Energi yang Menciptakan Warna, Geometri, dan Kehidupan

Baca Ganja — Esai tentang energi yang mengisi ruang semesta, sebagai unsur utama yang menciptakan warna-warni dan bentuk geometri dalam kehidupan.

Energi adalah unsur yang menciptakan warna dan kehidupan
Teratai air (Nymphaea capensis).

Setelah dalam esai sebelumnya (Logika Mistika dalam Pancasila) dijelaskan secara ringkas tentang energi sebagai salah satu unsur yang menciptakan semesta, esai ini akan coba menjelaskan lebih jauh tentangnya. Karena hari ini tampaknya manusia telah kehilangan makna sesungguhnya dari energi, yang mana sumbernya justru melahirkan konflik di dunia.

Di dalam sains, energi bersifat kekal dan tidak dapat dimusnahkan yang mengisi seluruh ruang semesta. Ia juga berperan menciptakan warna pada bunga yang memikat mata dan bentuk geometri sempurna—seperti pada bunga teratai air yang tak sengaja saya temui beberapa tahun lalu.

Dapat dilihat bagaimana warna dan bentuk pada bunga seperti membawa pesan kehidupan. Bagian lapisan luar bunga berwarna paling muda membentuk geometri pentagram (seperti bentuk bintang laut), dan ditengah bunga membentuk geometri mandala dengan perpaduan warna cerah.

Selain menunjukkan bahwa tumbuhan memiliki kesadaran di dalamnya yang dapat merangkai susunan geometri, ini juga menunjukkan bahwa ada energi yang menjadi penyebab atau menciptakan segala yang ada. Esai ini akan menjelaskannya berdasarkan sains sebagai dasar analitik untuk mengimajinasikan ide tentang energi dalam perspektif lebih luas.

Energi dalam Sains

Di dalam sains, energi tidaklah bersifat terbatas sebagaimana dalam prinsip ekonomi yang dapat menjadikan sumbernya menjadi langka dan krisis. Dalam fisika (hukum termodinamika pertama), energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan; hanya dapat dipindahkan. Seperti setiap tarikan napas yang membawa energi masuk ke dalam tubuh, atau mesin yang bergerak karena panas yang dihantarkan oleh matahari atau sumber energi lainnya.

Energi berada di udara, cahaya, dan seisi ruang semesta. Bahkan di dalam partikel atom tunggal yang tak kasat mata dan paling kecil sekalipun, energi potensial tersimpan di dalamnya. Untuk membuktikannya, kita harus beralih ke kimia untuk menemukan atom tunggal (O) yang menjadi unsur pembentuk oksigen (O₂), karbon dioksida (CO₂), dan air (H₂O). Tubuh manusia dan makhluk hidup lainnya tidak terlepas dari ketiga unsur ini.

energi potensial dalam atom tunggal oksigen O
Gambar rantai atom tunggal (O) membentuk oksigen, karbon dioksida, dan air.

Oksigen adalah senyawa yang dibutuhkan oleh tubuh untuk kerja fungsi organ dan dihasilkan/dikeluarkan oleh tanaman saat berfotosintesis. Sebaliknya, karbon dioksida dihasilkan/dikeluarkan oleh tubuh (lewat napas atau feses) dan dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya. Sedangkan air adalah materi dasar segala unsur kehidupan (seperti menurut Thales).

Semua ini berkaitan dengan atom tunggal (O) yang menyimpan energi potensial di dalamnya sebagai sumber yang mendukung kehidupan dalam biologi—bahkan untuk membuat api membutuhkan oksigen (O₂) yang tanpanya pembakaran tidak akan sempurna.

Energi Cahaya sebanding dengan Frekuensi yang Menghasilkan Warna

Adapun warna yang dihasilkan seperti pada bunga, buah, atau sayuran berasal dari gelombang frekuensi energi cahaya. Dalam fisika, terdapat perhitungan matematis yang dapat mengukur tingkat frekuensi gelombang tersebut. Dan dalam biologi, pigmen dalam senyawa tumbuhan dapat menyaring cahaya dan memantulkan frekuensi tertentu yang menentukan warna dirinya—serta memiliki manfaat kesehatan bagi manusia.

