesifik: mulai dari naluri, kebiasaan, keinginan, perasaan, dan kemampuan introspeksi. Karena pada dasarnya manusia dan hewan tidak ada bedanya, tetapi pada tingkatan tertentu keduanya memiliki perbedaan.
Naluri dan Kebiasaan
Setiap makhluk hidup tentu memiliki naluri, bahkan tumbuhan memiliki naluri dasar untuk tumbuh. Menurut Russell, apabila kita bisa mengetahui sebagian besar tentang hewan, kita seharusnya menggunakan pengetahuan ini sebagai dasar untuk menduga manusia. Tetapi sebaliknya, kita tidak dapat menggunakan pengetahuan tentang manusia untuk menduga hewan. Hal ini juga berlaku dalam mengamati naluri dan kebiasaan.
Contoh naluri pada hewan misalnya pada rayap yang selalu lari menjauhi cahaya dan menyembunyikan diri di tempat-tempat gelap. Hewan seperti ini peka terhadap cahaya, dalam artian gerakannya dipengaruhi oleh cahaya. Hal yang sama juga dapat ditemukan pada manusia, seperti saat murid mendengar suara lonceng masuk kelas. Reaksi yang ditimbulkan setelah lonceng berbunyi untuk memasuki ruangan kelas merupakan gerakan “refleks”. Kedua contoh ini merupakan bentuk gerakan naluriah yang tidak memerlukan “kesadaran” yang rumit.
Selain naluri, adapun jenis gerakan yang “dipelajari,” atau merupakan manifestasi dari “kebiasaan,” jika gerakan itu akibat pengalaman sebelumnya akan situasi yang mirip. Proses pembelajaran ini, yang terdiri dari proses kebiasaan, sudah banyak dipelajari pada berbagai model hewan. Contohnya jika kita letakkan tikus di tengah-tengah labirin, dan memancingnya dengan aroma makanan. Tikusnya mulai lari menyusuri lorong-lorong labirin mengikuti sumber makanan tersebut. Pada awalnya, tikus akan menemukan jalan-jalan buntu. Namun jika kita ulangi selama seminggu, tikus tersebut seiring waktu tidak lagi salah berbelok dan semakin cepat tiba pada sumber aroma makanan.
Hal ini juga dapat dipraktekkan pada manusia, mirip dengan cara kita belajar, menulis, menghafal, atau berpikir bahwa pemerintah demokrasi merupakan sebuah kerajaan. Hal-hal demikian dapat diulang sehingga membentuk kebiasaan yang pada akhirnya tidak lagi membutuhkan campur tangan “kesadaran” untuk langkah selanjutnya dalam bertingkah laku. Ini pun berlaku bagi orang yang pikirannya sudah di dikte dengan prinsip ekonomi alih-alih ekologi, sehingga segala tingkah lakunya hanya diukur berdasarkan perhitungan ekonomi belaka (cost-benefit analysis).
Apa yang benar bagi hewan, dalam hal naluri dan kebiasaan, adalah sama benarnya bagi manusia. Tapi semakin tinggi kita menapaki tangga evolusi, pada umumnya kekuatan belajar menjadi semakin besar dan semakin sedikit kesempatan di mana naluri murni ditampilkan tanpa modifikasi dalam kehidupan dewasa. Kecuali, bagi manusia yang hidup tanpa kesadaran dan hanya di setir oleh naluri ataupun kebiasaan yang diciptakan oleh kondisi lingkungan eksternal.
Keinginan
Adapun yang lebih kompleks dari naluri dan kebiasaan, namun dapat dikatakan masih dimiliki oleh hewan: yaitu keinginan. Keinginan yang paling mendasar yang dimiliki oleh manusia dan hewan adalah yang didorong oleh hasrat biologis, misalnya lapar. Menurut Russell, sudah sewajarnya untuk menganggap keinginan merupakan sikap terhadap sesuatu yang dibayangkan, bukan sesuatu yang sebenarnya. Sesuatu ini disebut AKHIR atau OBJEK dari keinginan, dan tindakan apa pun yang muncul dari keinginan terkait disebut sebagai TUJUAN. Namun berbeda dengan hewan, keinginan manusia begitu kompleks yang dapat diperiksa menggunakan psikoanalisa.
