Legalisasi Ganja Membutuhkan Gerakan dan Dukungan Sosial

Baca Ganja –  Isu legalisasi ganja kembali mencuat dan menjadi wacana yang mencuri perhatian pemerintah. Tetapi apakah ada kepastian bahwa isu ini tidak berhenti hanya menjadi sebuah wacana?

legalisasi ganja
Ibu Santi saat aksi demo di CFD, Jakarta (26/6/22).

Aksi demo orangtua bernama Ibu Santi, yang anaknya mengidap Cerebral Palsy pada tanggal 26 Juni 2022, bertepatan diperingati sebagai Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) di Jakarta, telah mencuri perhatian pemerintah dan akhirnya DPR RI memutuskan untuk membuka Rapat Dengar Pendapat pada tanggal 28 Juni 2022. Kemudian pada tanggal 29 Juni 2022, Kemenkes menyatakan akan menerbitkan regulasi akses penelitian ganja untuk kebutuhan medis di Indonesia.

Namun sampai sejauh ini, BNN (Badan Narkotika Nasional) tetap meragukan kajian pemanfaatan ganja untuk kebutuhan medis. Alasan yang digunakan tetap sama seperti pernyataan BNN di tahun 2020, yang menyatakan bahwa tanaman ganja di Indonesia berbeda dengan yang ada di Thailand, maupun negara-negara lain yang melegalkan ganja; karena kadar senyawa psikoaktif THC yang tinggi. Padahal solusinya adalah tinggal melakukan import ganja dengan kadar THC rendah dari negara lain dan lakukan uji coba di Indonesia, karena tercatat Indonesia pernah melakukan impor-eskpor ganja.

Legalisasi Ganja Hanya Bergantung pada Waktu

Legalisasi ganja di Indonesia seolah hanya bergantung pada sang waktu. Kasus Fidelis Arie di tahun 2017 terkait penggunaan ganja yang terbukti ampuh menyembuhkan penyakit alm. Istrinya, seharusnya dapat mengawali untuk memulai riset waktu itu. Tetapi hingga saat ini, riset tak kunjung dilakukan dan akhirnya negara lagi-lagi tidak dapat menyelamatkan warga negaranya bernama Musa, yang ibunya tengah mengajukan permohonan ke Mahkamah Konstitusi agar anaknya yang menderita Cerebral Palsy bisa mendapatkan akses pengobatan ganja.

Legalisasi ganja nyatanya memang hanya bergantung pada waktu. Bahkan narasi dalam dunia legalisasi ganja terlalu dangkal. ‘Kawal sampai legal’ dianggap sebagai motto untuk membangkitkan semangat perjuangan, seolah-olah fungsi warga negara hanya bisa ‘mengkawal’ dan tidak dapat bertindak untuk membantu orang yang membutuhkan pengobatan ganja. Waktu yang dihabiskan untuk ‘mengkawal’ legalisasi ganja akhirnya pun tidak dapat menggantikan harapan orangtua agar anaknya sembuh dari penyakit dan mendapatkan akses pengobatan ganja.

‘Waktu’ yang dimaksud adalah menunggu hasil Keputusan Kebijakan lewat proses politik terkait ganja medis. Mengamati keadaan politik saat ini, terutama menjelang Pencalonan Presiden 2024, akan sangat sulit legalisasi ganja dan harapan orangtua yang anaknya menderita Cerebal Palsy di dengarkan; karena partai-partai sibuk dengan catur politiknya. Meskipun begitu, di lain sisi isu ini juga dapat menjadi kendaraan politik partai yang membutuhkan suara. Tetapi untuk memastikan legalisasi ganja berjalan dengan baik, membutuhkan politik yang mendistribusikan keadlian dengan baik juga.

Agar mengejar ‘waktu’ untuk mempercepat akses mendapatkan pengobatan ganja, di mana harapan orangtua bergantung padanya, maka suara legalisasi ganja membutuhkan sesuatu lebih dari sekedar meng-‘kawal sampai legal’.

Gerakan dan Dukungan Sosial

Awal mula bacaganja dibuat pada tahun 2020 adalah agar setiap orang dapat bebas mengakses literasi dan hasil riset ilmiah tentang ganja. Karena hanya dengan edukasi, kita mampu memahami secara objektif suatu pokok permasalahan, termasuk dalam ganja. Tetapi edukasi bukanlah sesuatu yang privileged (istimewa), karena setiap orang berhak untuk mendapatkan edukasi sebagai alat untuk membantu menentukan dan memilih kebaikan dalam hidupnya yang di bimbing oleh visi etis agama.

Jika menginginkan ganja medis dapat langsung dirasakan orang-orang yang membutuhkan sehingga mereka memiliki pengalaman nyata terhadap ganja, maka edukasi tidaklah cukup membantu. Fungsi edukasi adalah untuk mengakses sumber pengetahuan, tetapi manusia yang akhirnya menentukan. Maka untuk merealisasikannya membutuhkan gerakan manusia dan dukungan sosial yang nyata.

Pada tanggal 9 Juni, di bulan yang sama saat aksi demo Ibu Santi, Thailand telah melegalkan ganja secara penuh dan membebaskan masyarakatnya menanam ganja tanpa batasan. Tapi sebelumnya Thailand telah melegalkan ganja secara medis sejak akhir bulan Desember tahun 2018. Melihat regulasi ganja yang progresif di Thailand, maka kesempatan untuk membantu orang yang membutuhkan pengobatan ganja semakin dekat. Inisiasi ini sekaligus menjadi gerakan awal untuk menyadarkan pemerintah agar memberi perhatian terhadap legalisasi ganja.

Kita mungkin dapat menunggu bergantung pada waktu, tetapi apakah itu lebih berarti besar daripada harapan orangtua atau orang yang membutuhkan pengobatan ganja yang berjuang untuk hidup yang lebih sehat dan wajar? Dan ketika waktu legalisasi ganja telah tiba, masing-masing kita meneriakkan dan merayakannya dengan kepuasan melebihi harapan orangtua yang seumur hidupnya dibalut dalam kecemasan.

Tinggalkan komentar

Share this not copy