Misalnya pada sayuran hijau yang mengandung klorofil (seperti brokoli, bayam, dan kubis) dapat mencegah kanker. Sayur dan buah berwarna kuning, merah, dan jingga (seperti wortel, jagung, tomat, jeruk, dan pepaya) mengandung zat karotenoid untuk mencegah inflamasi dan meningkatkan sistem imun tubuh. Sedangkan buah berwarna biru, ungu, atau merah (seperti beri, anggur, ceri, dan ubi ungu) mengandung antosianin (seperti juga pada strain ganja Purple kush) yang dapat mencegah diabetes tipe-2, kanker, serta penyakit jantung.

Bukti sains ini membuktikan bahwa energi yang kekal dan tidak dapat dimusnahkan berada bebas dalam ruang semesta, hingga dalam bentuk materi atom paling kecil sekalipun yang membentuk sumber energi (udara, panas, air) bagi makhluk hidup ataupun mesin. Lalu apabila energi bersifat kekal dan tidak dapat dimusnahkan, apakah ada asal-usul yang menjadikannya?

Asal-usul Energi yang Mengisi Ruang Semesta

Setelah menjelaskan energi berdasarkan sains yang pada dasarnya bersifat kekal sebagai daya untuk mendorong gerakan mekanis bagi mesin maupun pertumbuhan bagi kehidupan, kini pembahasan masuk ke dalam asal-usul lahirnya konsep tentang energi.

Untuk mengetahuinya, kita harus kembali jauh bahkan sebelum hukum termodinamika dalam fisika mulai berkembang di abad ke-19, yaitu di era Pencerahan/Renaisans Eropa oleh seorang filsuf yang dengan kerendahan hatinya merasionalisasikan keberadaan Tuhan, bernama Descartes.

Pada abad ke-17 di akhir masa Pencerahan Eropa, Descartes dengan rasionalismenya berhasil mendamaikan teologi dan sains secara menakjubkan. Caranya untuk membuktikan keberadaan Tuhan adalah dengan ia menyadari sebagai makhluk yang terbatas, dirinya dapat memikirkan konsep ketidakterbatasan yang dimiliki oleh Tuhan sebagai penyebab pertama dari peristiwa atau realitas. Dengan kata lain, segala sesuatu di semesta ini haruslah berasal dari wujud yang lebih sempurna dan tidak terbatas.

Adapun dalam bukunya yang lain berjudul Principles of Philosophy, ia mengatakan bahwa “(Tuhan) menciptakan materi, beserta gerakannya … hanya dengan membiarkan segala sesuatu berjalan sesuai kodratnya, Dia mempertahankan jumlah gerakan yang sama … seperti yang Dia tempatkan di awal.”

Ide Descartes bahwa alam bersifat teratur, dapat dimodelkan, dan mengikuti hukum yang pasti membantu membentuk landasan berpikir ilmiah pada dunia sains modern, termasuk hukum termodinamika kedua: yaitu daya penyebab memiliki energi lebih besar atau sama dengan akibat yang dihasilkan.

Pengetahuan Descartes ini pun tidaklah terjadi secara kebetulan, atau dibuat untuk menunjukkan dirinya sebagai orang yang saleh dan cerdas. Bahkan ia sendiri menganjurkan untuk “lebih sedikit belajar daripada berkontemplasi,” yang menunjukkan dirinya sebagai seorang yang lebih sering berpikir reflektif lewat meditasi daripada membaca.

Dalam buku Sejarah Filsafat Barat, Russell menjelaskan bahwa “Menurut cerita Descartes, setengah filsafatnya telah selesai ketika selesai melakukan meditasi, tetapi pernyataan ini tidak bisa dipahami secara terlalu harfiah.” Uniknya, meditasi yang dilakukan Descartes merupakan praktik kuno untuk mencapai pengetahuan yang tercatat dalam kitab Weda sekitar 1.500 SM, termasuk tentang energi.

