Tanah yang Sehat sebagai Sumber Kehidupan Vital

Baca Ganja – Penelitian ilmiah menemukan bahwa tanah yang sehat merupakan sumber kehidupan vital yang juga dapat menyelamatkan bumi dari ancaman krisis lingkungan.

tanah yang sehat - bacaganja

Masih banyak yang tidak menyadari bahwa saat ini bumi tengah berada dalam krisis lingkungan jika dilihat dari kurangnya kesadaran sosial masyarakat dalam isu lingkungan; penggunaan plastik yang berlebih dan bahkan sistem pengolahan pertanian yang merusak tanah termasuk penggunaan pupuk kimia.

Dalam teologi diajarkan bahwa seluruh eksistensi makhluk hidup berasal dari debu. Bahkan peneliti menemukan bagaimana debu yang berasal dari Gurun Sahara yang kaya akan fosfor (phosporus) terbawa arah angin bumi untuk menyuburkan kualitas tanah di hutan hujan Amazon. Bukti ilmiah pada debu ini adalah bukti kecil keterhubungan seluruh kehidupan semesta.

Sama seperti sistem endocannabinoid pada manusia yang bersifat homeostatis; yang merupakan mekanisme otomatis untuk mempertahankan kondisi konstan agar tubuh dapat berfungsi dengan normal. Alam pun memiliki mekanisme homeostatis tersebut namun sayangnya manusia sebagai makhluk yang dilengkapi dengan akal pikiran justru mengganggu mekanisme tersebut yang berakhir menjadi kerusakan lingkungan; contohnya adalah bagaimana cara masyarakat mengolah tanah.

Berangkat dari artikel berjudul ‘Feminitas Ganja: Nilai Etis dalam Menemukan Pengetahuan Baru’, telah dijelaskan bagaimana penggunaan pupuk dan pestisida kimia berdampak pada kesehatan tanah karena mengurangi kandungan unsur hara tanah serta mikroorganisme tanah. Ini mengakibatkan hilangnya kemampuan tanah untuk melakukan regenerasi secara alami (self-regenerative).

Hilangnya kemampuan tanah beregenerasi secara alami sama dengan merubah kemampuan tanah yang aktif menjadi pasif sehingga tanah menjadi sakit. Tanah yang sakit menandakan lingkungan yang rusak dan berdampak terhadap krisis iklim.

Peran Tanah terhadap Siklus Karbon

tanah yang sehat

Tanah yang sehat mengandung banyak mikroba atau keanekaragaman hayati mikroorganisme yang penting dalam proses penguraian dan mengubah bahan organik yang mati menjadi nutrisi untuk organisme lain seperti tumbuhan.

Mikroba atau mikroorganisme dalam tanah memanfaatkan karbon organik; seperti kotoran makhluk hidup, dan anorganik; seperti karbon dioksida, sebagai sumber karbon dan energi. Sehingga tanah sehat yang kaya akan mikroba / mikroorganisme juga berperan dalam siklus karbon bumi, melalui siklus keberlangsungan hidup mereka lewat reproduksi.

Dalam siklus karbon bumi, karbon yang menguap ke atmosfer yang dihasilkan oleh emisi karbon akan diserap ke dalam tanah melalui proses fotosintesis tanaman. Karbon ditransfer lewat akar tanaman dan kemudian menjadi sumber energi mikroba dalam tanah untuk bereproduksi dan sebagai pengurai.

Akan tetapi tanah yang rusak, yang mengandung hanya sedikit mikroba / mikroorganisme tidak mampu menyerap karbon dan tentu berdampak terhadap kualitas kesuburan tanah yang mempengaruhi hasil produksi pertanian. Bahkan banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa perusakan kualitas tanah terjadi akibat tata cara sistem pertanian itu sendiri.

Pengolahan Pertanian yang Merusak Kualitas Tanah

Pada umumnya cara yang diterapkan dalam pertanian untuk persiapan lahan adalah dengan sistem olah tanah sempurna. Pengolahan tanah sempurna dimaksudkan agar tanah lebih gembur sehingga aerasi meningkat dan menghilangkan gulma di areal budidaya.

Akan tetapi praktek menggembur tanah dengan sistem pengolahan tanah sempurna justru merusak kualitas tanah. Ini dikarenakan tanah yang digembur akan melepaskan karbon ke atmosfer; sebagai sumber energi yang dibutuhkan mikroba / mikroorganisme tanah.

Tanah yang digembur dengan dalam juga merusak habitat mikroba / mikroorganisme karena langsung terpapar dengan sinar matahari. Selain itu, tanah juga akan kehilangan unsur hara tanah sebagai tolak ukur kualitas tanah yang sehat.

Penggunaan pupuk dan pestisida kimia dalam pertanian juga akan membunuh mikroba dalam tanah, sehingga tanah menjadi pasif karena tidak mampu beregenerasi secara alami dan memerlukan semakin banyak penggunaan pupuk dan pestisida kimia dari waktu ke waktu.

Saat tanah menjadi pasif, maka tanah tidak dapat menyerap karbon sehingga dapat memperburuk krisis iklim bumi yang semakin hari kian nyata. Penggunaan pupuk kimia yang semakin banyak dari waktu ke waktu juga diserap oleh tanaman yang akan dikonsumsi manusia atau makhluk hidup sehingga secara tidak langsung meracuni tubuh.

Semoga penjelasan ilmiah ini memberi kesadaran baru dalam lingkungan sosial masyarakat betapa pentingnya untuk merawat kembali kualitas tanah dengan tidak lagi menggunakan pupuk atau pestisida kimia dan beralih ke organik agar mengembalikan kembali sifat tanah yang aktif; yang mampu beregenerasi secara alamiah dengan bantuan mikroba / mikroorganisme tanah.


Referensi:
-https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4283042/
-https://www.fao.org/3/i4737e/i4737e.pdf
-https://www.sciencedaily.com/releases/2015/02/150224102847.htm

Tinggalkan komentar

Share this not copy