Dalam psikoanalisa diyakini bahwa tindakan dan perilaku manusia didorong oleh keinginan “bawah sadar” yang secara umum disebut sebagai penipuan-diri. Tetapi ilmu psikoanalisa hanya sedikit memperhatikan analisa keinginan. Mereka lebih tertarik, melalui pengamatan, untuk menemukan apa yang diinginkan manusia dan bukannya mengamati apa yang membentuk keinginan. Disinilah kelemahan psikoanalisa menurut Russell, sehingga pengikut teori ini menyelami bagian bawah tanah dari NALURI, dan semakin mereka melangkah jauh dari apa pun yang mirip dengan keinginan SADAR. Dan ini yang menyebabkan pengikut Freud tak mungkin menolak bahwa hanya PENIPUAN-DIRI-SENDIRI POSITIF yang dapat menyembunyikan keinginan sebenarnya yang MENJIJIKKAN bagi kehidupan eksplisit.
Misalnya, “Seseorang menyatakan menginginkan suatu akhir A tertentu, dan kemudian ia bertindak untuk meraihnya. Tapi kita mengamati bahwa tindakan-tindakannya sebegitu rupa hingga kemungkinan dia akan mencapai akhir B, suatu akhir yang sering kali terlihat seakan dituju oleh hewan (yang menyamar) dan orang biadab—orang beradab seharusnya membuang akhir seperti itu,” jelas Russell dengan kritik tajamnya. Pernyataan Russell adalah fakta yang dapat diamati hari ini, dan mirisnya orang-orang seperti ini banyak ditemukan dalam lembaga negara yang mengurus kebijakan sosial-ekonomi masyarakat—termasuk di lingkungan masyarakat yang sering dianggap intelek padahal hanya telek.
“Kita semua berpikir bahwa, dengan mengamati tingkah laku hewan, kita bisa menemukan kemungkinan keinginan mereka yang terlihat dalam tindakannya. Hewan-hewan MUNGKIN memiliki pikiran di mana berlangsung segala macam, tapi kita tidak bisa mengetahui sedikit pun tentang pikiran mereka kecuali dengan cara menduga-duga berdasarkan tindakan mereka. Semakin banyak kita meneliti dugaan itu, akan semakin terlihat meragukan. Oleh karenanya, untuk menguji keinginan hewan (maupun manusia) HARUS diamati dari tindakannya semata.” Penjelasan Russell yang memuaskan tentang keinginan hewan, tampaknya tidak sulit untuk diterapkan untuk mengamati keinginan pada manusia.
Ini adalah alasan saya menggunakan filsafat analitik, untuk mendapatkan kejelasan pikiran dan tingkah laku manusia yang sebenarnya tidak berbeda dari hewan yang perlu disadari dan diketahui. Memang, logika mistika yang pikirannya penuh dengan hal mistis dan tidak diketahui itu tidak bisa dilacak dengan metode ilmiah, namun filsafat analitik Russell tetap menyediakan ruang untuk menelitinya dengan cara mengamati tingkah laku fisik yang menimbulkan PERASAAN.
Perasaan
Disini saya akan mengambil dua jenis contoh perasaan, saat “lapar” dan “berdoa” yang terkait logika mistika. Saya akan menggunakan contoh hewan pada kasus perasaan lapar, dan contoh manusia pada kasus berdoa untuk menganalisa hasil dari tingkah laku yang didapat dari kedua aktivitas ini—sekaligus memeriksa apakah logika mistika berpengaruh kepada seseorang yang memiliki rasa akan hal tersebut.
Kita mudah menilai dari tingkah laku hewan apakah hewan tersebut lapar, haus, senang, tidak senang, maupun ketakutan. Namun kebanyakan orang memulainya dengan dugaan kondisi pikiran hewan tersebut (lapar, haus, takut) kemudian hewan tersebut menyusun perkiraan tentang tindakannya berikutnya. Padahal menurut Russell, kita hanya dapat menilai dari tindakan paling selanjutnya dari hewan tersebut—bukan dari dugaan kita.
Ini pun berlaku halnya dengan perasaan “berdoa” yang hanya dilakukan oleh manusia. Kita akan keliru jika menganalisa melalui dugaan pikiran orang yang berdoa, karena kita hanya mampu menilai tindakan selanjutnya sebagai hasil dari berdoa—apakah sesuai dengan sikap selayaknya manusia yang berdoa. Namun kebanyakan orang lebih suka menduga-duga pikiran orang yang melakukan doa dan mengaitkannya dalam pikirannya sendiri dengan apa yang disebut logika mistika oleh Tan Malaka—meskipun ada yang keliru dari penjelasan beliau sendiri yang sudah di tata ulang dalam esai ini.