Dalam Filosofi Hindu yang Terbukti lewat Sains

Meditasi yang dilakukan Descartes di perapian selama musim dingin, mirip dengan praktik dalam agama Hindu yang awal mulanya berkembang di wilayah Lembah Indus—sebagai peradaban manusia paling damai yang tercatat dalam sejarah, dan tempat asal-usul spesies ganja india (Cannabis indica). Dalam teks Siwa Purana tercatat bahwa “Kebenaran yang mutlak dan satu-satunya adalah objek dari perenungan atau tapasya (meditasi).”

Selain itu, dalam kosmologi Hindu juga terdapat sifat energi yang kekal dan tak dapat dimusnahkan seperti dalam hukum fisika: disebut sebagai Rudra. Selain disimbolkan sebagai unsur yang menciptakan (menyebabkan) segala semesta, kata “Rudra” dalam bahasa Sanskerta memiliki arti “Yang Mengaum,” yang berkaitan dengan “getaran.”

Di dalam sains, telah terbukti bahwa segala makhluk hidup dan benda mati memiliki gelombang energi atau getaran. Bahkan bentuk atom tunggal paling kecil sekalipun—yang beredar di seisi ruang semesta—memiliki energi potensial seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Jika bukti sains ini—termasuk sifat energi dalam hukum termodinamika—dipertemukan dengan sifat Rudra dalam kosmologi Hindu, maka dapat terlihat kolerasi di antara keduanya: yaitu membuktikan bahwa ada getaran energi dari penyebab yang mengakibatkan (menciptakan) semesta dan seisi kehidupan di dalamnya, baik mahkluk hidup maupun benda mati (dalam fisika disebut sebagai gerakan).

Adapun cara alam menyampaikan pesan kehidupan kepada manusia—yang mengonsumsi sekitar 20% energi dan oksigen harian bagi otaknya untuk berpikir—adalah melalui warna dan bentuk geometrinya yang terstruktur namun penuh warna. Persis seperti yang disampailan Albert Einstein bahwa “Tuhan tidak bermain dadu dengan semesta.”

“God does not play dice with universe.”

“As Above, so Below” : Seperti di Atas, Begitu pun di Bawah

energi membentuk geometri
Bunga bintang biru (Amsonia tabernaemontana) dan hewan bintang laut memiliki bentuk geometri yang sama.

Setelah berkontemplasi beberapa waktu dan kembali memerhatikan alam disekitar, kesadaran bahwa sebenarnya alam membawa pesan kepada manusia melalui bentuk geometrinya, tiba-tiba saja muncul. Bahwa kehidupan di dunia ini, baik di yang hidup di atas tanah maupun di dasar lautan bawah, memiliki bentuk geometri yang terstruktur dan serupa—seperti kemiripan bentuk bunga Amsomnia dengan bintang laut.

Hal ini pun seharusnya juga berlaku dalam ruang sosial, di mana sistem kebijakan yang mengikat kehidupan seluruh warga negara harus memiliki struktur saintifik, matematis, namun dengan keindahan seni seperti pada alam. Sehingga masyarakat di dalamnya dapat hidup sesuai dengan kodrat berdasarkan ilmu pengetahuan yang dibawa oleh alam untuk manusia, yang juga sesuai dengan visi etis agama—yaitu keseimbangan.

Begitu pun dengan sel dalam tubuh manusia yang mengajarkan cara inangnya untuk hidup, termasuk dalam ruang sosial antar organisme. Agar menyadari bahwa janganlah manusia hidup seperti sel kanker dalam tubuh yang menolak untuk beregenerasi, dan pada akhirnya menyebar menjangkiti organ tubuh lainnya.

Apabila keegoisan seperti sel kanker terjadi di kehidupan sosial dalam organisasi (sebagai organ) ataupun negara (sebagai kesatuan tubuh), ia bukan hanya dapat menghancurkan sistem organ ataupun tubuh tetapi juga dapat membunuh jiwa republik.


Referensi tambahan:
-Detecting nanoscale vibrations as signature of life (Kasas, S., Ruggeri. F. S., et al. 2014)

Tinggalkan komentar

Sharing is caring