Perjuangan Ganja Tak Sekedar Legalisasi

Baca Ganja – Perjuangan ganja tak hanya sekedar legalisasi, namun juga merupakan perjuangan kemanusiaan dan keadilan. Karena legalisasi tanpa adanya esensi kemanusiaan dan keadilan, hanya akan berdampak pada akumulasi kapitalis.

perjuangan ganja

 

Penulis: Nicolaus Siagian
Editor: bacaganja

Beberapa minggu belakangan ini, beberapa akun organisasi dan aktivis yang mendukung wacana pemanfaatan ganja di Indonesia mulai di banned satu-persatu. Entah ada hubungannya dengan Hari Anti Narkotika tanggal 26 Juni atau tidak. Yang jelas, di dunia maya sedang ada ‘hot issue‘ terkait adanya upaya menghalang-halangi perjuangan pemanfaatan cannabis di negara ini.

Berangkat dari sini, perang terhadap pasar gelap adalah salah satu topik yang sering diangkat, termasuk oleh organisasi yang ‘mitos’ nya ketika kita bicara soal legalisasi maka tidak jauh dari organisasi ini. Dimana mereka pernah dengan lantang mengeluarkan pernyataan apabila ada anggota organisasi yang ikut berkecimpung di pasar gelap, maka mereka sendiri yang akan ikut ‘menghukum’.

Tapi sungguhkah pasar gelap itu perlu kita perangi dan lawan? Atau justru mereka ini salah satu bentuk perlawanan dari para petani yang tak bisa kita pungkiri adalah nadi dan tulang punggung negeri ini? Yang nenek moyangnya sudah menanam ganja bahkan sejak sebelum negara ini dibentuk?

Saat bertandang ke Triggerfingger Hemp.co, Aria sang owner sekaligus pelopor yang sudah banyak makan asam garam di ranah ganja industri di Indonesia ini, berbagi banyak kisah soal warna-warni perjuangan pemanfaatan ganja di luar negeri.

“Bahkan di California yang sudah legal pun, masih ada pasar gelap. Ini disebabkan ketika petani menanam, pemerintah berkali-kali memeriksa kebun untuk mengawasi tinggi tanaman, jumlah bunga yang akan dipanen dan banyak lagi, sehingga akhirnya para petani memilih menanam diam-diam tanpa diketahui pihak berwenang,” pungkas pria yang dinilai tak pernah merasa senior dan eksklusif walaupun sepak terjangnya sudah 11 tahun berjalan.

Hal ini senada dengan penjelasan salah seorang petani ganja yang saya kenal pada 2010, yang menceritakan kalau tanaman ini justru mudah stress saat terlalu sering diusik atau ‘dilongok’. Saat stress, tanaman ganja dapat berkelamin ganda yang dinilai merusak kualitas tanaman ganja itu sendiri — ini merupakan bentuk respon alami tanaman untuk bertahan hidup dan bereproduksi sendiri. Dan hal ini, hanya salah satu problematika yang hadir dalam dunia pertanian ganja.

Baca juga: Diskriminasi ganja adalah bukti bahwa rezim gagal menjalankan fungsi negara

Perjuangan Ganja Bukan Sekedar Legalisasi

Saat ikut serta dalam aksi penyuluhan dan edukasi para petani di berbagai pelosok Indonesia bersama Shaqila dari Yayasan Hemp Indonesia, saya menyadari bahwa permasalahan ‘mafia’ pertanian di negeri ini ternyata bukan persoalan baru, malah bisa dikatakan hal ini merupakan kisah lama yang dalam prakteknya sudah terorganisir dengan baik dan kuat hampir dalam setiap komoditi pertanian.

Saat masuk ke pelosok-pelosok kampung dan hutan, saya mendapati bahwa monopoli kaum kapitalis sudah memasuki sendi-sendi negeri ini begitu dalamnya. Dari tengkulak yang sering ‘memainkan’ harga agar petani enggan menjual ke pihak lain selain kepada mereka, penjualan pupuk yang hanya boleh dilakukan oleh kelompok tertentu, serta pemasungan hak-hak asasi yang tak jarang dilakukan oleh badan pemerintah sendiri. Dan mustahil permasalahan ini nantinya tidak akan menyentuh para petani ganja yang harus kita akui sebenarnya tetap ada, walaupun undang-undang melarang mereka meneruskan tradisi nenek moyang mereka.

Shaqila berulang kali keluar masuk hutan dan desa demi melakukan edukasi dalam cara penanaman hingga bagaimana caranya agar petani punya kuasa saat menentukan pembeli terbaik yang mereka pilih tanpa ‘terpaksa’. Dan berkali-kali juga wanita muda ini harus mengalami irisan dengan para tengkulak tadi, yang juga tidak pernah berhenti dalam melakukan aksinya. Shaqila juga bercerita bahwa tak jarang pupuk yang sering dijual kepada petani adalah pupuk yang justru merusak unsur hara tanah.

Mengutip perkataan Aria, legalisasi tak lain hanyalah irisan kecil dalam penegakan hak asasi manusia. Sudah sepatutnya mereka yang mengklaim dirinya ‘pejuang’ pemanfaatan ganja tidak mengabaikan sisi-sisi lain perjuangan penegakan hak-hak manusia.

Saya sendiri juga mengkhawatirkan akan adanya monopoli oleh pihak tertentu setelah wacana legalisasi terwujud akibat mendapat kabar bahwa ada beberapa oknum dan pengusaha yang sudah ambil ancang-ancang untuk membeli saham perusahaan industri ganja luar negeri dikarenakan arah regulasi yang mungkin akan dikeluarkan Indonesia hanya membolehkan mereka-mereka yang ‘memiliki syarat’ yang boleh menjadi pelaku industri pemanfaatan.

Padahal sejatinya, ‘perjuangan’ ini adalah milik bersama, bukan milik pribadi atau golongan. Sudah saatnya kita kembali ke sifat gotong royong, budaya yang sejak dulu nenek moyang kita miliki. Dan tak layak mereka yang mengklaim dirinya pejuang legalisasi justru berniat jadi bagian dalam monopoli kapitalis yang merusak tadi.

Salam Juang !

Tinggalkan komentar

Share this not copy
Scroll Up