Keinginan dan perasaan akhirnya membentuk “tujuan” dari siklus tingkah-laku yang membawanya ke akhir, yang menurut Russell sebagai “kondisi ketenangan sementara”—asalkan tidak ada penyelaan. Seekor hewan dapat dikatakan “menginginkan” tujuan sebuah siklus tingkah-laku (makan, minum) sementara siklus tingkah-lakunya tengah berlangsung. Pengamatan ini juga bisa dikaitkan dengan kasus “korupsi” pada manusia yang menolak mengakui perbuatannya.
Tujuan-tujuan mencapai kondisi ketenangan sementara itu pun ada dua jenisnya, yaitu untuk mencapai “kesenangan” atau menghindari “ketidaknyamanan”. “Kesenangan” merupakan sifat sensasi atau kejadian mental lainnya, yang terdiri dalam fakta bahwa kejadian terkait merangsang gerakan sukarela atau refleks untuk cenderung mengulur lamanya kejadian terkait. Sedangkan “ketidaknyamanan” merupakan sifat dari sensasi atau kejadian mental lainnya, yang terdiri dari fakta bahwa kejadian terkait merangsang gerakan sukarela atau refleks untuk menghasilkan kurang lebih perubahan yang pasti melibatkan perhentian kejadiannya.
Definisi ringkas ini tampaknya cukup untuk menjelaskan tujuan dan keinginan manusia, sekaligus menunjukkan bahwa “kesadaran” bagaikan penonton yang menyaksikan proses-prosesnya—atau disebut juga dengan INTROSPEKSI.
Introspeksi (Kesadaran akan Diri)
Kemampuan manusia untuk “kesadaran akan diri” disebut Russell sebagai introspeksi. Ia menolak perbedaan antara pikiran dan materi yang terlalu mendasar seperti anggapan pada umumnya—termasuk juga pemikiran Tan Malaka. Karena menurutnya, objek material tidak dengan sendirinya merupakan sebuah substansi, tetapi juga ada sifatnya terkait dengan sensasi. Dengan cara ini, bahan penyusun objek fisik dapat dikaitkan dengan bahan yang menyusun kehidupan mental kita. Misalnya, sensasi kita pasti berbeda ketika melihat pohon asli dengan pohon dalam foto, meskipun sama-sama pohon.
Kemampuan introspeksi juga harus membuktikan bahwa bahan dari kehidupan mental kita (ketakutan, kengerian, keberuntungan) tidak memiliki kualitas apa pun yang umumnya dianggap seharusnya ada, dan tidak memiliki atribut apa pun sehingga membuatnya tak mungkin mampu membentuk bagian dunia materi. Menurut Russell, introspeksi seharusnya melengkapi data untuk pengetahuan akan proses mental kita yang tersusun dari sensasi dan bayangan sepenuhnya. Keterkaitan materi dengan sensasi ini tidak terlepas dari hukum sebab-akibat psikologis (mental) dan fisik (materi).
Menurut saya, disinilah pentingnya logika mistika yang dapat memberi sebuah “kesadaran akan sesuatu yang diluar diri” dalam membentuk keadaan mental yang bermanfaat dalam introspeksi sebelum BERTINDAK untuk memilih TUJUAN. Ataupun sebagai pengetahuan akan keterbatasan akal manusia yang membuat Kant menduga adanya kemungkinan keberadaan noumena (sesuatu yang ada di dalam dirinya sendiri) yang tak dapat dicapai oleh akal manusia.
Meski tampaknya logika mistika yang diartikan sebagai “kesadaran akan sesuatu yang diluar diri” mirip dengan pandangan Kant terkait noumena, Kant sendiri sepenuhnya menarik gagasan ini berdasarkan intuisi intelektual (logika), bukan spiritual (mistika). Tetapi perbedaan ini tidak memengaruhi “makna dan esensi” keduanya yang menuju pada nilai moral universal, sebagai alat introspeksi—atau refleksi-diri. Nilai-nilai ini pula lah yang terkandung dalam sila pertama Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa—termasuk dalam visi etis ilmu pengetahuan dan agama.
Semoga esai ini dapat memberikan kesadaran. Meski tulisan ini tidak dapat menentukan apa yang hendak pembaca pikirkan, tapi setidaknya esai ini dapat memberi kesadaran yang lebih bermakna untuk dipertimbangkan. Karena sebagian pengetahuan ini bersumber dari guru yang berdiam dalam sunyi, dan hanya dapat dijelaskan lewat kemampuan keterbatasan diri, namun sebisa mungkin diterangkan lewat pengetahuan atau ilmu alam yang terpisah-pisah dari para ahli.